Anomali Cuaca
Cuaca Dingin Musim Kemarau, Begini Penjelasan BMKG, Antisipasi 5 Penyakit Ini
Sejumlah wilayah mengalami cuaca dingin atau suhu dingin di musim kemarau. BMKG menyebut hal ini terjadi karena angin monson dari Australia.
TRIBUN-MEDAN.COM,- Sejumlah wilayah di Indonesia mengalami anomali cuaca, dimana masyarakat merasahakan suhu dingin atau cuaca dingin di musim kemarau.
Sejumlah warganet ramai mengunggah informasi seputar cuaca dingin atau suhu dingin di wilayahnya.
Ada beberapa daerah yang mengalami cuaca dingin atau suhu dingin di pagi atau malam hari.
Beberapa daerah tersebut bukan hanya di Pulau Jawa saja, tapi juga Kalimantan.
Warganet menyebut, meski saat ini musim kemarau, tapi di pagi hari cuaca dingin terasa menusuk.
Baca juga: Antisipasi Kebakaran di Musim Kemarau, Pemkab Samosir Gencarkan Sosialisasi Pencegahannya Karhutla
Menjawab pertanyaan itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan bahwa fenomena perubahan cuaca ini karena pengaruh musim kemarau.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan, suhu dingin yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia disebabkan karena pengaruh musim kemarau.
"Saat ini udara sudah mulai kering dengan angin monson dari Australia, sebagai ciri musim kemarau," kata Sena, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (21/6/2025).
Ia menambahkan, keringnya udara tersebut mengakibatkan suhu terasa dingin di beberapa tempat.
Baca juga: Apa Itu Kemarau Basah, Penyebab dan Dampaknya Bagi Pertanian
Sementara itu, Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari membenarkan bahwa beberapa hari ini wilayah Indonesia mengalami suhu dingin dengan suhu berkisar 22 sampai 23 derajat Celsius.
"Berdasarkan pengamatan BMKG, untuk daerah dataran rendah memang suhu berkisar 22-23 derajat Celsius," ucap Supari, Jumat (20/6/2025).
Ia menjelaskan, terasanya suhu dingin di sejumlah daerah di Indonesia juga bergantung pada turunnya hujan di wilayah tersebut.
"Kalau kasus di Jakarta, dingin lebih disebabkan oleh hujan sore atau malam hari. Sebab, belum mencapai puncak kemarau jadi pastinya bukan bediding," ujar dia.
Baca juga: Mengenal Batu Blue Safir yang Dipakai Maia Estianty, per Karat Harganya 3000 Dollar
Menurut Supari, saat ini sebagian zona musim baru mulai masuk musim kemarau dan belum mencapai puncak musim kemarau.
Di samping itu, Supari mengatakan bahwa suhu dingin ini tidak berhubungan dengan iklim La Nina.
"Fenomena suhu dingin ini tidak berkaitan dengan La Nina, tidak ada anomali iklim global," imbuhnya.
Suhu dingin berlangsung sampai kapan?
Di beberapa daerah, seperti Jakarta yang masih sesekali turun hujan, bisa dipastikan penyebab suhu dinginnya adalah karena pendinginan permukaan akibat hujan.
"Sangat mungkin suhu dingin yang terjadi dipicu oleh hujan yang terjadi pada sore dan malam hari yang menyebabkan pendinginan permukaan (di wilayah yang terkena hujan)," ujarnya.
Menurut dia, suhu dingin yang terasa di sejumlah wilayah masih akan berlangsung dalam beberapa waktu ke depan.
Baca juga: Mengenal Tangga Ternak Uang yang Lagi Viral di Media Sosial
"Suhu dingin ini sangat mungkin bakal berlangsung dalam beberapa waktu ke depan," kata dia.
Selama di suatu wilayah masih sesekali turun hujan, maka suhu dingin akan muncul.
"Beda-beda kan masing-masing wilayah. Kalau sudah tidak ada hujan di sore atau malam, maka fenomena suhu dinginnya tidak akan muncul," ujarnya.
Sedangkan dilansir dari Kompas.com (24/5/2025), Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Guswanto mengatakan bahwa bediding terjadi ketika posisi Matahari berada di titik terjauh, yaitu 23,5 derajat Lintang Utara (LU).
Baca juga: Mengenal MV Wan Hai 503 yang Meledak di Lepas Pantai India, Seorang ABK WNI Dilaporkan Hilang
"Bediding terjadi ketika posisi Matahari berada jauh di 23,5 derajat LU. Posisi ini terjadi pada tanggal 21 Juni 2025," jelasnya.
Menurut Guswanto, fenomena bediding akan terjadi sepanjang musim kemarau, yaitu dari Juni hingga Agustus 2025.
Fenomena bediding umumnya terjadi di daerah selatan garis khatulistiwa, yaitu meliputi Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Bediding adalah fenomena ketika suhu pagi atau malam hari menjadi lebih dingin padahal telah memasuki musim kemarau.
Saat musim kemarau dengan cuaca dingin (fenomena yang di Indonesia dikenal sebagai bediding), beberapa penyakit yang bisa muncul atau kambuh antara lain:
Cuaca dingin dan kering memicu iritasi saluran pernapasan, sehingga batuk, pilek, flu, dan ISPA lebih mudah menyerang, terutama pada anak-anak, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah.
Udara dingin dan kering dapat memicu kekambuhan asma dan reaksi alergi seperti rhinitis alergi (pilek alergi), yang menyebabkan hidung tersumbat, bersin, dan gatal.
Virus penyebab flu dan pilek lebih mudah bertahan dan menyebar di udara dingin, sehingga risiko tertular meningkat meskipun musim kemarau.
Kulit yang sensitif bisa mengalami urtikaria (ruam gatal) dan eksim yang memburuk akibat suhu dingin dan kerin.
Meskipun lebih terkait dengan panas dan kebersihan, diare dan muntaber juga sering meningkat saat kemarau karena pasokan air bersih berkurang dan kebersihan menurun.
Berita ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Suhu Dingin Tengah Menyelimuti Kota-kota di Indonesia, Berlangsung sampai Kapan?.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
| Rumah Preman Sekaligus Bandar Narkoba Dibakar Massa, Polisi dan Pemda Bergerak Cepat Redam Gejolak |
|
|---|
| Kantor Pemenang Tender Motor Listrik BGN Dijaga Ketat, Sampai Ada Apel Polisi |
|
|---|
| LIVE SCORE Hasil AC Milan vs Udinese Siapa Menang, Liga Italia Malam Ini |
|
|---|
| Wagub Kalbar Malah Tantang KDM, Siap Cium Lutut jika Bisa Perbaiki Jalan dengan APBD Rp6 Triliun |
|
|---|
| Hasil Enam Besar Liga 4 Sumut, Binjai United dan Batubara United Puncaki Grup, Lolos ke Semifinal |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ilustrasi-suhu-dingin-atau-kedinginan.jpg)