Berita Batubara Terkini

Buntut Ribut PPDB, Penjaga Sekolah di Batubara Ancam Anak SD, Keluarga Lapor Polisi

Aksi pengancaman tersebut diduga kuat dilakukan oleh oknum penjaga sekolah setelah terjadi perselisihan antara ayah korban dan pihak sekolah.

Tayang:
SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Ilustrasi Anak Sekolah Dasar - Seorang siswa kelas lima sekolah dasar (SD) diduga mendapatkan tindakan pengancaman dari salah seorang petugas sekolah di Kecamatan Labuhan Ruku, Talawi, Kabupaten Batubara. 

TRIBUN-MEDAN.COM, LIMAPULUH - Seorang siswa kelas lima sekolah dasar (SD) diduga mendapatkan tindakan pengancaman dari salah seorang petugas sekolah di Kecamatan Labuhan Ruku, Talawi, Kabupaten Batubara.

Aksi pengancaman tersebut diduga kuat dilakukan oleh oknum penjaga sekolah setelah terjadi perselisihan antara ayah korban dan pihak sekolah.

Ketegangan di antara kedua belah pihak tersebut dipicu oleh permasalahan dalam proses pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB).

Rahman Krisna, ayah kandung korban, mengaku anaknya diancam setelah dirinya mendatangi salah satu SD Negeri di Labuhan Ruku untuk mendaftarkan putrinya.

Namun, pada saat itu pihak sekolah menolak proses pendaftaran dengan alasan domisili pada kartu keluarga (KK) berbeda dan berada di luar zonasi sekolah.

Cekcok di Ruang Perpustakaan hingga Diajak Berkelahi di Luar

"Saya meminta penjelasan kepada kepala sekolah mengenai peluang anak saya bisa diterima atau tidak sebagai peserta didik baru," kata Rahman melalui pesan telepon, Selasa (9/6/2026).

"Dan disambut bisa mengikuti penerimaan tahap kedua," sambungnya menceritakan respons awal dari pihak sekolah.

Namun, saat Rahman meminta kepastian lebih lanjut, pihak sekolah tidak dapat memberikan jawaban pasti sehingga ia mempertanyakan apakah hanya diberikan harapan palsu.

Atas pertanyaan tersebut, perbincangan di antara mereka langsung berujung pada ketegangan hingga membuat Rahman didorong keluar dari ruang perpustakaan.

"Saya diajak berkelahi di luar sekolah," ungkap Rahman mengenai kegaduhan yang terjadi di area lingkungan sekolah tersebut.

"Hanya karena menghindari konflik lebih besar, saya memilih meninggalkan sekolah dan kembali bekerja ke Tanjungtiram," jelasnya lagi mengenai keputusannya mengalah.

Anak Korban Dicegat hingga Trauma dan Kasus Dilaporkan ke Polres

Saat sedang berada di tempat kerja, Rahman tiba-tiba dihubungi oleh istrinya yang mengabarkan situasi kurang baik di rumah.

Sang istri memberitahukan bahwa anak mereka sudah pulang dari sekolah dalam kondisi menangis histeris.

Tidak hanya menangis, bocah yang masih duduk di bangku kelas lima SD tersebut juga tegas menolak untuk kembali pergi ke sekolahnya.

"Saat saya tanya kenapa, anak saya mengaku dicegat di jalan oleh penjaga sekolah yang dikenal bernama Napi," jelas Rahman kepada Tribun-medan.com.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved