Breaking News

Catatan Musik Tiga Dekade Dewa

Usia 19, Lagu Kangen, Kaus Metal

Mendengarkan nada-nada Dewa, sedikit banyak seperti mendengarkan Toto. Juga Chicago, dan sedikit Joe Satriani pada beberapa solo gitar Andra.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Tribun Medan/Danil Siregar
Kibordis Dewa Ahmad Dhani bersama vokalis Ari Lasso, saat tampil dalam konser Anniversary 30 Years Carier of Dewa 19 di Pardede Hall Medan, Sabtu, 11 Februari 2023. 

SATU hari di akhir 1992, saya menonton program musik di televisi –saya lupa nama acaranya tapi tentu saja pastinya di TVRI– dan mendapati video klip dari band bernama Dewa. Judul lagunya ‘Kangen’, dan seketika saya tergelitik perasaan janggal.

Dalam pandangan saya; yang belum lama beranjak dari usia remaja, yang baru-baru saja tergila-gila pada segala sesuatu yang berkaitpaut dengan heavy metal, apa yang tersuguh dalam klip tersebut merupakan rangkaian kontradiksi: nama band, judul lagu, dan penampilan para personelnya.

Band ini bernama Dewa. Sungguh satu nama yang besar dan agung. Dewa adalah entitas supranatural, sesuatu yang tak terjangkau dan tak terdefenisi, yang menguasai unsur-unsur alam atau aspek-aspek tertentu dalam kehidupan alam semesta.

Apabila dialih-bahasakan bebas ke Inggris, Dewa bisa dimaknai juga sebagai Tuhan.

Waktu itu saya memang belum tahu bahwa Dewa, tiada lain tiada bukan, akronim nama-nama personel band tersebut. D adalah Dhani (Ahmad Dhani Prasetyo), E adalah Erwin (Erwin Prasetya), W adalah Wawan (Setyawan Juniarso Abipraja), dan A adalah Andra (Andra Ramadhan) dan Ari (Ari Bernardus Lasso).

Ketidaktahuan ini membawa saya pada penilaian miring. Sebagai penggemar heavy metal [atau katakan sajalah rock yang “keras” dan “bising”], saya terlanjur merasa tahu perihal sejumlah band yang juga mengusung nama Tuhan. Atau setidaknya yang berhubungan dengan Tuhan, dengan Ketuhanan dan kitab suci, terutama Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru).

Sebutlah Judas Priest, Black Sabbath, Testament, Sepultura, atau yang ketika itu [awal 1990-an] sedang naik daun, Lamb of God dan Nirvana, dedengkot grunge yang tidak 'heavy' tapi tak kalah bising.

Seorang personel Dewa di klip itu, Andra Ramadhan, mengenakan kaus Testament bermotif malaikat pencabut nyawa dari album Souls of Black yang rilis tahun 1990.

Dua personel lain, Ari Lasso dan Wawan Juniarso, juga mengenakan kaus metal. Lasso memakai kaus bergambar wajah Jim Morrison, vokalis The Doors, sedangkan pada Wawan melekat kaus band yang tengah meniti puncak ketenaran lewat album kembar mereka yang fenomenal, Use Your Illusion, Guns N’Roses.

Personel band Dewa berpose untuk video klip lagu 'Kangen' di tahun 1992.
Personel band Dewa berpose untuk video klip lagu 'Kangen' di tahun 1992. (haionline/capture youtube aquarius musikindo)

Jadi begitulah. Testament, The Doors, Guns N’Roses, tapi lagu yang dinyanyikan berjudul ‘Kangen’. Lagu cinta yang serba merayu mendayu-dayu. Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..., alamak oi!

Apa boleh buat, saya pun segera pula membanding-bandingkan Dewa dengan Slank, band yang muncul dan melejit –dan jadi idola baru– dua tahun sebelumnya.

Slank menggebrak lewat lagu ‘Suit-Suit... He-He (Gadis Sexy)’. Sebuah revolusi dalam rock Indonesia. Selain ‘Suit-Suit... He-He (Gadis Sexy)’, yang sekaligus dijadikan judul album, juga terdapat lagu ‘Memang’, ‘Maafkan’, ‘Aku Gila’, ‘Apatis Blues’, dan ‘Ladies Night di Ebony’. Rock yang lebih lepas dan bebas, baik dalam musikalitas maupun lirik. Slank memasukkan idiom-idiom keseharian dalam lirik mereka.

Filosofi ini kian menguat di album kedua, Kampungan, rilis tahun 1991. Saat ‘Kangen’ mulai mengudara, televisi dan –terutama sekali– stasiun-stasiun radio, masih rutin memutar ‘Mawar Merah’ dan ‘Terlalu Manis’, dua hits terbesar dari album tersebut.

Dan kontras, memang. Dibanding hits Slank, 'Kangen' terasa jauh lebih tertib. Musikalitasnya rapi; sangat terukur, dan liriknya ditulis dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, seturut kaidah dalam KBBI.

Saya tidak suka. Saya lebih suka Slank. Lebih suka Power Metal. Lebih suka Roxx, yang bulan Agustus di tahun yang sama, menelurkan album (Black Album) yang antara lain memuat lagu yang kemudian menjadi legendaris, ‘Rock Bergema’.

Namun lagi-lagi saya membuat kesalahan. Seperti pada perkara nama band, kesimpulan untuk tidak menyukai Dewa hanya dengan menggunakan tolok ukur lagu ‘Kangen’ ternyata terlalu terburu-buru.

Kesimpulan baru ini muncul setelah saya mendengarkan lagu-lagu lain di‘19’, album yang memuat ‘Kangen’.

Iya, gebrakan Dewa memang tidak dihadirkan pada ‘Kangen’. Bahkan lagu ini sangat boleh jadi sekadar bentuk kompromi mereka pada “selera umum pasar”. Supaya bisa diterima label rekaman yang butuh lagu manis. Supaya bisa diputar di stasiun-stasiun radio dan nongkrong di program tangga lagu. Supaya bisa masuk televisi.

Gebrakan-gebrakan justru diletupkan pada lagu ‘Selamat Pagi’, ‘Bayang-bayang’, ‘Kita Tidak Sedang Bercinta Lagi’, ‘Rein’, dan ‘Hanya Mimpi’.

Memang, semua lagu ini tetap tidak “terkorelasi” dengan kaus-kaus metal tadi; tak ada jejak Guns N’ Roses, The Doors, terlebih-lebih Testament, tapi Dewa menyajikan suguhan yang tak main-main. Rock yang dahsyat tanpa banyak distorsi. Rock yang kental dengan unsur fusion jazz.

Album pertama Dewa, 19, rilis pada tahun 1992 masih dalam format kaset
Album pertama Dewa, 19, rilis pada tahun 1992 masih dalam format kaset (haionline)

Mendengarkan nada-nada Dewa, sedikit banyak seperti mendengarkan Toto. Juga Chicago, dan sedikit Joe Satriani pada beberapa solo gitar Andra. Dan yang lebih mencengangkan, lagu-lagu ini ditulis dan diaransemen oleh anak-anak muda yang baru berusia 19. Dhani, Erwin, Wawan, Andra, dan Ari Lasso kawan sepermainan. Empat nama pertama saling kenal saat sama-sama bersekolah di SMP Negeri 6 Surabaya.

Saya mengaku salah, dan sejak itu menjadi pengagum Dewa. Sejak itu, walau tidak pernah sampai mendeklarasikan diri sebagai bagian dari Baladewa (kelompok fans Dewa), saya rutin membeli album-album mereka.

Format Masa Depan (1994), tentu saja. Album ini boleh dikata lebih kaya dari ‘19’, dengan pendekatan jazz berpadu rock yang lebih halus. Dhani memasukkan unsur-unsur yang lebih berisik dari rock progressiv.

Di album ini, walau masih malu-malu membungkusnya dengan cinta, Dhani mulai menunjukkan ketertarikannya pada politik. Kuberdiri di sudut demokrasi, kurasakan gemuruh panjang nada-nada sumbang, katanya dalam ‘Sembilan Hari & Liberty’. Atau lirik Kami orang muda yang kaya akan obsesi, mobilitas tinggi, haus reformasi hakiki pada lagu ‘Format Masa Depan’.

Ahmad Dhani, dan Dewa, telah melesatkan kata ‘reformasi’ empat tahun sebelum mahasiswa dan para elite politik (dan sebagian militer) bergerak bersama menumbangkan rezim Suharto.

Album-album selanjutnya juga memaksa kaki saya ke toko kaset. Saya membawa pulang Terbaik Terbaik (1995), Pandawa Lima (1997), Bintang Lima (2000), dan Cintailah Cinta (2002). Plus Ideologi Sikap Otak (1998) dari Ahmad Band, band side project eksperimental bentukan Dhani yang sungguh tiada kalah dahsyat.

Setelah Cintailah Cinta, Dewa sebenarnya mengeluarkan dua album studio lagi, tapi saya tidak membelinya. Saya merasa, di dua album ini, Laskar Cinta (2004) dan Republik Cinta (2006), Dewa tak menawarkan hal baru.

Ketertarikan Dhani kepada Khalil Gibran dan Jalaluddin Rumi, menghasilkan lirik-lirik yang terkesan sufistik. Namun di lain, musikalitasnya cenderung stagnan. Jejak Cintailah Cinta masih terasa kental.

Lalu, setelah mencoba sejumlah eksperimen lain, di antaranya Dewi Dewi, The Rock (kemudian berganti nama menjadi T.R.I.A.D), sampai Andra and The Backbone, Ahmad Dhani mulai melangkah ke panggung politik dan tersesat di sana dengan kegugupan dan kebingungan yang sering kali mencuatkan kekonyolan.

Syukurnya, ketersesatan ini tidak berlangsung lama. Dhani kembali bermusik, kembali bersama Dewa, dengan format yang barangkali tidak terpikir oleh frontman band mana pun di dunia. Dewa kini adalah band tanpa vokalis tetap. Namun mereka punya empat vokalis sekaligus yang siap naik panggung kapan saja di konser-konser besar dan kecil di berbagai kota. Termasuk dua vokalis “asli” mereka, Ari Lasso dan Elfonda Mikel atawa Once.

Vokalis Dewa, Once Mikel, saat tampil dalam konser Anniversary 30 Years Carier of Dewa 19 di Pardede Hall, Medan, Sabtu, 11 Februari 2023
Vokalis Dewa, Once Mikel, saat tampil dalam konser Anniversary 30 Years Carier of Dewa 19 di Pardede Hall, Medan, Sabtu, 11 Februari 2023 (Tribun Medan/Danil Siregar)


Bagaimana tanggapan penggemar musik Tanah Air? Ini yang menakjubkan. Bagaimana tidak. Tiga dekade setelah ‘19’, tiga dekade setelah TVRI menayangkan ‘Kangen’, konser-konser Dewa masih disesaki penonton yang sebagian bahkan belum lahir saat ‘19’ dan ‘Kangen’ pertama kali muncul.

Ini menandakan sekaligus dua perkara sahih: tempat Dhani bukan di panggung politik, dan Dewa, masih, dan memang akan selalu dirindukan.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved