Movie Review

Transporter Refueled: Frank Martin yang Jadi Lebih Banyak Omong dan Tetap Jomblo

Deretan aksi-aksi menegangkan kemudian diparadekan nyaris tanpa jeda untuk kita tarik napas.

Editor: T. Agus Khaidir
FOTO-FOTO: INTERNET/YOUTUBE

Kegagalan melobi Jason Statham membuat Luc Besson mengubah Frank Martin yang introvert menjadi sosok yang agak banyak bicara dan terbuka.

MEMANG tak lantas jadi over-ekstrovert. Apalagi dengan kelabu yang memperlihatkan sisi humanis kehidupan Frank yang selama ini tak pernah diungkap: dia punya sosok ayah yang akrab, dia juga pria yang punya nafsu pada lekuk dada dan selangkangan.

Dia tetap tampil dengan rahang yang senantiasa rapat dengan gigi yang terus gemeretak, tetap tak ada senyum, apalagi cengenges-cengenges.

Jadi, ketimbang dibilang terlalu memaksakan sosok pewaris dengan karakter yang sama, The Transporter Refueled memilih meninggalkan masa lalu yang cemerlang itu dan menatap masa depan dengan harapan yang lebih gemilang.

Anda yang juga menyimak serial Bourne pasti menduga ada "kesamaan" dengan franchise The Transporter ini: si tokoh utama yang telah melekat itu berganti di edisi keempat. Mirip. Persis. Sama. Matt Damon adalah Jason Statham, Jeremy Renner adalah Ed Skrein. Anda mungkin juga sudah tahu, sebagaimana serial Bourne, seri keempat The Transporter ini tadinya juga sempat akan dibuat dengan judul The Transporter Legacy.

Agar mendapat akseptasi yang lebih luas, kemajuan teknologi disisipkan dengan senatural mungkin. Introduksi sosok Frank Martin di parking lot bawah tanah itu pun cukup berkesan. Dibantu mobil Audi yang lebih canggih dari sebelumnya, ia habisi sekelompok gangster yang mencoba merampoknya.

"I've told you, it's not a good idea," katanya sambil bergegas karena ia akan terlambat sekian detik menemui Frank Martin Sr (diperankan Ray Stevenson, aktor film Thor).

Tapi, seperti yang saya bilang tadi, aksi di menit-menit awal itu hanyalah perkenalan sosok Frank Martin yang baru, yang kali ini diperankan oleh Ed Skrein, seorang aktor Inggris yang lebih dulu dikenal sebagai rapper.

Frank Martin yang kalem tetaplah kalem, tetap jomblo, hingga sampai untuk urusan dapur ia harus kerjakan sendirian, dan itu membuat ayahnya selalu rewel dan menyindirnya agar segera mencari pendamping hidup.

Segera "miss" tak dikenal itu memanggil. Dan dari sinilah petualangan itu dimulai. Mau tak mau, Frank, yang memang diciptakan tak begitu lihai menangkal tipuan kliennya, harus terlibat dalam misi "balas dendam" yang telah dipendam selama 15 tahun oleh Anna (Loan Chabanol) terhadap komplotan sindikat penjualan manusia yang dikepalai oleh Arkady Karasov -Anna sendiri konon dijual oleh ibunya kepada Karasov di usianya yang baru menginjak 12 tahun dan diperkerjakan sebagai pelacur.

Tentu saja yang membuat franchise ini sedap adalah si penjahat, tiga perampok perempuan (sebenarnya empat; yang satu lagi beraksi di belakang kamera) yang sungguh licik itu, justru berada di pihak protagonis -satu hal yang masih dipertahankan sebagai ciri khas plot The Transporter sejak awal.

Mereka dijemput setelah merampok bank, dibantu merampok uang para sahabat si Penjual Manusia melalui sidik jari mereka: Imasov di kelab malam, Yuri di pesawat.

Hal lainnya yang juga masih dipertahankan adalah ciri khas si Tukang Antar (transporter) yang menerapkan tiga aturan kepada kliennya: tidak ada nama, tidak ada pertanyaan, dan tidak ada negosiasi ulang. Juga mobil yang tetap pabrikan Audi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved