Viral Medsos

SOSOK Wiwin Dwi Jayanti, Guru Juara Sains Lepas Gaji Rp 8 Juta, Pilih Mengajar Dibayar Rp 300 Ribu

Diketahui, Wiwin Dwi Jayanti, baru saja menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ia baru meraih medali emas dalam ajang Sains Merdeka Indonesia 2023.

Editor: AbdiTumanggor
istimewa
Sosok Wiwin Dwi Jayanti, guru juara sains yang melepas gaji Rp 8 juta, tapi malah pilih bergaji Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani. Wiwin Dwi Jayanti melepas karier yang menjanjikan di depannya dan tetap memilih menerjuni dunia pendidikan di sekolah yang menaunginya sejak kecil, yaitu SMA Kristen Bhaitani. Padahal, lulusan S2 Universitas Muhammadiyah jurusan Kimia itu cuma digaji tidak lebih dari Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani. (istimewa) 

TRIBUN-MEDAN.COM -  Sosok Wiwin Dwi Jayanti, guru juara sains yang melepas gaji Rp 8 juta, tapi malah pilih bergaji Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani.

Wiwin Dwi Jayanti melepas karier yang menjanjikan di depannya dan tetap memilih menerjuni dunia pendidikan di sekolah yang menaunginya sejak kecil, yaitu SMA Kristen Bhaitani.

Padahal, lulusan S2 Universitas Muhammadiyah jurusan Kimia itu cuma digaji tidak lebih dari Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani.

Lantas, seperti apa profil SMA Kristen Bhaitani tempat Wiwin mengajar?

Melansir dari laman dapo.kemdikbud.go.id, SMA Kristen Bhaitani berlokasi di JL. RAYA PUTUK - NONGKOJAJAR, Desa Wonosari, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.

Sekolah tersebut saat ini memiliki 7 guru, 6 tendik, 13 PTK dan 29 PD. Fasilitas sekolah ini memiliki 3 ruang kelas, 1 perpustakaan, 1 ruang ibadah, 1 ruang TU, dan beberapa ruangan lain.

SMA Kristen Bhaitani ini juga masih memiliki akreditasi B.

Diketahui, Wiwin Dwi Jayanti, baru saja menorehkan prestasi di tingkat nasional. Ia baru meraih medali emas dalam ajang Sains Merdeka Indonesia 2023.

Wiwin Dwi Jayanti menjadi juara pertama kejuaraan sains antar guru se-Indonesia dalam kompetisi yang digelar oleh National Science and Social Competition (NSSC) Divua Cahaya Prestasi.

Setelah raihan prestasi dalam pendidikan dan karier yang menjanjikan di depannya, Wiwin tetap memilih jadi guru di sekolah yang menaunginya sejak kecil, yaitu SMA Kristen Bhaitani.

Dikutip dari Surya.co.id, Wiwin mengaku merasa bangga bisa menorehkan prestasi yang luar biasa.

Menurutnya, penghargaan di Sains Merdeka dipersembahkan untuk sekolah yang telah memberinya kesempatan untuk mengajar sampai saat ini. “Saya tidak menyangka menjadi juara. Ini pertama kalinya ikut olimpiade antar guru se-Indonesia. Alhamdulillah bisa juara pertama, meski persiapannya terbatas,” ungkap Wiwin, Senin (11/12/2023).

Yang menarik, perempuan berjilbab ini adalah lulusan SMP dan SMA Kristen Bhaitani, dimana ia sekarang mengajar.

Ini adalah lembaga pendidikan yang bernaung dalam yayasan Kristen. Namun, ia tetap percaya diri sebagai seorang Muslim.

Hingga akhirnya, Wiwin berhasil melanjutkan sekolah jenjang sarjana di UM (Universitas Muhammadiyah) jurusan Kimia murni. Bahkan, ia juga berhasil menyelesaikan S2.

Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di beberapa industri termasuk di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Gaji besar yang ditawarkan malah tidak membuatnya betah bekerja di sana.

Dan keputusan berani diambil Wiwin, ia memilih kembali ke sekolah tempat ia menimba ilmu sejak duduk di bangku SMP.

Bahkan ia mengenang bagaimana nyaris tidak bisa melanjutkan sekolah. “Setelah lulus SD orangtua sudah tidak sanggup membiayai SMP. Setelah itu, saya dikasih kesempatan untuk sekolah di sini. Alhamdulillah, saya bisa sampai SMA bahkan sampai sekarang hampir menyelesaikan S3,” tutur Wiwin.

Wiwin mengakui ada kepuasan batin saat memberikan dan berbagi ilmu untuk anak-anak di sekolah. Ia merasa bisa memberikan manfaat untuk anak-anak.

“Kalau mengajar itu bisa dikenal banyak orang,” kelakarnya.

Padahal perbandingan remunerasi yang didapatkannya dari tempat bekerja pertama dengan tempat mengajar sekarang, bak langit dengan bumi. Di tempat bekerja sebelumnya yang memang mentereng, Wiwin bisa mendapat gaji antara Rp 4 juta sampai Rp 8 juta per bulan.

Di SMA Kristen Bhatani ini, Wiwin hanya mendapatkan tidak lebih dari Rp 300.000, namun ia lebih memilih mengabdi sebagai pendidik. “Saya ingin berbakti dan berdedikasi untuk sekolah ini. Makanya, penghargaan ini untuk sekolah ini. Saya bangga bisa ikut memberikan akses pendidikan tanpa membedakan latar belakang mereka,” ungkapnya.

Sementara Kepala Sekolah SMA Kristen Bhatani, Dedi Hariyati menyampaikan terima kasih atas kontribusi yang diberikan oleh mantan muridnya yang disebutnya sangat luar biasa ini.

