Harga Bawang Merah

Harga Bawang Merah di Tingkat Petani Anjlok, Petani Lemas

Anjloknya harga komoditas bawang merah di tingkat petani yakni di kisaran Rp 11 ribu per kilogram membuat para petani di Sumut ngeluh

Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/HO
PENGUNJUNG dan warga Desa Lumban Suhi-suhi Toruan memanen bawang merah dalam acara Gotong Royong Bawang Merah, Rabu (4/11/2020). 

TRIBUN-MEDAN.COM,MEDAN- Harga bawang merah di tingkat petani anjlok.

Saat ini, harga bawang merah di tingkat petani berada di kisaran Rp 11 ribu per kilogram.

Anjloknya harga bawang merah ini membuat para petani di Sumut makin lesu. 

"Lemas lah, harganya cuma Rp 11 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram di tingkat petani. Ini karena adanya panen raya yang tidak hanya terjadi di Sumut, tetapi hampir di seluruh sentra produksi di Indonesia, seperti di Solo dan daerah Jawa lainnya," kata Jafar, petani bawang merah di Sumut, Selasa (5/9/2023).

Baca juga: Harga Bawang Merah Anjlok, Petani di Sumut Merugi, Pengamat Sebut Akibat Pasokan Melimpah

Jafar menuturkan, akibat banyaknya ketersediaan bawang merah, para pedagang di pasaran mulai bingung bagaimana caranya menjual bawang merah dengan stok yang melimpah.

"Pelanggan kami saja sudah bingung mau jual bawang merah dari daerah mana, karena banyaknya stok bawang merah dari daerah lain," tuturnya.

Dikatakannya, dengan harga pupuk serta pestisida yang mengalami peningkatan harga, seharusnya komoditas bawang merah paling rendah dijual di harga Rp 15 ribu per kilogram di tingkat petani.

Apalagi jika mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) di tingkat petani, harga bawang merah harusnya mencapai Rp 25.000 per kilogram.

"Kalau dengan harga pupuk sekarang ini dan pestisida, paling tidak harga bawang merah itu Rp 15 ribu per kilogram lah, apalagi sebelum menanam kita harus menaburkan pupuk kompos," ucapnya.

Baca juga: Jokowi Datangi Pasar Brahrang, Sebut Harga Bawang Merah di Kota Binjai Lebih Baik Dibandingkan Jawa

Saat ini, kata Jafar, para petani di Sumatera Utara berinisiatif mengganti pestisida dengan paracetamol untuk memberantas hama agar dapat mengurangi biaya produksi.

"Petani kita sudah agak canggih, kayak hama itu tidak pakai dari pertanian, tetapi pakai paracetamol untuk mengurangi biaya produksi, karena saat ini gangguan hama juga tinggi," tuturnya.

Jafar dan para petani lainnya di Sumut berharap pemerintah dapat memberikan edukasi ataupun sosialisasi terkait cara pengelolaan bawang merah agar bertahan lebih lama setalah dipanen, sehingga harga jual tidak tergantung dengan ketersedian dan tetap stabil.

"Kita para petani di Sumut perlu juga disosialisasikan seperti petani di Jawa yang dapat membuat hasil bawang merah mereka itu awet atau bertahan lama dan kering. Sepertinya kita juga butuh edukasi seperti itu, karena yang petani tahu sekarang ini begitu panen langsung jual, sehingga harganya tidak stabil," ungkapnya.

Baca juga: HARGA Bawang Merah di Medan Naik Tajam, Kini Rp 45 Ribu per Kilogram

Dia juga berharap pemerintah dapat membagikan langsung pupuk subsidi kepada para petani tanpa adanya perantara.

"Kemudian minta tolong lah sama pemerintah, subsidi pupuknya jangan ditahan-tahan lah apalagi masalah pupuk ini jangan lagi dari Poktani, biarkan pemerintah desa dan Koperasi Unit Desa (KUD) yang bekerja, karena mereka yang memahami warganya menanam apa dan berapa kapasitas pupuk pestisida,"

"Biasanya kalau dari kelompok tani itu, misal kelompok tani A dapat kelompok tani B tidak dapat, gitu realita di lapangan," pungkasnya(cr10/Tribun-Medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter  

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved