Film Dokumenter
Film Dokumenter Dibalik Satu Batang, Menjawab Perdebatan Seputar Kenaikan Cukai Tembakau
Film ini juga berusaha menjawab permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh buruh dan petani tembakau di Indonesia.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Center for Indonesia's Strategic Development Initiatives (CISDI) mempersembahkan film dokumenter yang berusaha menjawab perdebatan seputar kenaikan cukai tembakau, mengampanyekan tentang realita buruh dan petani tembakau dalam ekosistem bisnis rokok, jika dibandingkan pada kenaikan cukai.
Film ini juga berusaha menjawab permasalahan yang sebenarnya dihadapi oleh buruh dan petani tembakau di Indonesia.
Project Lead Tobacco Control CISDI sekaligus sutradara dokumenter, Iman Zein mengungkapkan bahwa, hal paling mendasar kerap muncul pada narasi dari petani dan buruh tembakau adalah kenaikan cukai tembakau. Kenaikan cukai ini ternyata berbanding terbalik dengan temuan dilapangan.
Baca juga: Film Dokumenter Dibalik Satu Batang, Bercerita Tentang Realita Buruh dan Petani Tembakau
Dalam film tersebut juga dijelaskan upah para pekerja tembakau yang hanya mencapai Rp 17 ribu untuk seribu batang.
Kemudian, bagaimana para buruh yang sudah bekerja belasan tahun, namun tetap tidak memiliki jenjang karir yang jelas.
Selain itu faktanya para pekerja kontrak tak memiliki surat menyurat secara resmi, hingga tidak adanya jaminan kesehatan dari perusahaan.
Permasalahan-permasalahan yang pelik, dikemas secara apik dalam film yang ceritakan melalui peran dua tokoh yang tengah bermain catur sambil bercerita.
Elisabeth Jumiati PA, sebagai Koordinator pengendalian tembakau dari Pusaka Indonesia mengatakan bahwa, film ini telah mengedukasi untuk anak muda dengan alur cerita yang mengalir dan memotivasi.
Sementara itu, salah seorang penonton bernama Eko Agus Herianto mahasiswa dari Universitas Negeri Medan mengatakan film dokumenter yang ditontonnya kali ini dikemas sangat aktif, dengan cinematography yang cukup memukau.
Baca juga: Film Karya Anak Sumut, Penerima Anugerah Piala Citra Kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik
“Kita melihat suatu fenomena di masyarakat terkhusus petani tembakau itu tidak sejahtera, karena kita tahu juga bahwa korelasi petani dengan cukai naik tidak sama,” ucap mahasiswa Kota Medan ini.
Ia mengatakan bahwa, petani juga mendapat upah yang minim dan tanpa ada jaminan kesehatan bagi mereka.
“Hilirisasi tembakau juga gak dapat disini, seperti yang mengatur harga tembakau itu para petani gak tahu. Jadi ini merupakan suatu fakta kalau petani masih kurang sejahtera,” tuturnya.
Eko menyangkan tidak adanya narasumber dari perokok dalam film ini, menurutnya sudut pandang dari perokok juga perlu kita dengar bersama.
"Walaupun sebenarnya saya sebagai perokok pasif terkadang ikut resah, harus menghirup asap rokok apalagi di tongkrongan ya," pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pemutaran-Film-Dokumenter-Dibalik-Satu-Batang-di-CGV-Focal-Poin.jpg)