Berita Internasional
Remaja 14 Tahun Bunuh Seluruh Anggota Keluarganya secara Sadis
Seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun bernama Mason Sisk mengguncang publik setelah membunuh seluruh anggota keluarganya sendiri.
Penulis: Istiqomah Kaloko | Editor: Randy P.F Hutagaol
TRIBUN-MEDAN.com - Seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun bernama Mason Sisk mengguncang publik setelah membunuh seluruh anggota keluarganya sendiri secara brutal.
Tindak pembunuhan ini terjadi setelah ia diduga mengetahui bahwa ibu yang selama ini merawatnya bukanlah ibu kandungnya.
Dikutip dari Dailystar.co.uk Minggu (1/6/2025), peristiwa mengerikan ini terjadi pada 2 September 2019 di sebuah kota kecil bernama Elkmont, Alabama, Amerika Serikat.
Dalam insiden tersebut, Mason membunuh ayah kandungnya, ibu tirinya, dan tiga saudara tirinya yang masih kecil.
Korban adalah John Sisk (38), Mary Sisk (35), Grayson (6), Aurora (4), dan Colson yang masih berusia enam bulan.
Berdasarkan laporan The Mirror, John adalah seorang teknisi di dealer mobil dan mantan penata rambut.
Sementara Mary, ibu tiri Mason, bekerja sebagai guru pendidikan khusus.
Meskipun bukan ibu kandung, Mary telah merawat Mason sejak usia empat tahun dan memperlakukannya seperti anak sendiri.
Dalam profil pengajarnya di internet, Mary pernah menulis, “Saya bahagia menikah dengan suami yang hebat dan memiliki empat anak yang luar biasa.”
Namun, suasana keluarga yang terlihat harmonis tersebut runtuh seketika malam itu.
Sekitar pukul 23.00 waktu setempat, Mason menghubungi layanan darurat 911 dan melaporkan telah terjadi penembakan.
Ia mengklaim tengah bermain gim di ruang bawah tanah ketika mendengar suara tembakan dan melihat sebuah kendaraan meninggalkan rumah.
Petugas yang tiba di lokasi menemukan John, Mary, dan ketiga anak mereka tewas akibat luka tembak di kepala.
John dan Grayson sempat dilarikan ke rumah sakit namun nyawanya tak tertolong.
Sementara Mary, Aurora, dan bayi Colson meninggal di tempat kejadian.
Awalnya Mason memberikan berbagai keterangan yang berbelit-belit kepada petugas.
Namun dalam penyelidikan lebih lanjut, ia akhirnya mengaku sebagai pelaku pembunuhan.
Ia juga menunjukkan lokasi senjata yang digunakan, yaitu pistol yang ia curi saat berlibur ke Florida bersama keluarga.
Dalam pengakuannya, Mason menyebut dirinya muak dengan pertengkaran dalam keluarganya.
“Maaf, saya telah berbohong kepada kalian,” katanya dengan tenang kepada petugas.
Selama proses penahanan, petugas pembinaan menyatakan bahwa Mason tidak menunjukkan penyesalan dan tak pernah membicarakan keluarganya.
Ia juga dilaporkan mengirim pesan-pesan mengerikan dari balik penjara kepada pacarnya, mengaku mahir menggunakan senjata, bahkan menyatakan ingin menjadi pembunuh bayaran.
Pada malam pembunuhan, ia sempat menelepon pacarnya empat kali sebelum akhirnya menghubungi 911.
Karena usianya yang baru 14 tahun saat kejadian, Mason tidak dapat dijatuhi hukuman mati.
Namun, karena tingkat keparahan kejahatannya, ia tetap diadili sebagai orang dewasa.
Persidangan sempat dimulai pada tahun 2022, namun dinyatakan mistrial setelah ponsel milik Mary berhasil dibuka oleh FBI dan ditemukan bukti tambahan.
Persidangan ulang digelar pada tahun 2023. Jaksa penuntut menyebut bahwa Mason memiliki masalah dalam mengendalikan amarah dan telah merencanakan pembunuhan tersebut dengan sengaja.
Terdapat dugaan ketegangan antara Mason dan ayahnya, yang kemudian berimbas pada kemarahan terhadap seluruh keluarga.
Pada April 2024, Mason Sisk dinyatakan bersalah atas empat dakwaan pembunuhan tingkat tinggi.
Dalam sidang pembacaan dampak korban tiga bulan kemudian, keluarga Mary menyampaikan kesedihan dan kehilangan yang mendalam.
“Kami belum bisa tenang selama bertahun-tahun karena perbuatanmu,” ujar Douglas Prater, kakak Mary.
“Kami menerima kamu sebagai bagian dari keluarga. Saya kehilangan adik perempuan saya. Dia mencintaimu, dan kamu membunuhnya,” sambungnya.
Hakim kemudian menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.
Dalam putusannya, hakim menyatakan tidak ditemukan adanya gangguan kejiwaan pada diri terdakwa dan menyebut tindakan pembunuhan tersebut sebagai sesuatu yang “mengerikan, mengganggu, dan diliputi oleh kejahatan yang mutlak.”
Mason Sisk kini berusia 18 tahun dan menjalani hukumannya di penjara negara bagian Alabama.
(cr31/tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Awal Mula Netanyahu Terkena Penyakit Tumor Ganas, Terungkap setelah Operasi Pembesaran Prostat |
|
|---|
| Baru Resmi Menikah, Pengantin Pria Aniaya dan Tampar Istrinya setelah Baca Pesan dari Mantan |
|
|---|
| Suami Bunuh Istri Hamil 5 Bulan, Emosi Korban Sebut Anak yang di Dalam Kandungan Bukan Anak Pelaku |
|
|---|
| Bikin Heboh Pengakuan Donald Trump, Sebut Kondisi Iran Tidak Solid: Mereka Tidak Solid |
|
|---|
| Perintah Donald Trump, Militer AS Tembaki Kapal Iran yang Pasang Ranjau Laut di Selat Hormuz |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/mayatt.jpg)