Wanita Tewas di Kos

Kronologi Dugaan Pembunuhan Echa Tampubolon, Tetangga Sempat Dengar Suara Minta Tolong dan Ada Motor

Novi Simatupang, anak pemilik indekos mengatakan teman sebelah kamar korban sempat mendengar suara lirih seperti meminta tolong.

|
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN MEDAN/FREDY SANTOSO
Suasana kamar indekos Echa Tampubolon, wanita asal Balige yang diduga dibunuh di kamar kosnya di Jalan Pelajar, nomor 138, Medan Kota, Senin (4/12/2023). Pintu kamar digaris Polisi dan terkunci. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Novi Simatupang, anak pemilik indekos lokasi ditemukannya Echa Tampubolon mengungkapkan teman sebelah kamar korban bernama Lia sempat mendengar suara lirih seperti meminta tolong.

Suara itu didengar pada Kamis malam pukul 20:00 WIB atau beberapa jam sebelum Echa Tampubolan ditemukan lemas.

Suara itu berulang-ulang didengar saksi sampai akhirnya ia memanggil ibu kost berinisial ELB (63) dari dalam rumah.

Namun ketika mereka berdua mendatangi depan kamar Echa, suara itu tidak terdengar lagi.

Di dekat kamar hanya ada sebuah sepeda motor yang diduga milik pelaku.

Meski begitu, dua saksi ini tak berani memanggil atau mengetuk pintu.

Setelah setengah jam pemilik duduk di depan kamar dan tak ada mendengar suara apapun, maka pemilik indekost pergi keluar selama sekitar satu jam.

Diketahui, Echa tewas diduga akibat dibunuh di dalam kamar indekos nya di Jalan Pelajar nomor 138, Kecamatan Medan Kota.

"Pertama kamar kos sebelahnya lari ke mama saya bilang, ada suara macam minta tolong. Suara seperti sesak nafas begitu. Jadi mama saya datang kemari, dekat kamar kos korban tapi senyap," kata Novi, Senin (4/12/2023).

Lanjut Novi, sepulang ibunya, pemilik kos pun sempat melihat ke arah kamar kos Echa, yang memang berada di paling depan.

Karena tak melihat apapun, ia lantas masuk ke dalam rumah.

Sekitar satu jam kemudian atau sekira pukul 21:30 WIB, pria yang biasa dipanggil Ginting diduga pacar korban berteriak kalau korban kritis.

Disinilah pemilik kos dan beberapa anak kos lainnya mendatangi kamar korban.

Saat dilihat, korban tergeletak di lantai kamarnya tanpa mengenakan pakaian.

Bagian pinggang kebawah hanya ditutup kain selimut, sementara bagian atas bertelanjang dada.

Lanjut Novi, korban saat itu masih bernapas meski kesusahan.

Bahkan ketika didudukkan dan saat dibawa menggunakan mobil masih bernapas.

Namun nyawa korban sudah tidak dapat tertolong. Ketika tiba di rumah sakit dinyatakan meninggal dunia.

"Masih bernyawa. Sudah lemas dia,"ungkapnya.

Echa Tampubolon tinggal di indekost Jalan Pelajar, nomor 138, Kecamatan Medan Kota baru sekitar 2 bulan.

Dari yang diketahui pemilik kos, ia tinggal sendirian.

Pengakuannya korban berjualan pakaian secara online.

Selama ini korban dan pemilik kos juga sempat berinteraksi. Bahkan sempat membantu saat di rumah tersebut mengadakan acara keluarga.

"Mama saya kenal sama korban, sering ngobrol sama mama saya, ke dalam dan bantu mama saya masak. Anaknya baik, baru ada acara keluarga disini dan dia bantu mama saya buat makanan."

Sampai saat ini pemilik kos belum mengetahui siapa terduga pelaku yang membunuh Echa Tampubolon. Mereka tak mau menerka-nerka.

Namun yang pasti, ada sebuah sepeda motor terparkir di depan saat pertama kali terdengar suara korban meminta tolong.

Menurut mereka, itu bukan sepeda motor pria yang akrab dipanggil Ginting.

Tetapi, kata Novi, ketika Ginting datang sekira satu jam kemudian, sepeda motornya diparkirkan agak jauh dari indekost.

Sementara menurut saksi, dia masuk ke kamar dan sempat mengambil air dari kran depan rumah sebanyak dua kali.

Setelah itulah baru ia berteriak dan meminta pertolongan.

"Sepeda motor diletakkan jauh."

(Cr25/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter

Sumber: Tribun Medan
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved