Contoh Soal SNBT 2023
10 Contoh Soal SNBT 2023, Materi Pemahaman Bacaan dan Menulis Beserta Pembahasan
Pemahaman Bacaan dan Menulis merupakan salah satu materi yang akan diujiankan dalam SNBT 2023.
Penulis: Istiqomah Kaloko |
TRIBUN-MEDAN.COM - Pemahaman Bacaan dan Menulis merupakan salah satu materi yang akan diujiankan dalam SNBT 2023.
Materi Pemahaman Bacaan dan Menulis ini masuk dalam Tes Potensi Skolastik.
Terdapat empat komponen yang akan diujikan dalam TPS SNBT 2023, salah satunya adalah tes pemahaman Bacaan dan Menulis.
Tes pemahaman membaca dan menulis ini menekankan pada keterampilan dasar membaca, kelancaran membaca dan keterampilan menulis yang diperlukan untuk memahami dan mengungkapkan pikiran melalui tulisan.
Berikut contoh soal Tes Pemahaman Bacaan dan Menulis SNBT 2023 lengkap dengan jawaban serta pembahasannya.
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 1.
(1) Pada Kamis malam, debit tinggi Sungai Batu Ganda di Kecamatan Lasusua membawa limpasan air ke permukiman warga. (2) Tidak hanya satu sungai, tetapi juga debit sungai di Kecamatan Rante Angin juga naik dan merendam permukiman warga. (3) "Tadi malam ada dua kejadian, yakni di Rante Angin dan di Sungai Batu Ganda. (4) Belum ada korban jiwa yang terdata sampai Jumat pagi,” tutur petugas BPBD Kolaka Utara. (5) Saat ini, pihak daerah setempat sedang fokus untuk mendata warga yang terkena dampak dan mendata daerah yang terisolasi. (6) Petugas BPBD Kolaka Utara dan sejumlah instansi yang terkait pun tengah mengevakuasi dan melakukan pemulihan kepada warga yang terkena dampak banjir. (7) Sebelumnya, banjir bandang dari luapan Sungai Latawaro menerjang Dusun IV, Desa Latawaro, Lambai, Kolaka Utara, pada Kamis dini hari. (8) Sebanyak tiga rumah warga terendam dan satu jembatan tidak bisa dilalui ... ada bagian jembatan yang hanyut akibat terjangan air. (9) Kepala Polsek Rante Angin, Agustian Rante Parabang, menyampaikan bahwa selain merendam rumah dan perkebunan, banjir juga memutuskan akses jembatan sehingga tidak bisa dilalui. (10) Pihaknya telah membuat jembatan darurat agar bisa dilalui kendaraan roda dua. (11) Selain itu, bronjong penahan air yang baru selesai dibangun juga rusak parah karena terkena terjangan air. (12) Bronjong tersebut diketahui baru selesai dikerjakan dengan anggaran ratusan juta. (13) Selain karena hujan deras, Agustian juga berpendapat bahwa aktivitas manusia di bagian hulu juga menyebabkan banjir turut membawa batang dan ranting pohon. (14) Hal tersebut berdampak pada meluapnya air sungai dan menyebabkan banjir bercampur lumpur.
1. Konjungsi yang tepat untuk mengisi bagian rumpang pada kalimat (8) adalah.....
A. apabila
B. tetapi
C. hingga
D. sehingga
E. karena
Jawaban: E. karena
Pembahasan:
Kalimat (8) berbunyi "Sebanyak tiga rumah warga terendam dan satu jembatan tidak bisa dilalui (klausa 1) ... ada bagian jembatan yang hanyut akibat terjangan air (klausa 2)". Kalimat tersebut mengandung informasi sebab dan akibat suatu peristiwa. Klausa 1 merupakan akibat, sedangkan klausa 2 merupakan sebab dari klausa 1. Dengan demikian, konjungsi yang paling tepat digunakan untuk melengkapi kalimat tersebut adalah konjungsi yang menyatakan sebab. Konjungsi yang dapat digunakan untuk melengkapi kalimat tersebut adalah karena dan sebab.
2. Kata yang mengalami makna meluas terdapat pada kalimat berikut, kecuali.....
A. Para tokoh mengajak masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya dengan cerdas dan tanpa tekanan agar kursi di DPR terwakili secara benar.
B. Keutuhan fungsi UN terkait dengan pemetaan indeks kompetensi, kelulusan seleksi, dan perbaikan terhadap infrastruktur sekolah.
C. Para sarjana lingkungan berkumpul di Kanada untuk mengikuti konferensi internasional tentang perubahan iklim.
D. Kapal-kapal Australia berlayar sejak beberapa hari yang lalu mencari kotak hitam pesawat MH370.
E. “Maaf, apakah Bapak tahu gedung induk tempat seminar berlangsung?”
Jawaban: C. Para sarjana lingkungan berkumpul di Kanada untuk mengikuti konferensi internasional tentang perubahan iklim.
Pembahasan :
Sebuah kata dapat mempunyai makna lebih dari satu ketika sebuah kata tersebut digunakan dalam kalimat dengan konteks yang berbeda. Hal tersebut merupakan pergeseran atau perubahan makna dari sebuah kata. Pergeseran makna tersebut dibagi menjadi beberapa jenis, di antaranya makna meluas (generalisasi), makna menyempit (spesialisasi), makna membaik (ameliorasi), dan makna memburuk (peyorasi).
Makna meluas (generalisasi) merupakan proses pergeseran makna yang menyebabkan makna yang baru menjadi lebih luas jika dibandingkan makna sebelumnya.
Makna menyempit (spesialisasi) merupakan proses pergeseran makna yang menyebabkan makna kata yang baru menjadi lebih sempit jika dibandingkan dengan makna sebelumnya.
Kata yang tidak mengalami makna meluas (menyempit) terdapat pada kata sarjana dalam kalimat opsi C: “Para sarjana lingkungan berkumpul di Kanada untuk mengikuti konferensi internasional tentang perubahan iklim.”
Sementara itu, kata kursi (opsi A), sekolah (opsi B), berlayar (opsi D), dan Bapak (opsi E) memiliki makna meluas (generalisasi).
3. Kata yang mengalami makna menyempit terdapat pada kalimat, kecuali.....
A. Bangunan sekolah tersebut sudah lama tidak direnovasi.
B. Para pendeta baru saja mengunjungi lokasi bencana.
C. Kami belajar membaca dan menulis kaligrafi di madrasah.
D. Entah dari mana sumber bau busuk yang tercium oleh mereka.
E. Walaupun sebagai seorang pembantu, dia tidak pernah merasa malu.
Jawaban: A. Bangunan sekolah tersebut sudah lama tidak direnovasi.
Pembahasan:
Kata yang tidak mengalami makna menyempit (meluas) terdapat pada kata sekolah dalam kalimat opsi A: “Bangunan sekolah tersebut sudah lama tidak direnovasi.”
Sementara itu, kata pendeta (opsi B), madrasah (opsi C), bau (opsi D), dan pembantu (opsi E) memiliki makna meluas (generalisasi).
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 4.
(1) Masyarakat sudah mengetahui bahwa program reality show dituding penuh dengan rekayasa atau tipu daya belaka. (2) Artinya, pertunjukan itu sebenarnya tidak menampilkan realitas. (3) Beberapa waktu lalu, netizen membicarakan sebuah reality show karena sebuah kesalahan. (4) Clip on dari salah satu narasumber hilang. (5) Oleh karena itu, jika menurut alur cerita, narasumber yang baru saja ditemui saat itu tidak seharusnya menggunakan clip on.
4. Manakah kata sambung yang salah?
A. ‘bahwa’ pada kalimat (1)
B. ‘jika’ pada kalimat (5)
C. ‘oleh karena itu’ pada kalimat (5)
D. ‘karena’ pada kalimat (3)
E. ‘atau’ pada kalimat (1)
Jawaban: C. ‘oleh karena itu’ pada kalimat (5)
Pembahasan: Kata sambung yang tepat seharusnya adalah ‘padahal’ yang bermakna pertentangan.
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 5.
(1) Penulisan skripsi ditugaskan kepada mahasiswa perguruan tinggi yang ingin mengenyam pendidikan sarjana, pada semester terakhir. (2) Judul skripsi dapat dipilih secara bebas, sepanjang sesuai dengan program studi. (3) Umumnya, mahasiswa akan dibimbing oleh dua instruktur. (4) Bimbingan bertujuan untuk memastikan bahwa mahasiswa mengikuti pedoman, dan aturan. (5) Hal tersebut sangat membantu ketika mahasiswa berjuang dengan penyusunan skripsi.
5. Manakah kalimat yang terbebas dari kesalahan ejaan?
A. 1
B. 2
C. 3
D. 4
E. 5
Jawaban: E. 5
Pembahasan: Jawaban E benar karena tak ada kesalahan baik huruf kapital maupun penempatan tanda baca.
Bacalah teks berikut untuk menjawab soal nomor 6 - 7.
(1) Bahwa banyak laki-laki kerap melakukan sesuatu yang gila atau tidak masuk akal bukanlah rahasia lagi. (2) Daripada perempuan, laki-laki juga diklaim lebih berani dalam bertindak gila. (3) Oleh karena itu, tak hanya kalangan awam, para ilmuwan juga mulai membahas dan mencari tahu alasan di balik hal itu.
(4) Ben Alexander Daniel Lendrem bersama para ahli dari Institute of Cellular Medicine meneliti para nominasi pemenang Darwin Awards—sebuah penghargaan untuk seseorang yang berani melakukan hal-hal gila—sejak 1995 hingga 2014. (5) Dari 318 penerima penghargaan, sebanyak 282 penerimanya (setara dengan 88,7 persen) adalah laki-laki. (6) Berdasarkan hal itu, para peneliti menyimpulkan bahwa laki-laki lebih mungkin untuk terlibat dalam kegiatan berisiko tinggi daripada perempuan.
(7) Terkait alasannya, sebuah penelitian menemukan bahwa laki-laki berani mengambil risiko dalam tindakan gila-gilaan karena hormon testosteron yang dimilikinya. (8) Pada tahun 2011, para peneliti dari Amerika Serikat dan Jerman, juga membenarkan hal tersebut. (9) Testosteron berkontribusi terhadap reaksi berlebihan dan meledak-ledak pada laki-laki. (10) Sementara itu, dari sisi psikologis, hormon testosteron berperan dalam memotivasi laki-laki untuk berbuat sesuatu demi mendapatkan imbalan dari sumber luar. (11) Namun, secara gender, hal itu tidak hanya terjadi pada laki-laki; perempuan yang memiliki kadar testosteron tinggi juga berpotensi mengalami hal yang sama.
6. Agar menjadi logis, kalimat (1) harus diperbaiki dengan cara…..
A. menghilangkan kata banyak
B. menghilangkan kata bahwa
C. mengganti kata kerap dengan sering
D. mengganti kata sesuatu dengan hal
E. meletakkan klausa anak di belakang klausa induk
Jawaban : A. menghilangkan kata banyak
Pembahasan :
Kelogisan termasuk salah satu syarat kalimat efektif. Sebuah kalimat perlu disusun dengan efektif agar maksud yang disampaikan dapat sampai dengan tepat kepada pembaca. Kalimat (1) dalam bacaan pada soal berbunyi Bahwa banyak laki-laki kerap melakukan sesuatu yang gila atau tidak masuk akal (anak kalimat) bukanlah rahasia lagi (induk kalimat). Kalimat tersebut terdiri dari anak kalimat dan induk kalimat. Anak kalimat pada kalimat tersebut diawali dengan konjungsi bahwa. Jika strukturnya dirinci lebih lanjut, anak kalimat tersebut memiliki dua predikat. Berikut adalah rincian struktur kalimatnya.
bahwa → konjungsi (konj.)
banyak → predikat (P)
laki-laki → subjek (S)
kerap melakukan → predikat (P)
sesuatu yang gila atau tidak masuk akal → objek (O)
Pada klausa tersebut terdapat dua predikat, yakni banyak dan kerap melakukan. Padahal, sebuah kalimat yang efektif hanya boleh mengandung satu predikat. Untuk memperbaikinya, kata banyak dapat dihilangkan sehingga klausa anak akan menjadi Bahwa (konj.) laki-laki (S) kerap melakukan (P) sesuatu yang gila atau tidak masuk akal (O). Selain dengan menghilangkan kata banyak, perbaikan juga dapat dilakukan dengan menambahkan kata yang setelah kata laki-laki sehingga klausanya akan menjadi Bahwa (konj.) banyak (P) laki-laki yang kerap melakukan sesuatu yang gila atau tidak masuk akal (S).
7. Apa judul yang tepat untuk bacaan tersebut?
A. Pemenang Darwin Awards Didominasi oleh Laki-Laki
B. Kegilaan Laki-Laki dan Alasan di Baliknya
C. Perbandingan Kegilaan Laki-Laki dan Perempuan
D. Alasan Biologis yang Membuat Laki-Laki Lebih Gila
E. Pengaruh Hormon Testosteron terhadap Kegilaan Laki-Laki
Jawaban : B. Kegilaan Laki-Laki dan Alasan di Baliknya
Pembahasan :
Judul merupakan kepala karangan. Sebuah judul bacaan yang baik harus dapat mewakili keseluruhan isi bacaan. Oleh karena itu, untuk dapat menentukan judul yang tepat, pembaca perlu memahami keseluruhan isi bacaan.
Bacaan yang ada pada soal mengandung tiga paragraf yang saling berkaitan. Paragraf pertama membahas seringnya laki-laki melakukan hal-hal gila. Laki-laki juga diklaim lebih sering bertindak gila daripada perempuan. Pada paragraf kedua, penulis membahas sebuah penelitian yang meneliti kebenaran terkait klaim yang disebut pada paragraf pertama. Hasil penelitian menyebutkan bahwa laki-laki memang cenderung lebih sering bertindak gila daripada perempuan. Lebih lanjut, pada paragraf ketiga, penulis membahas alasan di balik kegilaan laki-laki sebagaimana telah disebutkan pada dua paragraf sebelumnya. Berdasarkan isi bacaan tersebut, dapat disimpulkan bahwa judul yang tepat adalah “Kegilaan Laki-Laki dan Alasan di Baliknya”. Judul tersebut dapat mewakili keseluruhan paragraf yang terdapat pada bacaan.
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 8 - 9
Budaya Korea berkembang pesat dan meluas secara global dalam dua dekade terakhir. Keberadaannya cenderung diterima publik dari berbagai kalangan sehingga menghasilkan suatu fenomena 1“Korean Wave” atau disebut juga Hallyu. Fenomena ini dapat dijumpai di Indonesia dan dampaknya sangat terasa di kehidupan sehari-hari terutama pada generasi milenial. Perkembangan teknologi informasi yang masif akibat adanya globalisasi menjadi faktor utama penyebab besarnya antusiasme publik terhadap budaya Korea di Indonesia. Fenomena ini diawali dan sangat identik dengan dunia hiburan, seperti musik, drama, dan variety shows yang dikemas secara apik dengan menyajikan budaya-budaya Korea.
Salah satu produk dari budaya Korea yang sangat diminati kaum milenial adalah musik pop. Musik pop Korea ini atau yang sering disebut sebagai K-pop merupakan salah satu 2sub-sektor hiburan yang mengangkat perekonomian Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan sendiri memang sudah lama memberi perhatian khusus terhadap industri musik mereka. Akhir dekade 31990’an, ketika sebagian besar Asia mengalami krisis keuangan, Korea Selatan justru membentuk Kementerian Kebudayaan dengan departemen khusus K-pop. Mereka juga membangun auditorium konser raksasa, membuat teknologi hologram lebih sempurna, dan mengatur noeraebang (bar karaoke) demi melindungi industri K-pop. Hal ini menunjukkan kesungguhan 4pemerintah Korea Selatan dalam memberdayakan popularitas artis mereka.
Indonesia yang saat ini merupakan negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia merupakan rumah bagi jutaan K-popers atau pecinta K-pop. Pada tahun 2019, Twitter mengumumkan daftar negara yang paling banyak 5men-tweet terkait artis Kpop sepanjang tahun 2019 dan Indonesia berada pada peringkat 3 setelah Thailand dan Korea Selatan. 6Sementara itu, untuk penayangan video-video K-pop di Youtube berdasarkan negara Indonesia menempati posisi ke-2 dengan persentase 9.9 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan Korea Selatan yang menempati posisi pertama dengan persentase 10.1 % .
8. Apakah kata bernomor (1) perlu diperbaiki? Jika perlu, kata apa yang paling tepat untuk menggantikan kata tersebut?
A. TIDAK PERLU DIPERBAIKI
B. ‘Korean Wave’
C. Korean Wave
D. korean wave
E. korean wave
Jawaban: E. korean wave
Pembahasan:
Penulisan “Korean Wave” pada teks tersebut tidak tepat karena frasa tersebut merupakan sebuah sebutan yang bukan sebuah nama sehingga tidak perlu diawali huruf kapital. Selain itu, tanda petik (“...”) juga tidak perlu digunakan karena frasa tersebut bukan merupakan istilah dengan makna yang bukan sebenarnya. Jadi, penulisan yang tepat adalah korean wave, dituliskan pula dengan huruf miring karena frasa tersebut merupakan bahasa asing.
9. Apakah kata bernomor (2) perlu diperbaiki? Jika perlu, kata apa yang paling tepat untuk menggantikan kata tersebut?
A. TIDAK PERLU DIPERBAIKI
B. subsektor
C. sub sektor
D. sektor
E. sektor bagian
Jawaban: B. subsektor
Pembahasan:
Penulisan sub-sektor pada teks tersebut tidak tepat karena sub merupakan bentuk terikat sehingga penulisannya harus serangkai dengan kata setelahnya. Berdasarkan hal tersebut, penulisan yang tepat adalah subsektor. Kata dengan bentuk terikat yang menggunakan tanda hubung (-) jika kata setelahnya merupakan kata asing atau kata yang dimulai dengan huruf kapital.
Selain itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), penulisan yang tepat adalah subsektor yang memiliki arti bagian sektor; anak sektor.
Teks berikut untuk menjawab soal nomor 10
(1) Kita harus mewaspadai adanya bentuk peperangan asimetris. (2) Sekalipun metode peperangan asimetris dilakukan secara nonmiliter, daya hancur yang dihasilkan perang ini tidak kalah atau bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer. (3) Perang ini memiliki medan atau lapangan tempur luas yang meliputi segala aspek kehidupan, yaitu geografis, demografis, sumber daya alam, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan pertahanan keamanan.
(4) Dalam perang asimetris terdapat tiga tahapan yang memungkinkan kita mengetahui apakah hal tersebut memang perang asimetris atau bukan. (5) Pertama, menebar sebuah isu. (6) Kedua, setelah tahap pertama berhasil, isu ditingkatkan menjadi sebuah tema atau agenda. (7) Ketiga, jika agenda berhasil, barulah skema asli akan keluar.
10. Kalimat manakah yang merupakan simpulan dari isi teks di atas?
A. Kita harus mewaspadai bentuk peperangan asimetris yang polanya dapat dikenali melalui tiga tahap.
B. Segala aspek kehidupan yang dipengaruhi perang asimetris.
C. Tiga tahapan untuk mengetahui apakah suatu hal disebut perang asimetris atau bukan.
D. Indonesia sangat rentan menuju peperangan asimetris yang dampaknya begitu dahsyat.
E. Daya hancur yang lebih dahsyat dari perang asimetris.
Jawaban: A. Kita harus mewaspadai bentuk peperangan asimetris yang polanya dapat dikenali melalui tiga tahap.
Pembahasan:
Simpulan adalah ringkasan informasi inti dalam sebuah teks. Di dalam teks yang terdiri atas dua paragraf atau lebih, simpulan biasanya dapat ditentukan berdasarkan gagasan utama. Gagasan utama teks di atas terdapat pada kalimat (1) dan (4):
(1) kita harus mewaspadai adanya bentuk peperangan asimetris;
(4) dalam perang asimetris terdapat tiga tahapan yang memungkinkan kita mengetahui apakah hal tersebut memang perang asimetris atau bukan.
Simpulan yang tepat berdasarkan gagasan utama di atas ada pada kalimat: kita harus mewaspadai bentuk peperangan asimetris yang polanya dapat dikenali melalui tiga tahap.
(cr31/tribun-medan.com)
Caption: Contoh soal SNBT 2023 Materi Pemahaman Bacaan dan Menulis
Contoh Soal UTBK SNBT 2023 Penalaran Matematika, Cocok Untuk Calon Mahasiswa yang Mau Masuk Unsika |
![]() |
---|
Contoh Soal SNBT 2023 Pengetahuan Kuantitatif, Cocok Untuk Calon Mahasiswa yang Mau Masuk Unpatti |
![]() |
---|
Contoh Soal UTBK SNBT 2023 Materi PPU, Cocok Untuk Calon Mahasiswa yang Mau Masuk Trunojoyo |
![]() |
---|
Contoh Soal UTBK SNBT 2023 Literasi Bahasa Inggris, Cocok Untuk Calon Mahasiswa yang Mau Masuk Untan |
![]() |
---|
Contoh Soal UTBK SNBT 2023 Materi TPS, Cocok Untuk Calon Mahasiswa yang Mau Masuk UNNES |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.