Tribun Wiki
Profil dan Biodata Butet Kartaredjasa, Seniman yang Kritik Pedas Jokowi
Butet Kartaredjasa dikenal sebagai seniman asal Yogyakarta. Kini ia mengkritik pedas Presiden RI, Joko Widodo
TRIBUN-MEDAN.COM,- Butet Kartaredjasa, seniman asal Yogyakarta ini melontarkan kritik pedas terhadap Presiden RI, Joko Widodo.
Kritik itu disampaikan Butet Kartaredjasa ketika dirinya membacakan pantun dalam kampanye akbar pasangan calon presiden-wakil presiden nomor urut 3 yang berlangsung di Wates.
Tidak seperti tokoh ataupun juru kampanye yang menyampaikan orasi.
Butet membaca pantun dengan gaya khas deklamator.
Baca juga: Sosok Abdul Halim Harahap, Tokoh Al Washliyah yang Kini Diabadikan Jadi Nama Jalan
Dikutip dari Kompas.com, pantun yang dibacakan Butet Kartaredjasa itu isinya tajam, langsung tertuju pada Presiden Joko Widodo.
Ia menyorot kegagalan revolusi mental, soal keberpihakan pada salah satu pasangan calon, dan kritik terkait memperdaya konstitusi.
Belum lagi kritik pada proses pemilu yang diwarnai agitasi pasangan calon lewat sembako.
Dalam salah satu bait pantunnya, pemerintah sekarang terkesan tunduk pada konglomerat.
"Seharusnya kita hormati yang memimpin negara. Tapi maaf kita muak karena dia memihak," kata Butet membaca salah satu bait pantun bikinannya, Minggu (28/1/2024).
Baca juga: Sosok Arsyad Thalib Lubis, Pendiri Al Washliyah, Kini Diabadikan Sebagai Nama Jalan
Sebaliknya, pantun Butet menyiratkan puja dan puji bagi Ganjar-Mahfud.
Ia menyebut paslon nomor urut 3 ini tidak tunduk pada konglomerat.
“Kulon Progo bangga punya bandara, melengkapi Jogja yang istimewa. Kita telah berkumpul di sini diikat tali jiwa, terutama Ganjar Mahfud gelorakan Revolusi Cinta," kata Butet di penutup pantun.
Aksi Butet menyusul Yenny Wahid yang sudah lebih dulu terjun ke panggung untuk orasi.
Keduanya sama-sama melontarkan kecaman pada rezim sekarang di hadapan ribuan orang memenuhi alun-alun Wates.
Baca juga: Sosok Guntur Soekarnoputra, Abang Megawati, Dulu Sanjung Jokowi, Kini Malah Mau Beri Hukuman
Profil dan biodata Butet Kartaredjasa
Butet Kartaredjasa lahir di Yogyakarta, Jawa Tengah, Indonesia, pada 21 November 1961.
Ia memiliki nama lengkap Bambang Ekoloyo Butet Kartaredjasa.
Butet Kartaredjasa dikenal sebagai seorang seniman Indonesia.
Memang ia dibesarkan di lingkungan keluarga seniman.
Butet Kartaredjasa merupakan anak dari Bagong Kussudiardjo, seorang seniman legendaris.
Baca juga: Sosok Zakaria Bikin Skenario Jadi Korban Begal Takut Dimarahi Ibu, Padahal HP dan ATM Dipegang Pacar
Selain itu, Butet juga merupakan kakak dari Djaduk Ferianto yang juga berprofesi sebagai seniman.
Butet Kartaredjasa sendiri dikenal sebagai seniman yang bisa menirukan berbagai suara tokoh.
Memang ia sudah memiliki ketertarikan terhadap dunia seni sejak kecil.
Hingga kini, ia masih suka menonton tobong dan membatik.
Karier
Pada awalnya, Butet Kartaredjasa menjadi seorang penggambar vignet.
Selain itu, ia juga menjadi penulis freelance untuk liputan masalah-masalah sosial budaya, baik di media lokal maupun nasional.
Butet juga terjun di dunia seni peran.
Dirinya pernah tergabung dengan berbagai teater mulai tahun 70-an hingga sekarang.
Di televisi, Butet Kartaredjasa pernah memainkan peran sebagai Si Butet Yogya (SBY) dalam Republik Mimpi yang tampil di Metro TV.
Sejak tahun 2010, Butet Kartaredjasa bersama Slamet Rahardjo dan Cak Lontong bermain dalam program Sentilan-Sentilun yang tayang di Metro TV.
Ia juga membintangi berbagai judul film layar lebar.
Bersama Agus Noor dan Djaduk Ferianto, ia menggagas Indonesia Kita pada 2011.
Filmografi
Layar Lebar
Petualangan Sherina (2000)
Banyu Biru (2005)
Koper (2006)
Maskot (2006)
Anak-Anak Borobudur (2007)
Drupadi (2008)
Jagad X Code (2009)
Tiga Doa Tiga Cinta (2009)
Capres (Calo Presiden) (2009)
Seleb Kota Jogja (SKJ) (2010)
Golden Goal (2011)
Soegija (2012)
Nada Untuk Asa (2015)
Televisi
Sentilan Sentilun
Republik Mimpi
Iklan
Honda Supra Fit (2006)
Honda Fit S (2007)
Djarum 76 (2007)
Bintang Toedjoe Masuk Angin (2012)
Monolog
Racun Tembakau (1986)
Lidah Pingsan (1997)
Lidah (Masih) Pingsan (1998)
Benggol Maling (1998)
Raja Rimba Jadi Pawang (1999)
Iblis Nganggur (1999)
Guru Ngambeg (2000)
Mayat Terhormat (2003)
Matinya Toekang Kritik (2006)
Sarimin (2007)
Presiden Guyonan (2008)
Kucing (2010)
(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/profil-Butet-Kartaredjasa.jpg)