Berita Eksklusif
Misbah Akui Daging Oplosan Disiram Darah Sapi Segar, Sulit Dibedakan dengan Daging Segar
Modus tersebut dilakukan para pedagang nakal untuk mengecoh pembeli agar daging terlihat segar.
MEDAN, TRIBUN-Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumatera Utara Misbah mengakui, ada peredaran daging beku, yang disiram pakai darah sapi segar.
Modus tersebut dilakukan para pedagang nakal untuk mengecoh pembeli agar daging terlihat segar. Caranya, daging sapi beku disiram darah dan gula.
Hal tersebut diungkap Misbah di hadapan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) I Ketut Diarmita dan anggota Dewan Pimpinan Daerah (DPD) RI asal Sumut Parlindungan Purba, saat melakukan pertemuan di Balai Besar Karantina Pertanian Belawan, Sabtu (10/3).
"Di Tribun Medan kemarin keluar pemberitaan pedagang bermain terhadap daging bulog. Bahwa, daging dicampur darah segar sapi dicampur gula. Gitu caranya. Itulah kemarin muncul di Tribun," kata Misbah.
Atas terungkapnya praktik licik pedagang tersebut, ia berharap ada kesadaran masyarakat agar lebih jeli membeli daging di pasar. Selain itu, pengawasan dari pemerintah juga harus turut andil dalam hal ini.
"Sekarang kan sudah dibuka rahasianya. Jadi, saya harap ada kejelian masyarakat terhadap itu. Dan, ada pengawas satgas dan Ketahanan Pangan agar jangan sampai hal seperti ini terjadi," ucapnya.
Terkait daging beku disiram darah sapi segar dan gula, Misbah tidak ingin pihaknya disalahkan. Ia mengklaim, Disperindag Sumut memastikan tidak ada lagi yang bermain daging di pasar.
"Kalau pun ada, itu hanya oknum yang membeli daging di Bulog lalu mencampurnya dengan daging yang baru dipotong. Para pemain ilegal itu dulu. Sekarang, tidak ada lagi penyeludupan daging ilegal di pasar," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Komersil Perum Badan Urusan Logistrik (Bulog) Divre Sumut Rusli mengatakan, tidak ada daging impor India yang langsung masuk ke Sumut. Yang ada daging dari India lebih dahulu ke Jakarta, kemudian disebar ke Bulog di provinsi.
Menurutnya, daging dari India tidak hanya menjadi kebutuhan hotel, restoran dan katering (horeka), tapi juga untuk masyarakat. "Sampai saat ini, kami di Bulog membuka bagi siapa saja yang ingin membeli daging, karena harganya lumayan terjangkau," ujarnya.
Lalu bagaimana dengan kehigienisannya? Apakah daging India layak dikonsumsi dan bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK)? Rusli mengatakan, daging kerbau asal India sebelum masuk ke Indonesia sudah diuji ldi aboratorium, dan hasilnya layak dikonsumsi.
"Tidak ada larangan dan memang higienis, karena dilakukan pengawasan berlapis. Sudah dilakukan uji lab baru masuk ke Indonesia. Ketika disalurkan antarkota/provinsi dilakukan pemeriksaan baik melalui jalur darat atau laut. Jadi, pemeriksaannya sangat berlapis sebenarnya. Kami pastikan, daging India yang dari kami itu sangat higienis. Kalau ada dari pelabuhan tikus, kami tidak dapat menjaminnya," ujar Rusli.
Ia menambahkan, tujuan mengimpor daging dari India untuk mengantisipasi terjadinya lonjakan harga, apalagi Ramadan dan Lebaran sebentar lagi. "Ini sangat rentan sekali terjadi kenaikan harga. Makanya kami dalam beberapa waktu lagi akan memasukkan daging dari India dari Jakarta kemari untuk ketahanan stok," katanya.
Pada 2017, Disperindag Sumut dan Bulog Divre Sumut melibatkan Balai Karantina Besar Karantina Pertanian dan Satgas Pangan mampu menekan harga daging di Kota Medan seharga Rp 120 ribu per kilogram.
Sebelumnya pada 2016, harga daging menjelang Ramadan dan Idul Fitri mencapai Rp 180 ribu per kilogram.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/daging_sapi_20180311_123550.jpg)