Sugiat Santoso: Mendukung Edy Rahmayadi 2018 adalah Dosa Terbesar Saya

Saya merasa sangat berdosa sekali ketika tahun 2018, kemarin saya salah satu yang jatuh bangun mendukung Edy Rahmayadi

|
Tribun Medan/Rechtin
Sekretaris DPD Partai Gerindra Provinsi Sumatra Utara, Sugiat Santoso mengatakan lima tahun kepemimpinan Gubernur Sumut Edy Rahmayadi gagal total. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Sekretaris DPD Partai Gerindra Sumatra Utara, Sugiat Santoso mengaku mendukung Edy Rahmayadi sebagai Calon Gubernur Sumut pada Pilkada tahun 2018 adalah dosa terbesarnya.

Sugiat mengatakan, secara pribadi dirinya menyayangkan kepemimpinan Edy Rahmayadi selama lima tahun terakhir.

"Secara pribadi saya tidak lagi (mendukung) lah. Saya merasa sangat berdosa sekali ketika tahun 2018, kemarin saya salah satu yang jatuh bangun mendukung Edy Rahmayadi. Itu termasuk dosa terbesar saya, saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama di 2024," ujar Sugiat dalam diskusi publik dengan tema Refleksi Akhir Masa Kepemimpinan Eramas ( Edy Rahmayadi - Musa Rajekshah ) di Serayu Coffee Medan, Senin (4/9/2023).

Sugiat mengatakan lima tahun kepemimpinan Gubernut Sumut Edy Rahmayadi gagal total.

"Menurut saya selama lima tahun kepemimpinan Edy Rahmayadi dari segala sisi gagal total. Birokrasi carut marut, komunikasi publik parah dan menyakitkan hati," ucapnya.

Dikatakan Sugiat, masyarakat Sumut mulai besok (hari ini) bisa bersyukur karena terbebas dari kepemimpinan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah.

"Kalau hari ini adalah hari terakhir, besok (5 September 2023) kita harus bersyukur bahwa kita sudah lepas. Lima tahun dari kesialan pemimpin yang salah pilih pada pilkada 2018 kemarin. Besok kita bisa berpesta pora atas terlepas dari kesialan itu. Tapi ingat 2024 tidak boleh terulang lagi," katanya.

Sugiat mengatakan, saat 2018, latar belakang Edy Rahmayadi yang merupakan seorang Letnan Jendral dan mantan Pangkostrad, dianggap Gerindra merupakan sosok yang tepat untuk memimpin Sumut . Namun ternyata, lanjut Sugiat, Edy Rahmayadi tidak bisa memenuhi ekspektasi dan tidak mampu menuntaskan persoalan tata kelola birokrasi selama lima tahun memimpin.

"Tata Kelola Birokrasi hancur lebur di tangan Edy Rahmayadi. Sampai lima tahun masih ada kadis yang Plt, dua minggu sebelum ini justru pelantikan terkesan kejar tayang," kritik Sugiat.

Sementara terkait Wakil Gubernur Sumut Musa Rajekshah, Sugiat menyebut efektivitas wakil kepala daerah sangat ditentukan oleh kepala daerahnya.

"Saya tahu betul sejarahnya, Edy Rahmayadi yang minta Ijeck untuk jadi wakilnya. Kalau nggak sama kau jeck enggak mau aku jadi gubernur. Karena Ijeck ini tak ada ambisi politiknya, dia hanya pengusaha dan tokoh masyarakat. Tapi justru di pertengahan masa jabatan ada pecah kongsi, sehingga pemerintahan semakin tidak efektif," ungkapnya.

Melihat Tokoh yang Bantu Prabowo

Sekretaris Gerindra Sumut Sugiat Santoso, menyebut DPD Gerindra Sumut berencana mengusung kader sendiri pada Pilkada 2024.

"Kalau Gerindra kita enggak mau menutup diri. Kita tetap dukung kader. Kita enggak mau lagi kenak tipu, yang bukan kader enggak ada manfaatnya sama kita, apalagi sama masyarakat. Tapi kita fokus di pileg dan pilpres dulu. Kita lihat mana tokoh-tokoh di Sumut yang membantu pemenangan Prabowo Subianto," katanya.

Menurut Sugiat, pihaknya sudah punya catatan tersendiri untuk Gubernur Edy Rahmayadi.

"Untuk Edy Rahmayadi kita sudah punya catatan. Saat deklarasi Anies di PKS dia (Edy) datang, saat AHY ke sini dia bilang dukung jadi presiden. Tapi secara terbuka dia belum pernah mendukung Pak Prabowo Subianto," katanya. (cr14)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved