Berjuang dengan Satu Tangan, Bertahan dengan Harapan
Di bawah sengatan matahari yang terik, Jestham bertemu dengan seorang Bapak
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - (04/06/25) Di bawah sengatan matahari yang terik, Jestham bertemu dengan seorang Bapak paruh baya yang tekun menjajakan tisu di lampu merah. Dengan satu tangan yang tak lagi utuh, Ia menyapa pengendara yang lewat, berharap ada yang berhenti membeli dagangannya. Sejak pagi, hanya satu bungkus tisu yang laku, namun semangatnya tak pernah pudar. Jestham pun menghampiri, dan di situlah Ia mendengar kisah hidup Bapak tersebut, sebuah cerita tentang ketabahan setelah kecelakaan yang mengubah hidupnya.
Dengan suara lirih, Bapak itu bercerita tentang kecelakaan yang mengubah hidupnya. Dulu, saat menumpang dari Surabaya menuju Palembang, musibah menghampirinya di Pantura. Kecelakaan itu tidak hanya merenggut tangannya, tetapi juga meninggalkan luka yang dalam, baik secara fisik maupun batin. Ia sempat merasa hidupnya tidak lagi berarti, seakan semua harapan musnah. Namun, di tengah kepahitan itu, Ia memutuskan untuk bangkit. Dengan keyakinan yang teguh, Ia meyakini bahwa Tuhan memiliki rencana terbaik. Baginya, di balik setiap ujian pasti tersimpan hikmah yang suatu hari akan Ia mengerti.
Meski hanya menjual tisu seharga Rp10.000 per bungkus, perjuangannya tak pernah setengah hati. Saat Jestham bertanya berapa banyak yang sudah terjual, Bapak itu menjawab, “Baru satu, Bu.” Tujuh bungkus tisu yang Ia bawa sejak pagi masih tersisa enam. Uang hasil penjualan satu bungkus tisu itu pun Ia gunakan untuk membeli nasi, sekadar mengganjal perutnya yang lapar. Mendengar itu, Jestham tergerak untuk membantu. “Kalau saya ada rezeki dari Tuhan, saya borong semua, boleh enggak, Pak?” tanyanya. Dengan senyum haru, Bapak itu mengangguk.
Tak hanya membeli semua tisunya, Jestham juga memberikan uang lebih sebagai bentuk dukungan. “Ini rezeki dari Tuhan untuk Bapak,” ucapnya. Bapak itu pun mengucapkan terima kasih dengan mata berkaca-kaca. “Semoga cepat kaya, Bu,” doanya tulus. Jestham tersentuh melihat ketulusan dan kesabaran pria itu. Di balik keterbatasannya, Ia tetap bersyukur dan berjuang untuk keluarga, istri dan anak-anak yang menunggu di rumah.
Bapak penjual tisu ini mengingatkan kita bahwa di setiap sudut kota, ada perjuangan yang sering kali tak terlihat. Ia berjualan di simpang Jalan Ayahanda Gatot Subroto, Medan. Jika kebetulan melintas di sana, tak ada salahnya untuk sekadar membeli tisunya atau menyapa dengan ramah. Sebab, di balik setiap senyum sederhana, bisa jadi tersimpan cerita perjuangan yang layak didengar dan dibantu.
Jestham mengakhiri pertemuannya dengan doa, “Semoga jualannya selalu laris manis.” Ia juga mengajak kita semua untuk mendukung UMKM lokal, termasuk para pedagang kecil seperti Bapak ini. “Kita dukung UMKM seluruh Indonesia agar maju semuanya,” pesannya. Sebuah pesan sederhana, namun penuh makna, bahwa kebaikan kecil kita bisa menjadi penghangat bagi orang lain.
Bukan sekadar tentang sedekah, melainkan juga tentang empati dan penghargaan terhadap perjuangan sesama. Bapak penjual tisu itu mengajarkan kita arti syukur dan ketabahan. Di tengah keterbatasan, Ia tak menyerah. Dan di tengah kesibukan kita, semoga kita tak pernah lupa untuk berbagi. Sebab, rezeki yang Tuhan berikan kadang datang melalui tangan-tangan yang peduli.(*)
| Kerupuk untuk Masa Depan: Cinta Seorang Ayah yang Tak Pernah Minta Kembali |
|
|---|
| Sujud Syukur di Minimarket: Kejutan Jestham untuk Abang Ojol Pejuang Keluarga |
|
|---|
| Satu Perjumpaan, Seribu Makna: Tentang Hidup, Ikhlas, dan Balasan Tak Terduga |
|
|---|
| Dagang di Tenda Kecil, Bapak Ini Gak Sangka Dapat Rejeki Tak Terduga! |
|
|---|
| Jestham Kasih Kejutan ke Ojol Hebat: Belanja 2 Menit, Bawa Pulang Kebahagiaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Pantang-Menyerah-Inilah-Perjuangan-Seorang-Ayah.jpg)