TRIBUNWIKI

Dibalik Layar Film Lebar Perik Sidua-dua, Menelusuri Perjalanan Jilena dan Max

Dalam tata Bahasa Karo, nama Jilena berangkat dari Mejile yang maknanya cantik, rupawan atau indah.

Tayang:
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Ayu Prasandi
HO
Perjalanan syuting Film Perik Sidua-dua. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN- Film yang berangkat dari lagu Perik Sidua-dua, Ciptaan Rahmatsys Barus menelisik lapisan-lapisan ekosistem Jilena.

Dalam tata Bahasa Karo, nama Jilena berangkat dari Mejile yang maknanya cantik, rupawan atau indah.

Jadi, Ekosistem Jilena dimaksudkan mengenalkan kepada publik nasional maupun internasional tentang keindahan tanah Karo dengan segala dinamika sosial, ekonomi, budaya, politik dan pendidikan yang saling berkelindan.

Produser Film Perik Sidua-dua, Benson Kaban menyampaikan nama Jilena dalam film ini terinspirasi oleh nama kelompok Arisan Perempuan Karo di Cibubur, salah satu pengurusnya Valentine Sembiring.

Sebagai tokoh utama, tumbuh kembang Jilena dipengaruhi berbagai ekosistem yang ada di tanah Karo.

Kompleksitas ekosistem inilah yang mendorong Jilena untuk melakukan perubahan tatanan sosial di kampungnya.

"Permasalahan sosial tentang peletakkan peran di kehidupan akibat perbedaan gender dalam struktur sosial Masyarakat Karo," ujar Benson.

Permasalahan tanah ladang dan hutan yang semakin banyak di kavling-kavling. Perkembangan zaman yang terkadang mengikis nilai-nilai budaya dalam rutinitas sehari-sehari.

Sebagai Perempuan Karo yang berdiaspora, kemudian memutuskan pulang kampung membangun perekonomian di tanah sendiri, ekosistem Jilena dipengaruhi budaya luar tanah Karo dan adat istiadat Karo itu sendiri.

Dalam perjalanan mewujudkan semua cita-citanya ini, tak dapat dihindari cinta tumbuh di Taman Gunung Api Karo.

Proses syuting menuju puncak gelombang, kisah perjalanan Jilena disaksikan banyak mata, baik dari lingkar dalam Tim Produksi maupun lingkar luar yang memiliki keterkaitan terhadap tumbuh kembang proses penciptaan Film ini. Iklim dan cuaca pun turut mematangkannya.

"Hujan membuat kami lebih trengginas beradaptasi dengan cuaca. Seperti halnya Syuting Film Perik Sidua-dua Gelombang 6 pada Sabtu-Senin/16-18 September 2023 di Gardu Pandang Tongging, Desa Tongging Kecamatan Merek, Karo," ceritanya.

Jilena tumbuh dan besar di antara pegunungan dan lembah dengan musim panas dan hujan yang sering beriringan. Dia menjadi sosok yang lembut namun teguh terhadap prinsip perjuangan, energik dan suka dengan pembaharuan tapi tetap patuh pada adat dan tradisi.

Sebagai sosok yang sehari-harinya menikmati hujan dan panas sekaligus ia setia mengikuti zaman namun tak pernah meninggalkan nilai-nilai budaya. 

Sebagai Perempuan hulu, yang selalu didendangkan irama belantara rimba dan gema pegunungan, Jilena terus berjalan bersama sahabat-sahabatnya ke lokasi camping Pulo Silalahi, Desa Silalahi.

Persebaran destinasi wisata di Tanah Karo yang melimpah tak membuat Jilena patah arang. Ia  bersama sahabatnya pun bergerak  ke Desa Suka. Di sini terdapat Museum Djamin Ginting, mengoleksi berbagai artefak dan manuskrip yang mengabarkan betapa kayanya kebudayaan Karo.

Angin gunung dan gema nuri-nuri di Lembah-lembah telah mempertemukan dua tokoh Perempuan Karo sebagai investor Film Perik Sidua-dua Hartalina br Sembiring dan Riahna Djamin Ginting. Mereka hadir di Museum Djamin Ginting untuk menyaksikan dan  terlibat proses syuting film.

"Sebagai Perempuan Karo, energi Jilena yang hendak membangun tata kelola perekonomian berbasis geokultur wisata menarik dua tokoh Perempuan Karo ini untuk ikut ambil bagian," katanya.

Kita ketahui, Riahna Djamin Ginting adalah puteri dari Djamin Ginting yang namanya ditasbihkan sebagai jalan terpanjang di Indonesia, peraih Rekor Muri.

Riahna Djamin Ginting adalah Direktur Utama PT. Amal Tani bergerak dalam usaha perkebunan kelapa sawit dan Pabrik Kelapa Sawit. Beliau juga adalah produser film yang handal, salah satu film nasional yang diproduseri adalah Tiga Nafas Likas.

Kemudian Hartalina br Sembiring adalah sosok pengusaha kawakan dari usia muda yang rendah hati. Di usia 65 tahun sekarang, masih menjalankan usaha tambak udang di Langkat, Kebun Kelapa Sawit dan Pengusaha Ria Foodcourt (Ex Bioskop Ria Berastagi).

Kemudian melanjutkan perjalanan ke Kabanjahe, menuju Siosar puncak 2000 untuk persiapan Syuting hari terakhir di Kafe Surya yang dibangun oleh keluarga Pengungsi Letusan Sinabung. 

Di Siosar, Jilena menyaksikan Kawasan hutan di gunung Sibuaten yang berubah dengan cepat menjadi kompleks villa mewah dan perkampungan.

Alam pikir Jilena bergerak cepat untuk mengembangkan usaha travel tongging ke Kawasan Siosar, apalagi disana adiknya Eben membangun usaha Kafe. 

Sebagai pewaris spirit para perlanja sira, Jilena tak mau berdiam di satu lokasi. Ia melanjutkan perjalanan membawa Max pada syuting film gelombang 7, Jumat-Senin/ 22-25 September 2023.

Jilena semakin memahami potensi-potensi tersimpan di tanah Karo yang dapat dikelola sebagai ujung tombak Pembangunan  tanah Karo yang berbudaya.

Bergerak dari Medan Resort City, Johor dengan tatanan arsitektur bangunan bergaya Eropa. Di sana Jilena dan Max mencoba membaca ulang hubungan yang tercipta antara Indonesia dengan Belanda.

Komunikasi antara dua bangsa yang menciptakan relasi saling menguasai, tapi membutuhkan satu dengan lainnya.

Jilena berkeliling membawa Max naik sampan di kaki Tongging Hills, Bernama Teluk Pea Pira,  Dusun Pea, Desa Sibolangit, Kec. Merek dengan Pantai yang sangat tenang.

Cocok untuk potensi Wisata Taman Air, Renang dengan bermain Ban dan lokasi Camping Ground di tepi pantainya dengan naungan pohon mangga.

Pea Pira artinya tempat bertelur ikan, yang kemudian penulisannya menjadi Pae Pira.

Kesalahan penulisan ini disebabkan sesat karena viralnya tidak dibarengi nama sebenarnya, mulai dari plank pengusaha wisata, Petunjuk Jalan Dishub dan penyebutan para Selebgram, juga media massa.

Jilena dan Max semakin tak terpisahkan dalam perjalanan menyusuri potensi wisata dan budaya di tanah Karo.

Menuju Gajah Bobok di Kawasan Gunung Sibuaten. Menginap di Villa JM di Kompleks Maulana Café. Destinasi yang layak dikembangkan sebagai titik memandang keindahan pegunungan dan danau Toba.

Menuju puncak Syuting yang akan mengambil scene pesta adat pernikahan di Jambur, Jilena dan Max akan melakukan perjalanan syuting kembali pada Jumat-Minggu/ 29 September-1 Oktober 2023 di Danau Toba Hotel sebagai titik pertama Max beristirahat dan menyusun rencana untuk memahami lebih dekat Taman Gunung Api Karo.

"Dari Hotel Danau Toba Medan, Jilena membawa Max bercengkerama dengan para leluhur Karo di Puncak DP, Lembah Sibayak," jelasnya.

Kawasan ini merupakan post vulkanik yang jejaknya dapat dimanfaatkan untuk pengembangan agrowisata, wisata gunung api, wisata Sejarah dan budaya.

Untuk menjadi Perik Sidua-dua, mereka melanjutkan kisah-kisahnya ke arah Gunung Sinabung dan Lau Kawar. Gunung yang meletus berkepanjangan, namun tidak membuat Masyarakat Karo mengemis-ngemis minta belas kasihan.

Destinasi wisata di Kawasan ini juga menjadi target Tongging Travel & Tourism untuk menarik perhatian wisatawan lokal maupun mancanegara berkunjung ke Tanah Karo.

"Ada Erdilo Kafe berada di sebuah gundukan tanah tinggi. Dari lokasi ini, mata kita dimanjakan berbagai panorama yang layak dijadikan monumen dalam kehidupan," katanya.

Diharapkan dari perjalanan Syuting ini Jilena dan Max dapat menjadi Perik Sidua-dua sebagai simbol kesetiaan dan kebersamaan yang dibangun dengan cinta dan cita-cita memajukan kampung halaman.

Perik sidua-dua bisa diartikan burung merpati yang selalu berdua kemanapun berada, dia tak terpisahkan hingga maut menjemput. Sebab merpati tak pernah ingkar janji.

(cr26/tribun-medan.com)

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved