Saksi Ungkap Diajak Oknum Polisi Jebak Anggota BNN, AKBP Doddy: Itu Murni Pengaduan Masyarakat

Kapolres Siantar AKBP Doddy Hermawan saat ditemui di Mapolres Siantar, Selasa (16/10/2018).

Laporan Wartawan Tribun Medan/Tommy Simatupang

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Kapolres Siantar AKBP Doddy Hermawan membantah bahwa ada indikasi skenario untuk menangkap Hino Mangiring Pasaribu anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) Pematangsiantar tentang suap penghapusan nama Joko Susilo dari Daftar Pencarian Orang (DPO) BNN.

AKBP Doddy mengatakan penangkapan itu murni atas pengaduan masyarakat. Apalagi, katanya, usai penangkapan berkas dan bukti sudah lengkap atau (P21).

"Proses penangkapan itu murni berdasarkan pengaduan masyarakat. Baik dalam proses pemeriksaan. Dalam pelaksaan tugas. BAP kita sudah real dan jaksa sudah P21,"katanya saat ditemui di Mapolres Siantar, Selasa (16/10/2018).

AKBP Doddy menilai itu hal wajar jika tergugat membantah keterangan dari polisi tentang proses penangkapan.

"Hak dari tergugat ya silakanlah itu," tambahnya.

Sementara Kepala BNN Siantar AKBP Saudara Sinuhaji masih bingung dengan pernyataan saksi Joko Susilo. Ia mengatakan banyak sekali pernyataan yang rancu.

"Salah. Hino minta langsung dari Joko. Dia (Joko) mengaku tidak mengasih. Sedangkan si Hino terima dari si Joko, Joko bilabg gak ada ngasih. Udah gak nyambung,"katanya.

AKBP Saudara juga akan menanyakan duduk perkaranya ini langsung ke Hino Pasarubu.

"Nanti saya panggil Hino baru kita konfirmasi ya. Saya gak ikuti proses sidangnya,"katanya.

Seperti diketahui, pada press rilis pada 2 September 2017 lalu, Kapolres Siantar AKBP Doddy Hermawan mengatakan Hino melakukan pemerasan terhadap Joko Susilo untuk penghapusan nama sebagai DPO BNN. Polisi menetapkan barang bukti Rp 5 juta.

Kasus ini menyeret hingga ke meja persidangan. Joko Susilo sebagai saksi dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Medan mengejutkan Majelis Hakim yang dipimpin Sri Wahyuni. Dihadapan Majelis, Joko membantah keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah ia tanda tangani sebelumnya.

Joko mengatakan dirinya saat itu diajak dua personel kepolisian Pematangsiantar untuk menyusun wacana agar anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) Pematangsiantar bernama Hino Mangiring Pasaribu bisa ditangkap. Saat itu Joko diajak polisi bernama Irfan dan Darwin.

"Mereka minta tolong saya untuk menangkap si Hino ini. Dua orang waktu itu bernama Irfan dan Darwin," sebut Joko Susilo di Ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri Medan, kemarin.

"Soal saya memberikan suap untuk Hino sebesar Rp 5 juta itu tidak ada Ibu Hakim. Saat diperiksa oleh penyidik saya hanya disuruh tanda tangan. Saya tidak baca waktu itu, soalnya saya ngantuk," jawab Joko menanggapi pertanyaan hakim Sri Wahyuni.

Joko Susilo bantah berikan uang saat disidang di PN Medan, Senin (15/10/2018). Ia mengaku diminta polisi untuk menjerat Hino Mangiring Pasaribu agar dijebloskan ke penjara. (TRIBUN MEDAN/ALIJA MAGRIBI)

Diberitakan sebelumnya, pernyataan saksi Joko Susilo dalam persidangan yang digelar di Pengadilan Negeri Medan mengejutkan Majelis Hakim yang dipimpin Sri Wahyuni.

Dihadapan Majelis, Joko mencabut keterangan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang telah ia tanda tangani sebelumnya.

Joko mengatakan dirinya saat itu diajak dua personel kepolisian Pematangsiantar untuk menyusun rencana agar anggota Badan Narkotika Nasional (BNN) Pematangsiantar bernama Hino Mangiring Pasaribu bisa ditangkap.

Saat itu Joko mengaku diajak dua anggota polisi bernama Irfan dan Darwin.

"Mereka minta tolong saya untuk menangkap si Hino ini. Dua orang waktu itu bernama Irfan dan Darwin," sebut Joko Susilo di Ruang Cakra 5 Pengadilan Negeri Medan, Senin (15/10/2018).

"Soal saya memberikan suap untuk Hino sebesar Rp 5 juta itu tidak ada Ibu Hakim. Saat diperiksa oleh penyidik saya hanya disuruh tanda tangan. Saya tidak baca waktu itu, soalnya saya ngantuk," jawab Joko menanggapi pertanyaan hakim Sri Wahyuni.

Kesaksian Joko pun membuat Ketiga hakim menggelengkan kepala. Majelis Hakim murka terhadap kesaksian Joko yang berbeda dari keterangannya di BAP. Hakim pun menyoroti alasan Joko mau diajak untuk membuat perangkap agar Hino Mangiring Pasaribu ditangkap.

"Iya buk. Sebenarnya saya pun dendam sama si Hino ini. Dia yang menangkap dua teman saya yang merupakan teman kecil saya," sebutnya lagi.

"Saat disergap saya tidak ada membawa uang untuk Hino. Saat diperiksa saya tidak melihat Hino diperiksa saat itu, karena kami berlawanan arah," sambungnya

Hakim Ketua Sri Wahyuni pun memeringatkan pernyataan Joko Susilo terkait kesaksian palsu.

Imbuhnya, kesaksian Joko dapat memenuhi pelanggaran pidana memberikan keterangan palsu selama di persidangan. Joko pun diancam pidana 7 tahun atas kesaksiannya.

Sementara kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Herianto Siagian. Hakim memintanya untuk menghadirkan personel kepolisian yang mengajak Joko Susilo dan penyidik Polres Pematangsiantar ke Pengadilan Negeri Medan untuk dimintai keterangan.

Diketahui dalam dakwaan, Hino Mangiring Pasaribu ditangkap oleh personel kepolisian dari Polres Pematangsiantar terkait suap penghapusan Daftar Pencarian Orang (DPO).

Hino saat itu ditangkap tangan personel kepolisian lantaran menerima suap sebesar Rp 5 juta dari Joko Susilo.

Suap yang diberikan Joko Susilo pada 25 Agustus 2018 di Jalan WR Supratman, Pematangsiantar adalah untuk menghapus namanya dari daftar buronan BNN.

Selain itu, Joko, dalam dakwaan tersebut juga menginginkan agar sepeda motor miliknya yang ditahan BNN agar dikembalikan padanya.

Saat itu, sepeda motornya ditangkap BNN lantaran dipakai temannya bernama Muhammad Saleh dan Budi yang terlibat Narkoba.

Namun dalam kesaksiannya, Senin (15/10/2018), Joko justru membantah isi dakwaan maupun BAP yang ia tanda tangani sebelumnya di kantor polisi.

(tmy/tribun-medan.com)

Berita Populer