Tribun Wiki

Albertus Soegijapranata, Uskup Agung Pertama yang 100 Persen Katolik dan Indonesia

Albertus Soegijapranata, ia adalah Uskup Agung pertama dari Indonesia yang 100 persen Katolik

Editor: Array A Argus
INTERNET
Albertus Soegijapranata, Uskup Agung pertama di Indonesia 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Albertus Soegijapranata, atau dalam ejaan baru ditulis Sugiyapranata adalah tokoh Katolik Indonesia yang cukup dikenal di masanya.

Ia hidup di akhir masa penjajahan Belanda, dan pendudukan Jepang, serta di awal Kemerdekaan.

Albertus Soegijapranata merupakan Uskup Agung pertama di Indonesia.

Ia dikenal sebagai sosok probumi pertama yang dikenal dengan konsep 100 persem Katolik dan 100 persen Indonesia.

Baca juga: Raja Uti, Perintis Agama Parmalim di Tanah Batak

Albertus Soegijapranata menyandang gelar Monsignor atau yang disingkat MGR.

Albertus Soegijapranata dikenal sebagai sosok pribumi pertama yang menjadi Uskup Agung di Indonesia. Dia juga dikenal dengan konsep, “100 persen Katolik 100 % Indonesia”.

Keluarga Abdi Dalem

Albertus Soegijapranata lahir di Surakarta pada 25 November 1896.

Dia merupakan anak dari abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta.

Soegija lahir dari keluarga muslim.

Kakeknya yang bernama Soepa dikenal sebagai seorang Kiai di zaman itu.

Baca juga: Sisingamangaraja XII, Raja Sekaligus Imam Parmalim yang Dibunuh Belanda

Saat Soegija masih kecil, keluarganya hijrah ke Yogyakarta.

Di sana, sang ayah menjadi abdi dalem Sri Sultan Hamengkubuwono VII.

Kecerdasan Soegija sudah tampak sejak dia masih kecil. Saat itu, dia bersekolah di Sekolah Angka Loro di lingkungan Keraton.

Kecerdasan Soegija menarik perhatian Imam Yesuit, Pr. Frans van Lith atau yang lebih dikenal dengan sapaan Romo Van Lith.

Memasuki tahun 1909, Romo Van Lith meminta Soegija untuk bergabung dengan sekolah Yesuit yang ada di Muntilan, yaitu Kolese Xaverius, sekolah asrama untuk calon guru.

Baca juga: Kisah Santo Matias, Murid Yesus yang Gantikan Sosok Pengkhianat Yudas Iskariot

Kolese Xaverius dulunya adalah Kweekschool yang merupakan sekolah Katolik yang didirikan Romo Van Lith.

Kweekschool diubah menjadi Kolese Xaverius pada tahun 1910, setelah pada tahun 1906 didirikan yayasan yang menaunginya bernama Romasche Catholic (RC) Kweekschool te Moentilan.

Meski berstatus sebagai sekolah Katolik, Kolese Xaverius tidak membatasi muridnya hanya pada anak-anak Katolik saja.

Secara umum sekolah ini membuka diri bagi pribumi, agar mereka mendapatkan pendidikan sebagai upaya untuk memberantas buta huruf.

Soegijapranata mulai mengenyam pendidikan di Kolese Xaverius pada tahun 1909. Di sana dia mulai tertarik dengan ajaran Katolik.

Baca juga: Kisah Santo Yohanes, Murid Yesus Paling Setia yang Pernah Digoreng Hidup-hidup

Menjadi Katolik

Pada tahun 1910, Soegija meminta agar dapat mengikuti pelajaran-pelajaran Katolik.

Permintaan itu awalnya tidak langsung dikabulkan.

Pihak sekolah perlu meminta izin kepada orang tua Soegija untuk dapat mengabulkan permintaan itu.

Namun, orang tua Soegija menolak dan tidak mengizinkan anaknya mempelajari Katolik.

Meski demikian, Soegija sudah bertekad.

Hingga dia tetap diizinkan pihak sekolah untuk belajar Katolik.

Baca juga: Kisah Yudas Iskariot, Murid Yesus yang Jadi Pengkhianat, Tapi Juga Sebagai Rasul

Sejak itu, Soegija mulai mendalami ajaran-ajaran Katolik.

Puncaknya pada tanggal 24 Desember 1910, Soegijapranata dibaptis dan menjadi pemeluk Katolik.

Saat pembaptisan itulah Soegijapranata mendapat nama baptis Albertus.

Hingga saat ini dia dikenal dengan nama Albertus Soegijapranata.

Menjadi Imam Katolik

Albertus Soegijapranata menamatkan pendidikannya di Kolese Xaverius pada tahun 1915.

Keinginannya untuk terus mendalami ajaran Katolik tidak usai dengan selesainya masa pendidikan di Kolese Xaverius, dan berkeinginan menjadi seorang imam.

Maka pada tahun 1916, Soegija pun dikirim ke Gymnasium, Uden, Belanda. Di sana dia mengikuti kegiatan imamat dan mendalami ilmu agama Katolik.

Selain itu, Soegija juga mendapatkan pelajaran bahasa Latin, Yunani, hingga Filsafat, di bawah asuhan Ordo Salib suci, atau Ordo Sanctae Crucis (OSC).

Sejak itu, perjalanan keilmuan Soegija terus berlanjut hingga dia memperdalam ilmu Teologi di Maastricht, Limburg, Belanda.

Di Maastricht inilah pada tahun 1931 Soegija menerima Sakramen Imamat dari Uskup Roermond. Soegija lantas menambah kata pranata pada namanya, hingga menjadi Soegijapranata.

Dua tahun setelah pentahbisan itu, Soegijapranata kembali ke Tanah Air, dan langsung ditugaskan sebagai Pastur Pembantu di Bintaran, lalu diangkat menjadi Pastur Paroki.

Pada tahun 1940, melalui telegram dari Kardinal Giovanni Battista Montini, Soegijapranata diangkat menjadi pemimpin Vikarat Apostolik.

Vikarat Apostolik adalah otoritas kawasan dalam Gereja Katolik Roma yang dibentuk di wilayah yang belum memiliki keuskupan.

Saat itu, Vikarat Apostolik baru ada satu yaitu di Batavia dan dipimpin oleh Mgr. Petrus Wilekens.

Pertumbuhan pemeluk Katolik yang meningkat membuat Mgr. Petrus mengusulkan pembentukan Vikarat Apostolik yang baru.

Dalam telegram itu pula Soegijapranata ditunjuk menjadi Uskup Tituler Danaba. Saat menerima telegram itu, Soegijapranata digambarkan menangis dan tidak percaya.

Meski demikian, Soegija tetap menerima penugasan tersebut.

Pada tanggal 30 September 1940, Soegija pun pergi ke Semarang. Dia dikuduskan oleh Wilekens pada tanggal 6 Oktober 1940, di Gereja Rosario Suci Randusari.

Dengan pentahbisan tersebut, Soegijapranata pun resmi menjadi uskup pribumi pertama di Indonesia.(tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter  

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved