TRIBUNWIKI
Sansan Pee Wee Gaskins dan Deretan Musisi Lokal Meriahkan Emonite Vol 4
Dengan mendatangkan Sansan Pee Wee Gaskins dan sederet musisi lokal bergenre Emo ini, konser musik bertajuk Emonite Medan Vol 4 itu berlangsung meriah
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Konser musik Emonite, yang memainkan musik Emo ini mendapat antusias tinggi dari para pelaku dan juga penikmat musik tersebut di Medan.
Dengan mendatangkan Sansan Pee Wee Gaskins dan sederet musisi lokal bergenre Emo ini, konser musik bertajuk Emonite Medan Vol 4 itu berlangsung meriah.
Emo adalah gaya musik rock dengan ciri khas musik yang melodius, disertai lirik yang ekspresif dan berisi pengakuan.
Dibanding musik punk, musik emo seringkali lebih soft dan lambat. Ciri khas dari aliran ini yaitu teriakan atau screaming yang keras dan vokalisnya untuk lebih mendapatkan soul emosional dan lagu yang mereka bawakan.
Obo Asmara, Founder Emonite menyampaikan konser musik yang sudah ke empat kalinya digelar di Medan ini, merupakan wadah, atau sebagai bentuk membangkitkan kembali musik emo di Medan.
"Konser Emonite ini sudah yang ke empat kalinya, tujuan khususnya adalah untuk membangkitkan lagi musik Emo di Medan yang sudah mulai redup," ujarnya kepada Tribun Medan, Sabtu (9/9/2023).
Selain itu konser ini juga memberi tahu kepada penikmat musik emo di Medan.
"Jadi kalau kita liat musisi Medan itu udah jarang yang mainkan musik emo, jadi tujuannya membangkitkan kawan-kawan yang bermusik. Juga penikmat musik ini juga tau kalau masih ada wadahnya disini," ungkapnya.
Tak hanya Sansan ada sembilan lokal band yang juga mengisi panggung tersebut.
Deretan musisi yang hadir yakni Gracekelly, Sendogarpu, Avalon Theory, As You Wish, The May's, Gopercents, Next Me Zhanalena, Sundance, Morning Sunday.
"Kita buat acara namanya Emonite Medan volume ke IV, dimana kita mulai di tahun 2022, dan konsisten melaksanakannya di 3 bulan sekali," kata Obo.
Musik Emo ini sendiri bisa dikatakannya adalah genre musik, bisa juga dikatakan lifestyle, atau culture, tidak sama dengan pop punk, tetapi hampir menyerupai.
"Jika dikatakan sama tidak, tapi beririsan, bedanya di warna musik, fashion mirip, tetapi untuk jenis musiknya Emo sedikit lebih keras daripada Pop Punk," jelasnya.
Dikatakannya, pada volume 4 ini mengundang Sansan, karena ia merupakan yang membawa gairah musik Emo di Indonesia.
"Nah, jadi antusias si Killing Me Reunion ini cukup besar dan dia juga punya nama dan bisa dibilang figure Emo lah di Medan sendiri," ujar Obo.
Melihat animo masyarakat di Medan, Obo dan kawan-kawan sendiri cukup terkejut, hal ini terlihat sejak Emonite pertama digelar.
"Perkiraan kita hanya 100 orang tapi ternyata yang hadir lebih dari itu, bahkan anak muda atau gen z juga banyak yang datang," tuturnya.
Obo yang melihat perkembangan Emo sendiri di Medan sejak jaman SMA, merasakan langsung pergerakan naik turunnya musik Emo.
Meskipun begitu, sejauh ini antusias penikmatnya tetap tinggi, walaupun untuk pelaku terlihat ada penurunan.
"Pelaku di Medan masih sangat sedikit, ada pun temen-temen dulu yang muncul kembali, tapi ada juga yang baru mulai, anak-anak kuliah," kata Obo yang sudah aktif menggeluti musik Emo sejak SMA itu.
Harapan Obo, musik Emo ini tetap terjaga, baik itu penikmat maupun pelaku musik, hal itu yang mau sampaikan kepada musisi di Kota Medan melalui event ini.
"Emonite menjadi wadah, ada temennya nih disini, banyak yang satu selera, mudah-mudahan kita bisa bentuk suatu tongkrongan yang besar," pungkasnya.
(cr26/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Konser-musik-Emonite-Medan-Vol-4.jpg)