Berita Medan
Nasib Harimau di Sumatera Utara Mengkhawatirkan, Populasi Bertambah Tapi Habitat Berkurang
Disebutnya pencegahan melindungi harimau untuk langkah strategisnya sudah ada rencana aksi, dan penyelamatan harimau secara nasional.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Dalam Perayaan Hari Harimau Internasional 2023 (Global Tiger Day), Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Sumatera Utara, Rudianto Saragih menyampaikan hal-hal yang masih mengkhawatirkan untuk kelangsungan hidup harimau di Sumatera Utara.
Dimana ditemukan penambahan populasi namun habitatnya semakin berkurang.
Disebutnya pencegahan melindungi harimau untuk langkah strategisnya sudah ada rencana aksi, dan penyelamatan harimau secara nasional.
"Sedangkan untuk Sumatera Utara sendiri, kita sudah memetakan lokasi konflik, dan per tahun 2023, kita sudah melakukan survey, hampir di 59 titik untuk memetakan dimana harimau yang memiliki habitat layak untuk dilepas liarkan," ujarnya, dalam Peringatan Global Tiger Day 2023, di Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Sumatera Utara, Kamis (10/8/2023).
Kemudian katanya, selain mencegah konflik atau menyelamatkan harimau, juga bagaimana yang sudah di evakuasi itu dilakukan upaya penyelamatan.
"Jadi yang sudah di evakuasi itu harus ada upaya penyelamatan lanjutan melepaskan mereka di habitatnya," ungkapnya.
Demi memberi ruang untuk melepas liarkan harimau-harimau tersebut, sudah hampir 6 bulan Balai Besar KSDA melakukan survey, dari tahap sebelumnya 3 lokasi di Karo
"Minggu depan direncanakan 4 lokasi, satu didaerah Labuhan Batu, satu di Batang Toru, dan dua di Perbatasan Aceh," tambahnya.
Namun dikatakan Rudianto, ini juga belum tentu hasil surveynya menggembirakan, karena ternyata didalam banyak jerat, dan itu mengkhawatirkan.
"Kemudian hal lain yang dikhawatirkan adalah penerimaan masyarakat. Padahal, kalau semua masyarakat menemukan harimau, kita tangkap lalu kita evakuasi, lalu mau dilepas dimana," katanya.
Disisi lain, kabar gembiranya adalah beberapa kasus ditemukan harimau dengan anaknya.
"Kita banyak temukan, saat survey seperti di dolok serungan, menemukan harimau dengan dua anak. Kita punya sedikit keyakinan ada penambahan individu dari harimau ini," ungkapnya.
Tetapi, disisi lain menjadi problem kedepan, sebab makin banyak populasinya semakin banyak pula teritorialnya.
"Karena harimau ini bukan hewan berkelompok, ini jadi PR, kalau kita nggak dapat habitat untuk mereka hidup, kedepan makin tinggi konflik," pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Kepala-Balai-Besar-Konservasi-Sumber-Daya-Alam-KSDA-Sumatera-Utara-Rudianto-Saragih.jpg)