Catatan Sepak Bola

Teringat Jawaban Pak Edy

Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUNNEWS
Pemain sekaligus kapten Tim Nasional Indonesia, Muhammad Ferrari berjalan meninggalkan lapangan usai diganjar kartu merah akibat melakukan sikutan pada laga terakhir fase grup ASEAN Mitsubishi Electric Cup (AMEC) 2024 versus Filipina di Stadion Manahan, Solo, Jawa Tengah, Sabtu (21/12/2024). Indonesia gagal melangkah ke semifinal usai ditaklukkan Filipina 0-1. 

TRIBUN-MEDAN.com- Bertahun lalu, saat masih menjabat Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi pernah mengutarakan kalimat yang sungguh ciamik.

Kalimat yang disampaikannya sebagai jawaban atas pertanyaan ‘apakah syarat agar Tim Nasional Indonesia bisa berprestasi mentereng’.

Pak Edy bilang, ‘Tim nasional yang baik? Suporter harus baik, wartawan harus baik’.

Kala itu, saya tergelak.

Betul-betul tergelak, panjang lagi keras.

Dalam pemahaman saya, yang berkelebat seketika, Pak Edy ngawur. 

Ditanya apa, dijawab apa.

Sungguh kacau bin amburadul. Pikir saya, apakah jika suporter baik dan wartawan baik, maka tim nasional akan baik? Bukankah semestinya yang perlu dibenahi [agar baik] adalah kompetisi, jajaran pelatih, pemain, wasit, dan organisasi PSSI sendiri?

Begitulah! Butuh waktu bertahun-tahun bagi saya untuk menyadari betapa jawaban Pak Edy itu benar sekali.

Dia sama sekali tidak ada yang keliru.

Sama sekali tidak ngawur. Tim nasional memang akan jadi baik apabila suporternya baik dan wartawannya juga baik. Persisnya, wartawan dan medianya.

Belakangan kesahihan jawaban ini kian menguat pula. Kita semua tahu Erick Thohir telah melakukan perubahan besar terhadap sepak bola Indonesia.

Boleh dikata mendekati revolusioner.

Ia mengubah pola terapan penanganan, dari semula bottom up jadi sebaliknya.

Memapas pertanyaan sepanjang masa, ‘telur dan ayam duluan mana (?)’, Erick Thohir melakukan pembenahan dari puncak piramida, bukan dari dasarnya. Memulainya dari tim nasional senior.

Premis Erick, Indonesia membutuhkan laju kencang untuk masuk ke tier 2, kelompok 100 besar peringkat FIFA.

Saat ia mulai menjabat Ketua Umum PSSI, Tim Nasional Indonesia terpuruk di posisi 172 pada daftar peringkat FIFA, tier 4. Strata bawah yang mengharuskan Indonesia memulai perjalanan menuju Piala Dunia 2026 dari kualifikasi ronde pertama, menghadapi Brunei Darussalam.

Kelompok-kelompok yang tidak menyukai Erick [tentu yang begini selalu ada], menentang langkah ini.

Dalam pandangan mereka, perbaikan sepak bola Indonesia tetap harus dimulai dari bawah lalu pelan-pelan bergerak ke atas. Dari pembibitan di sektor akar rumput. 

Erick bergeming. Dalam banyak kesempatan ia menyebut, metode begini sudah dicoba berpuluh-puluh tahun dan hasilnya nol besar.

Bukan membaik malah tambah rusak. Maka harus diambil langkah pembeda. Apalagi, sebutnya, di negeri terkasih ini, yang masih menjadi orientasi adalah hasil.

Makin cepat dapat hasil makin baik. Tak terkecuali dalam sepak bola.

Jika tidak tropi kejuaraan, setidak-tidaknya dari sisi penampilan tidak memalukan. 

Tidak terus-menerus jadi bulan-bulanan. 

Erick pun jalan terus. Ia bekerja cepat memperbaiki kualitas tim nasional, memperkaya skuat dengan pemain-pemain diaspora, pemain-pemain keturunan; half-blood, yang dikembalikan status kewarganegaraannya lewat program naturalisasi.

Langkah yang tidak baru-baru amat, sebenarnya. 

Naturalisasi sudah dilakukan sejak era kepemimpinan Nurdin Halid. Bedanya, Erick “merekrut” pemain-pemain dari kelas yang lebih di atas. Pemain-pemain grade B dan A.  

Bukan pemain-pemain yang dicomot sembarang. Reputasi Erick Thohir sebagai “pemain lama” –dan cukup terhormat– di kancah sepak bola Eropa, menjadi magnet yang besar bagi pemain-pemain tersebut untuk datang dan bergabung dengan Indonesia –rela melepas kewarganegaraan lamanya.

Sejauh ini hasil “revolusi” Erick Thohir lumayan cemerlang. Indonesia menembus level Asia di semua kelompok usia, nyaris lolos Olimpiade, dan sampai sejauh ini masih memiliki peluang untuk terbang ke Amerika, Meksiko dan Kanada tahun 2026.

Iya, sampai match day enam kualifikasi tiga, Indonesia bercokol di posisi tiga, satu strip di bawah peringkat yang menyediakan tiket untuk lolos langsung ke Piala Dunia.

Jika Maret 2025 nanti, Indonesia bisa –paling tidak– menahan imbang Australia dan menekuk Bahrain, maka secara hitung-hitungan, Piala Dunia bukan lagi sebatas mimpi erotis. Piala Dunia benar-benar berada di depan mata dan bisa digapai.

Bukankah ini luar biasa? Layangkan ingatan ke era Nurdin Halid, era La Nyalla Mattaliti, era Edy Rahmayadi dan era Mochamad Iriawan atawa Iwan Bule, maka rasa-rasanya diksi ‘luar biasa’ terlalu sederhana.

