Sumut Terkini
Lagu Sukatani Bayar Bayar Polisi Menggema saat Mahasiswa Sumut Demo ke DPRD
Mahasiswa menari berputar mengitari api saat lagu Sukatani diputar dengan pengeras suara.
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Ratusan mahasiswa dari Universitas Sumatera Utara dan Universitas Negeri Medan mengelar aksi unjuk rasa ke gedung DPRD Sumut.
Lagu Band Sukatani, berjudul Bayar Bayar Bayar' mengiringi aksi saat nyala bakaran api berkobar, di depan DPRD Sumatera Utara, Kota Medan, Jumat (21/2/2025).
Mahasiswa menari berputar mengitari api saat lagu Sukatani diputar dengan pengeras suara.
Di saat bersamaan, Ade, aktivis HMI dari USU, berorasi tentang kebebasan seni dan berekspresi, yang harus diberikan kemerdekaan bagi setiap individu atau kelompok.
"Mau bikin SIM bayar polisi
Ketilang di jalan bayar polisi
Touring motor gede bayar polisi
Angkot mau ngetem bayar polisi,
Mau bikin gigs bayar polisi
Lapor barang hilang bayar polisi
Masuk ke penjara bayar polisi
Keluar penjara bayar polisi
Aduh aduh ku tak punya uang
Untuk bisa bayar polisi
Mau korupsi bayar polisi
Mau gusur rumah bayar polisi
Mau babat hutan bayar polisi
Mau jadi polisi bayar polisi," gema nyanyian lagu Sukatani.
Ade kecewa, baru-baru ini aktivis hingga seniman yang mendapati tindakan pembungkaman dan intimidasi.
Seperti pembredelan terhadap karya seniman Yos Suprapto hingga intervensi terhadap lagu Band Sukatani yang mengkritisi kepolisian.
"Biarkan seni dan demokrasi merdeka, mereka menyuarakan kebenaran melalui karya seni," ujar Ade di atas pikap.
Akibat pelarangan lagu Sukatani, simpati terus bergulir kepada personel, hingga menjadikan lagu tersebut viral dan menggema di sosial media dan gelaran aksi unjuk rasa di jalanan.
Aparat dinilai blunder dengan pembungkaman lagu Bayar Bayar Bayar mengkritik polisi.
Diketahui Band Sukatani asal Purbalingga, Jawa Tengah, baru-baru ini menjadi pusat perhatian setelah mengeluarkan permintaan maaf kepada institusi Polri.
Dalam pernyataannya, band ini mengungkapkan bahwa lagu tersebut diciptakan sebagai kritik terhadap oknum kepolisian yang dianggap melanggar aturan.
Amatan Tribun-Medan.com, massa aksi datang dengan dua pikap yang membawa pengeras suara.
Massa datang bergelombang dari USU dan UNIMED.
Aksi dikawal ratusan polisi. Pengaman mendapat tambahan dari Satpol PP yang berjaga di depan pagar DPRD Sumut.
Muzammil Ihsan selaku pimpinan aksi menyampaikan, aksi sebagai rentetan aksi Indonesia Gelap. Ada beberapa tuntutan yang disampaikan.
"Pertama, mengevaluasi dan mengkawal inpres No 1 tahun 2025 tentang Efisiensi Belanja APBD dan APBN," kata Ihsan.
Kedua, mensahkan RUU Perampasan Aset. Ketiga, mengevaluasi program MBG secara sistemik. Keempat, mencabut UU yang mengancam independensi KPK.
Kelima, membatalkan revisi UU TNI/Polri yang memungkinkan terjadinya dwi fungsi ABRI. Keenam, memastikan setiap kebijakan melalui kajian ilmiah dan meaningful participation, " pungkasnya.
(Dyk/Tribun-Medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Pra-POPNAS 2026 Resmi Dibatalkan, PJSI Sumut Soroti Dampak pada Pembinaan Atlet Muda |
|
|---|
| Proyek Pembangunan Pipa Transmisi Gas Dumai-Sei Mangkei Dibangun, Target Selesai Dua Tahun |
|
|---|
| Pemko tak Akan Laporkan Massa yang Robohkan Pagar Kantor Wali Kota Binjai |
|
|---|
| Dua Hari tak Masuk Kerja, PNS Kelurahan Tewas di Rumah, Kondisi Tubuh Membengkak |
|
|---|
| Pasca 6 Bulan Bencana, Pendataan BNBA Tak Kunjung Rampung di Tapteng, Ini Kata Pj Sekda Sumut |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/DEMO-MAHASISWA-Demo-Aliansi-Mahasiswa-Sumut.jpg)