Tribun Wiki
Sutan Sjahrir, Pendiri PSI yang Berusaha Menggulingkan PKI
Sutan Sjahrir, tokoh penting dalam pergerakan perjuangan Indonesia. Ia adalah pendiri Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang ingin menggulingkan PKI
TRIBUN-MEDAN.COM,- Sutan Sjahrir, ia adalah Perdana Menteri pertama Indonesia.
Sutan Sjahrir juga merupakan seorang politikus yang menjadi pemimpin revolusi kemerdekaan.
Dalam karir politiknya, Sutan Sjahrir terlibat dalam pendirian sejumlah partai, seperti Partai Sosialis Indonesia (PSI) dan Partai Nasionalis Indonesia (PNI).
Lantas, bagaimana sosok Sutan Sjahrir sebenarnya? Berikut ulasan singkatnya.
Asli Orang Minangkabau
Sultan Syahrir lahir pada 1 Maret 1909 di Padang Panjang, Sumatera Barat, atau yang sekarang disebut sebagai Koto Gadang, Kabupaten Agam.
Ia merupakan anak pasangan Muhammad Rasyad Maharajo Sutan dan Siti Rabiah.
Ayah Sutan Sjahrir merupakan seorang Hoofd atau Kepala Jaksa Penuntut Umum di Landraad di Medan.
Setelah beranjak dewasa, Sjahrir bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS), sebelum melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), di Medan.
Selama berada di MULO, ia pertama kali diperkenalkan dengan karya penulis seperti Karl May.
Pada tahun 1926, ia melanjutkan pendidikannya di Algemene Middelbare School (AMS), di Bandung, Jawa Barat.
Di sana, ia bergabung dengan Persatuan Teater Pelajar Indonesia (Batovis) sebagai sutradara, penulis, dan aktor.
Penghasilannya dari sana digunakan untuk mendanai 'Universitas Rakyat' (Cahaya), yang merupakan universitas yang didirikan bersama oleh Sjahrir, untuk memerangi buta huruf dan mengumpulkan dana untuk pertunjukan drama patriotik di pedesaan Priangan.
Sjahrir menyelesaikan studinya di AMS pada tahun 1929, dan melanjutkan pendidikannya ke Belanda, setelah mendapat beasiswa.
Aktivisme Kemerdekaan
Sjahrir tiba di Belanda pada tahun 1929, pertama-tama mendaftar di Universitas Amsterdam dan kemudian menjadi mahasiswa hukum di Universitas Leiden.
Dia adalah bagian dari beberapa serikat pekerja di sana.
Sutan Sjahrir sempat menjadi sekretaris Perhimpoenan Indonesia (Perhimpunan Indonesia), sebuah organisasi pelajar Indonesia di Belanda.
Sjahrir juga merupakan salah satu pendiri Jong Indonesie, sebuah perkumpulan pemuda Indonesia sebagai pengganti kebutuhan akan perkumpulan untuk membantu perkembangan pemuda Indonesia untuk generasi selanjutnya, yang kemudian berubah dalam beberapa tahun menjadi Pemuda Indonesia.
Hal ini, khususnya, memainkan peran penting dalam Kongres Pemuda (Sumpah Pemuda), di mana asosiasi tersebut membantu jalannya kongres itu sendiri.
Selama aktivitas politiknya sebagai mahasiswa di Belanda, ia menjadi teman dekat aktivis kemerdekaan senior Mohammad Hatta, yang kemudian menjadi Wakil Presiden Indonesia.
Tahun 1931, Sjahrir membantu mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI).
Sjahrir banyak terlibat dalam Daulat Rajat, surat kabar PNI yang baru.
Dalam waktu yang relatif singkat, ia berkembang dari wakil Hatta menjadi pemimpin politik dan intelektual yang memiliki pendirian sendiri.
Kedua pemimpin tersebut dipenjarakan di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang oleh Belanda pada bulan Maret 1934, dan dihukum karena kegiatan nasionalis pada bulan November 1934, diasingkan ke Boven-Digoel, di mana mereka tiba pada bulan Maret 1935, kemudian ke Banda setahun kemudian, dan tepat sebelum Hindia Belanda jatuh ke tangan Jepang pada tahun 1941.
Menjadi Perdana Menteri
Pada tahun 1945, Sultan Syahrir diangkat sebagai Perdana Menteri pertama Republik Indonesia oleh Presiden Soekarno.
Kemudian, di tahun 1946, Sjahrir memainkan peran penting dalam perundingan Perjanjian Linggadjati.
Karena pemikirannya yang terlalu maju, ia sering disalahpahami dan mulai mendapat musuh politik internal.
Karir politiknya sebagai Perdana Menteri kemudian selesai tahun 1947.
Mendirikan PSI untuk Gulingkan PKI
Pada tahun 1948, atau setahun setelah tidak menjabat lagi sebagai Perdana Menteri, Sjahrir kemudian mendirikan Partai Sosialis Indonesia (PSI).
Partai ini didirkan Sjahrir dengan niat untuk menjegal dan menggulingkan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Meski kecil, partainya sangat berpengaruh pada tahun-tahun awal pasca kemerdekaan, karena keahlian dan tingkat pendidikan tinggi para pemimpinnya.
Namun, kinerja partai tersebut buruk pada pemilu tahun 1955, sebagian karena fakta bahwa daerah pemilihan akar rumput pada saat itu tidak mampu sepenuhnya memahami konsep-konsep sosial demokrasi yang ingin disampaikan oleh Sjahrir.
Memasuki Agustus tahun 1960, PSI kemudian dilarang oleh pemerintahan Soekarno.
Alasannya, karena Sjahrir dianggap sebagai pendukung Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) atau Perjuangan Rakyat Semesta (Permesta).
Tumbang Atas Tuduhan yang tak Pernah Dibuktikan
Berselang dua tahun setelah PSI dibekukan, atau tepatnya pada 1962, Sutan Sjahrir kemudian dipenjarakan pemerintah Soekarno.
Ia dituding sebagai pihak yang terlibat dalam konspirasi pemberontakan.
Namun demikian, pemerintah Soekarno tak pernah mengadilinya.
Selama di penjara, Sutan Sjahrir kemudian menderita darah tinggi.
Tahun 1965, ia kemudian tumbang karena stroke.
Dirinya tak bisa berbicara hingga harus dibawa ke Zurich, Swiss.
Selama di pengasingan, Sutan Sjahrir kemudian meninggal dunia pada tahun 1966.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sutan-Sjahrir-orang-Minangkabau.jpg)