Tribun Wiki
Profil Akmal Marhali, Tim Satgas Anti Mafia Sepakbola
Akmal Marhali dikenal sebagai pengamat sepak bola, sekaligus merupakan anggota Tim Satgas Anti Mafia Sepakbola bentukan Erick Thohir
TRIBUN-MEDAN.COM,- Akmal Marhali, pengamat sepakbola sekaligus Koordinator Save Our Soccer (SOS) tengah jadi sorotan.
Akmal Marhali disorot netizen setelah melontarkan pernyataan terkait Jordi Amat yang terlambat mengikuti agenda pemusatan latihan (TC) Timnas Indonesia di Turki.
Menurut Akmal Marhali, keterlambatan Jordi Amat itu karena yang bersangkutan tengah liburan.
Pernyataan ini kemudian beragam respon dari penggemar sepak bola.
Baca juga: Profil Habib Luthfi bin Yahya, Ulama dan Tokoh Tariqah Indonesia
Ada yang menuding bahwa Akmal Marhali memang tidak suka dengan pemain naturalisasi.
Namun, hal itu dibantah Akmal.
Dia mengatakan, informasi itu didapat dari petinggi PSSI.
Namun begitu, Akmal mengatakan sah-sah saja Jordi Amat liburan.
Bisa saja Jordi Amat liburan sembari menjalani pemulihan.
Baca juga: Profil Budi Djiwandono, Keponakan Prabowo Subianto Jadi Sorotan Setelah Menikah
Profil Akmal Marhali
Akmal Marhali lahir pada 20 September 1978.
Saat terjadi Tragedi Kanjuruhan, Akmal menjadi anggota Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) yang ditugaskan mengusut peristiwa tersebut.
Selain itu, ia juga pernah tercatat sebagai CEO Tangerang Wolves FC.
Sebagai pengamat, Akmal Marhali sering memberikan kritikan keras terkait kondisi sepak bola Indonesia.
Baca juga: Profil Kombes Rishian Krisna Budhiaswanto, Kapolresta Kupang Kota yang Dicopot Karena Skandal
Pada 2021, ia pernah mengkritik anggota Exco PSSI soal rencana penghapusan degradasi di Liga 1 2021.
“Kalau belum matang jangan dilempar ke publik. Karena apa, PSSI tidak siap memberikan jawaban,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com (11/5/2021).
Menurutnya, rencana penghapusan degradasi seharusnya dipikirkan dulu oleh PSSI dan bekerja sama dengan PT Liga Indonesia Baru (PT LIB) selaku pelaksana liga.
Akmal juga ikut mengomentari penolakan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Gubernur Bali Wayan Koster atas kedatangan tim nasional Israel pada ajang Piala Dunia U-23.
Baca juga: Profil Ustaz Dasad Latif, Bangun Masjid Hj Sitti Mang, Bentuk Ungkapan Rasa Cinta ke Orangtua
Dilansir dari Kompas.com (29/3/2023), Akmal mengatakan, penolakan itu menimbulkan kerugian bagi Indonesia, terutama para pemain dan pencinta sepak bola nasional karena gagal menjadi bagian dari kompetisi dunia.
Ia juga menuntut Ganjar Pranowo dan Wayan Koster meminta maaf dan bertanggung jawab atas kegaduhan yang terjadi.
Akmal diketahui juga pernah melaporkan rumah judi SBOTOP yang menjadi sponsor Liga 1 2023/2024 ke Bareskrim Polri pada Rabu (12/7/2023).
Menurut datanya, ada tiga pertandingan yang menampilkan sponsor dari rumah judi.
Baca juga: Profil Aiman Witjaksono, Jurnalis yang Kini Jadi Caleg dan TPN Capres
"Orang-orang atau badan hukum yang terlibat dan memberikan izin masuknya rumah judi sebagai sponsor klub Liga 1 harus diproses secara hukum. Polisi harus bertindak tegas," ujarnya, dikutip dari KompasTV (13/7/2023).
Menilik ke 2018, Akmal pernah menuding klub Arema FC dan PSIS Semarang tidak terdegradasi dari Liga 1 karena bantuan orang dalam PSSI.
Arema FC menyelesaikan pertandingan kompetisi Liga 1 dengan finis di urutan keenam dengan koleksi poin 50 poin. Sementara PSIS Semarang berada di peringkat 10 klasemen dengan 46 poin.
Buntut pernyataannya itu, Media Officer (MO) Arema FC, Sudarmaji menuntut Akmal minta maaf karena sudah menuduh pemain klub tersebut curang di Liga 1.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Save-Our-Soccer-dan-anggota-TGIPF-Akmal-Marhali.jpg)