Pihaknya mengaku bangga atas prestasi mantan murid yang saat ini juga guru di SMA Kristen Bhatani. “Di sekolah ini kami memang menampung bukan hanya siswa Kristen saja, ada Muslim, dan juga Hindu. Mereka kami beri kesempatan melanjutkan sekolah, kami berikan akses pendidikan yang sama, tidak dibedakan,” urainya.

Wiwin Dwi Jayanti, guru juara sains
Sosok Wiwin Dwi Jayanti, guru juara sains yang melepas gaji Rp 8 juta, tapi malah pilih bergaji Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani. Wiwin Dwi Jayanti melepas karier yang menjanjikan di depannya dan tetap memilih menerjuni dunia pendidikan di sekolah yang menaunginya sejak kecil, yaitu SMA Kristen Bhaitani. Padahal, lulusan S2 Universitas Muhammadiyah jurusan Kimia itu cuma digaji tidak lebih dari Rp 300.000 di SMA Kristen Bhaitani. (istimewa)

Berikut fakta-faktanya.

1. Berikan penghargaan pada sekolah

Menurut Wiwin, penghargaan di Sains Merdeka dipersembahkan untuk sekolah yang telah memberinya kesempatan untuk mengajar sampai saat ini. “Saya tidak menyangka menjadi juara. Ini pertama kalinya ikut olimpiade antar guru se-Indonesia. Alhamdulillah bisa juara pertama, meski persiapannya terbatas,” ungkap Wiwin, Senin (11/12/2023).

Yang menarik, perempuan berjilbab ini adalah lulusan SMP dan SMAK Bhaitani, dimana ia sekarang mengajar. Ini adalah lembaga pendidikan yang bernaung dalam yayasan Kristen.

Namun, ia tetap percaya diri sebagai seorang Muslim. Hingga akhirnya, Wiwin berhasil melanjutkan sekolah jenjang sarjana di UM (Universitas Muhammadiyah) jurusan Kimia murni. Bahkan, ia juga berhasil menyelesaikan S2.

2. Wiwin sempat bekerja di tempat lain

Setelah lulus kuliah, ia sempat bekerja di beberapa industri termasuk di BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional). Gaji besar yang ditawarkan malah tidak membuatnya betah bekerja di sana. Dan keputusan berani diambil Wiwin, ia memilih kembali ke sekolah tempat ia menimba ilmu sejak duduk di bangku SMP.

Bahkan ia mengenang bagaimana nyaris tidak bisa melanjutkan sekolah. “Setelah lulus SD orangtua sudah tidak sanggup membiayai SMP. Setelah itu, saya dikasih kesempatan untuk sekolah di sini. Alhamdulillah, saya bisa sampai SMA bahkan sampai sekarang hampir menyelesaikan S3,” tutur Wiwin.

3. Ingin beri manfaat

Wiwin mengakui ada kepuasan batin saat memberikan dan berbagi ilmu untuk anak-anak di sekolah. Ia merasa bisa memberikan manfaat untuk anak-anak. “Kalau mengajar itu bisa dikenal banyak orang,” kelakarnya.

Padahal perbandingan remunerasi yang didapatkannya dari tempat bekerja pertama dengan tempat mengajar sekarang, bak langit dengan bumi. Di tempat bekerja sebelumnya yang memang mentereng, Wiwin bisa mendapat gaji antara Rp 4 juta sampai Rp 8 juta per bulan.

Di SMA Kristen Bhatani ini, Wiwin hanya mendapatkan tidak lebih dari Rp 300.000, namun ia lebih memilih mengabdi sebagai pendidik. “Saya ingin berbakti dan berdedikasi untuk sekolah ini. Makanya, penghargaan ini untuk sekolah ini. Saya bangga bisa ikut memberikan akses pendidikan tanpa membedakan latar belakang mereka,” ungkapnya.

4. Tak punya persiapan ikuti lomba

Melansir laman resmi Kabupaten Pasuruan, Wiwin tidak menyangka dirinya bisa menjaid juara dalam lomba tersebut. Karena saat mengikuti kompetisi, dia mengaku tidak memiliki persiapan apapun. Persiapan lebih memang tidak ada. Berjalan seperti biasa," imbuh perempuan yang juga berprofesi sebagai dosen ini.

5. Dapat info lomba dari teman

Wiwin mengaku, memperoleh informasi kompetisi Sains Merdeka Indonesia 2023 tersebut, 10 Agustus 2023 lalu. Informasi itu diperolehnya dari teman kuliahnya dulu. Dasar penasaran, ia pun memilih untuk ikut berpartisipasi.

"Setelah memperoleh informasi dari teman S1 saya dulu, saya pun bergegas untuk mendaftarkan diri," jelas putri dari pasangan Kasyan dan Siti Maryam ini.

Usai mendaftar, ia pun mengaku tak melakukan persiapan khusus. Aktivitasnya, berjalan seperti biasa. Mengajar di sekolah dan di kampusnya. Ketika ada waktu luang, ia pun menyempatkan untuk baca-baca.

6. Pernah ikuti lomba sains saat SMA

Memang, untuk kompetisi guru, ia baru pertama kali ikut. Namun, saat masih SMA kelas dua, ia pernah ikut Olimpiade Sains Nasional bidang Kimia. Saat itu, ia berhasil menyabet juara 3. "Dulu waktu sekolah, memang pernah ikut olimpiade sains nasional. Tapi baru bisa meraih juara ketiga," kisahnya. 

(*/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter   

Artikel ini telah tayang di Surya.co.id 

Sumber: Surya
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved