Sonya Lalla Saragih, Energi Tak Terbatas untuk Bahasa dan Generasi Muda
“Kondisi itu membentuk saya menjadi pribadi yang toleran, mudah beradaptasi, dan menghargai perbedaan,” tuturnya.
Penulis: Husna Fadilla Tarigan | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Semangat, konsistensi, dan keberanian untuk terus belajar menjadi benang merah perjalanan Sonya Lalla Saragih, mahasiswi Universitas Negeri Medan yang sukses menorehkan prestasi di ajang kebahasaan tingkat nasional.
Perempuan kelahiran Medan, 3 Oktober 2006 ini dikenal sebagai sosok komunikatif, bertanggung jawab, dan memiliki kepekaan sosial tinggi.
Di lingkungan kampus, Sonya bahkan mendapat julukan unik sebagai ‘manusia dengan energi tak terbatas’, karena aktivitasnya yang nyaris tak pernah surut sejak pagi hingga sore hari.
“Setiap pengalaman, baik keberhasilan mau pun kegagalan, adalah bagian penting dari pembentukan karakter,” ujar Sonya.
Tumbuh di Kota Medan yang multikultural, Sonya terbiasa hidup di tengah perbedaan. Latar belakang keluarga dengan dua suku berbeda membuatnya sejak kecil akrab dengan keberagaman bahasa dan budaya.
“Kondisi itu membentuk saya menjadi pribadi yang toleran, mudah beradaptasi, dan menghargai perbedaan,” tuturnya.
Baca juga: Rico Waas Ajak ISLAH Bangun Medan dengan Generasi Muda Pecinta Al-Quran
Nilai keagamaan juga menjadi fondasi kuat dalam hidupnya. Keluarga menanamkan keyakinan agar selalu mengandalkan Tuhan dan berpegang teguh pada iman dalam menghadapi berbagai tantangan.
Masa SMA di SMA Negeri 21 Medan menjadi titik balik penting bagi Sonya. Ia mengaku dulu sangat pemalu dan kaku saat harus tampil di depan kelas.
“Namun saya mulai memberanikan diri untuk menjawab pertanyaan guru dan tampil ke depan. Perlahan, itu melatih keberanian dan rasa percaya diri saya,” kenangnya.
Pengalaman tersebut membekali Sonya, tidak hanya secara akademik, tetapi juga mental dan kepercayaan diri.
Mengikuti jejak sang kakak, Sonya memilih melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Medan. Ia mengambil jurusan Manajemen, yang menurutnya selaras dengan minat pada kepemimpinan, pengelolaan organisasi, dan pengembangan sumber daya manusia.
Ilmu manajemen, kata Sonya, menjadi bekal strategis untuk berkontribusi di berbagai bidang, termasuk kebahasaan dan pendidikan.
Ia membagi waktu dengan perencanaan matang, disiplin, serta skala prioritas yang jelas antara kuliah, organisasi, dan kegiatan prestasi.
Seni sebagai Ruang Ekspresi
Sejak kecil, Sonya gemar menyanyi dan menggambar. Dua hobi ini bukan sekadar pengisi waktu luang, melainkan ruang ekspresi diri.
“Menyanyi dan menggambar membantu saya menyalurkan emosi, melatih keberanian, serta mengelola perasaan,” ujarnya.
Kegiatan seni tersebut juga berperan besar dalam membangun kepercayaan diri, terutama saat tampil di depan umum.
Kecintaannya pada Bahasa Indonesia dan bahasa daerah mendorong Sonya mengikuti ajang Duta Bahasa. Ia juga tergerak oleh keprihatinan terhadap rendahnya tingkat literasi di Indonesia.
Proses seleksi yang dilaluinya tidak mudah, mulai dari tes kebahasaan, uji KBBI, presentasi krida, penampilan bakat, hingga karantina selama sepekan.
Konsistensi, persiapan matang, dan kepercayaan diri mengantarkannya meraih Terbaik I Duta Bahasa Sumatera Utara 2025 dan Harapan III Duta Bahasa Nasional 2025.
“Tantangan terberat adalah mengelola rasa gugup dan tekanan ekspektasi,” katanya.
Pengalaman paling berkesan baginya adalah bertemu finalis dari seluruh Indonesia dan bertukar gagasan tentang bahasa, budaya, serta identitas nasional.
Bagi Sonya, gelar Harapan III Duta Bahasa Nasional bukan sekadar pencapaian, tetapi tanggung jawab besar untuk menyuarakan Trigatra Bangun Bahasa, Utamakan Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah, dan Kuasai Bahasa Asing.
Saat ini, Sonya aktif melakukan sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, literasi kebahasaan, serta edukasi di masyarakat dan media sosial.
Menurutnya, generasi muda memiliki peran strategis sebagai contoh penggunaan bahasa yang santun, kreatif, dan adaptif di era digital, di tengah tantangan dominasi bahasa asing dan penyimpangan kaidah bahasa.
Dalam lima hingga 10 tahun ke depan, Sonya bermimpi menjadi perempuan mandiri yang memberi dampak positif bagi masyarakat dan bangsa. Ia ingin terus berkiprah di bidang kebahasaan dan pendidikan, terintegrasi dengan manajemen dan pengembangan sumber daya manusia.
Untuk remaja perempuan seusianya, Sonya berpesan agar memilih lingkungan yang mendukung pertumbuhan diri.
“Lingkunganmu akan sangat memengaruhi masa depanmu,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa kunci percaya diri dan berprestasi adalah mengenali potensi diri, terus belajar, berani keluar dari zona nyaman, dan dikelilingi orang-orang yang suportif.
| Devina Zulkifli, Temukan Potensi Diri Lewat Beragam Pengalaman |
|
|---|
| Agnes Redyna Br Siahaan, Menguatkan Diri Sekaligus Menguatkan Sesama |
|
|---|
| BINUS Medan Hadirkan Pendidikan Berkelas Dunia untuk Generasi Muda Sumatera |
|
|---|
| Hadirkan Duta Pendidikan, LPKA Medan-GenBI UMA Gencarkan Program Generasi Muda Berpendidikan |
|
|---|
| Polres Sergai Rangkul Generasi Muda, Tatap Masa Depan Cerah, Ajak Jauhi Narkoba dan Balap Liar |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/Sonya-Lalla-Saragih-Terbaik-I-Duta-Bahasa-Sumatera-Utara-2025-tampil.jpg)