Di era-era ini, Piala Dunia dan kualifikasinya nyaris tidak pernah jadi atensi besar para pecinta sepak bola Indonesia. Ajang yang sama sekali tak dinanti.

Iya, wajar, apalah gunanya menanti sesuatu yang tidak menjanjikan harapan dan hanya akan berbuntut kecewa, bukan?

Piala Dunia terlalu jauh untuk dijangkau. Maka bagi Indonesia, cukuplah SEA Games dan AFF Cup, turnamen antar negara-negara ASEAN yang hanya dilirik sekilas pintas oleh FIFA.

Turnamen yang menyediakan hadiah kecil dan tambahan poin FIFA yang juga sama kecilnya.

Bertahun-tahun, Indonesia menaruh harap di turnamen ini dan bertahun-tahun pula hanya berakhir sebagai kegagalan. Paling mentok runner up.

Sampai di sini tentu muncul pertanyaan, apa korelasi celoteh panjang lebar ini dengan jawaban Pak Edy? Di tangan Erick Thohir, di tangan Shin Tae-yong, juga Indra Syafri dan Nova Arianto, tim-tim nasional sudah baik.

Namun kebaikan ini, masih kerap mengalami guncangan, justru lantaran ulah suporter dan wartawan.

Iya, ini barangkali sebangsa self-correction juga. Di era “medsos-AI-isme” yang serba cepat menggebu-gebu, media memang dituntut untuk ikut menekan gas dalam-dalam.

Ibarat mobil, mesin-mesin media harus di-tune-up, diberi tambahan kekuatan, kalau perlu ditanamkan perangkat turbo dan NOS.

Media saling berlomba cepat menyajikan berita-berita menarik, yang sungguh celaka, oleh beberapa di antaranya (untuk tidak mengatakan sebagian besar) dipahami sebagai ‘berita sensasional’. Termasuk di ranah sepak bola.

Tengoklah yang mencuat dalam beberapa hari terakhir.

Sensasionalitas berita, secara menakjubkan, bisa mengubah opini terhadap Tim Nasional Indonesia yang turun di ajang AFF 2024 –kini bernama ASEAN Mitsubishi Electric Cup (AMEC).

Media, dan wartawannya tentu saja, sedemikian rupa menggoreng-goreng potongan-potongan kalimat Erick Thohir dan Shin Tae-yong, juga anggota Executive Committee (Exco) Arya Sinulingga, bahkan para pengamat sepak bola macam Justin Sulaksana dan Tomy Welly.

Kalimat-kalimat mereka, yang sebenarnya itu ke itu saja, diputar-putarkan dijungkirbalikkan hingga menjadi berita-berita yang secara konteks jauh berbeda dari yang dimaksudkan, hingga membuat situasi yang semula cenderung adem ayem berubah jadi panas membara.

AMEC seolah dikesankan sebagai kejuaraan "Maha Penting", yang bahkan lebih tinggi stratanya dari Piala Asia dan bahkan Piala Dunia.

Di sisi lain, tak sedikit yang menggosok-gosok soal marwah, soal harga diri bangsa; bahwa setelah sekian lama, Indonesia tidak juga menjadi kampiun. Narasinya, 'masak sama Malaysia saja kalah?'.

Belakangan, muncul yang rada-rada gawat. Ada yang mengusulkan agar hasil AMEC jadi ajang evaluasi bagi Shin Tae-yong. Jika gagal bawa Indonesia juara, dia harus angkat kaki.

Situasi begini, disadari atau tidak, mengganggu konsentrasi tim.

Shin Tae-yong mungkin memang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Mungkin tidak paham kosa kata Bahasa Indonesia. Terlebih-lebih yang nyelekit nyeleneh.

Namun dia punya rekan-rekan, punya penterjemah, yang bisa saja membisikkan perkembangan-perkembangan ini kepadanya.

Pun pemain.

Atas nama profesionalisme boleh jadi mereka tidak membuka media sosial selama turnamen berlangsung, tapi kerabat, teman, atau orang-orang terdekat mereka pasti buka dan bukan tak mungkin pula menyampaikan kabar.

Padahal sejak jauh hari PSSI dan Shin Tae-yong telah secara terang-benderang menyampaikan Indonesia mengirimkan skuat muda ke AMEC.

Tujuannya jelas. Pertama, mempersiapkan skuad pelapis untuk berlaga di SEA Games 2025 dan Kualifikasi Piala Asia U-23, serta memberikan caps untuk pemain-pemain baru, yang potensial untuk menjadi bagian dari skuad senior di masa mendatang.

Tujuan-tujuan ini, terutama yang kedua, sudah tercapai.

Dari para debutan yang dipanggil Shin Tae-yong, enam di antaranya sudah menjalani debut untuk tim nasional.

Bahkan saat menghadapi Vietnam yang notabene menurunkan skuad utama, STY memberi kepercayaan kepada tiga pemain debutan sekaligus; Mikael Alfredo Tata, Achmad Maulana Syarif, dan Rivaldo Pakpahan.

Di laga sebelumnya, Shin Tae-yong memilih Victor Dethan, Alfriyanto Nico, Cahya Supriadi, Daffa Fasya, dan Arkhan Kaka yang baru berusia 17.

Sekali lagi, tujuan sudah tercapai. Tim nasional sudah baik.

Namun berbelok menjadi tak baik lantaran koprol-koprol berita yang ditulis wartawan dan ditayangkan media, terutama yang turut pula dipancarluaskan lewat media sosial dengan narasi yang rata-rata serba tanggung tak utuh, yang kemudian dimamah dengan cara teramat menyedihkan oleh sebagian suporter Indonesia yang sejak lama memang memiliki tabiat ngamukan, tak sabaran, dan selalu merasa paling benar.

(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved