Batik Jogya, Ciri Khas Kebaya Kontemporer Desainer Yuli Ariska asal Sumut 

Karya yang indah adalah karya yang memiliki jiwa karena setiap busana harus mengambarkan karakter si pemiliknya. 

Tayang:
Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN
Desainer Yuli Ariska asal Sumatera Utara menampilkan karya-karya busana hasil desainnya pada event 1 tahun berkarya dalam acara ‘Kembali’ The Launching of By Yuli Ariska di Grand City Hall, Cypress Room, Medan, Jumat (29/5/2026) malam yang dihadiri sekitar 100 undangan dari berbagai kalangan. 

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Desainer Yuli Ariska asal Sumatera Utara memiliki perhatian besar terhadap Batik Jogya. 

Hal itu terungkap dari karya-karya busana hasil desainnya saat dipamerkan menandai 1 tahun berkarya dalam acara ‘Kembali’ The Launching of  By Yuli Ariska di Grand City Hall, Cypress Room, Medan, Jumat (29/5/2026) malam yang dihadiri sekitar 100 undangan dari berbagai kalangan. 

Sejumlah model memeragakan kebaya kontemporer bercorak Batik Jogya, selain gaun pengantin.

Dalam berkarya, Yuli Ariska menyatakan, setiap karya harus dibuat dengan hati. Alasannya karena keindahan sejati bukan hanya terlihat, tetapi bisa dirasakan. Karya yang indah adalah karya yang memiliki jiwa karena setiap busana harus mengambarkan karakter si pemiliknya. 

Bagi Yuli, perjalanan satu tahun ‘By Yuli Ariska’ adalah perjalanan menemukan ciri khas. 

Baca juga: Jadi Tuan Rumah BTN Indonesia Fashion Week 2026, Ada 9 Desainer Berbakat Asal Sumut

"Sebuah proses bertanya berulang kali pada diri sendiri: brand ini akan dibawa ke arah mana? Dan dari sana, lahir sebuah jawaban yang sederhana namun dalam, menciptakan karya yang mampu membuat orang lain bahagia, karya yang tidak lekang oleh waktu," ungkapnya. 

Juli mengakui jatuh cinta pada gaun pernikahan, pada makna sakral yang dibawa.

Ada pun kebaya kontemporer menurutnya tanpa disadari telah lama menjadi bagian dari jiwa yang hidup dalam rasa, tumbuh dalam diam, hingga akhirnya menemukan bentuknya.

"Ini adalah perjalanan menemukan diri, menanyakan arah, dan berani menjawabnya dengan jujur. Karena yang ingin dibangun bukanlah sesuatu yang sementara, tetapi sesuatu yang abadi," katanya.

Bagi Yuli Ariska, keindahan sejati bukan hanya untuk dilihat, tetapi untuk dirasakan. Dan setiap karya yang lahir adalah bisikan hati yang memilih untuk hidup selamanya.

"By Yuli Ariska bukan sekadar pekerjaan. Ini adalah perjalanan, ini adalah makna, dan ini adalah warisan dalam bentuk karya," pungkasnya.

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved