Banjir dan Longsor di Sumut

Warga Korban Banjir Memprihatinkan, DPRD Nilai Pemko Medan Tak Siap Hadapi Banjir

Keluhan terbesar warga datang dari lokasi yang padat pengungsi, terutama di Medan Marelan.

Tayang:
Penulis: Dedy Kurniawan | Editor: Ayu Prasandi
Tribunnews.com/PEMKO MEDAN
Sebagian warga Medan Utara masih mengungsi. Rumah masih berlumpur penuh sampah bekas banjir parah, Selasa (2/12/2025)  

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN- Tiga hari setelah banjir besar merendam 19 kecamatan di Kota Medan.

Cerita-cerita dari lokasi pengungsian terus mengalir, mulai dari tenda yang gelap gulita tanpa listrik, anak-anak yang menggigil karena malam dingin, hingga antrean panjang warga menunggu makanan yang tak kunjung datang.

Di tengah kondisi itu, Wakil Ketua Komisi I DPRD Kota Medan, Muslim menilai Pemerintah Kota Medan gagal merespons cepat bencana yang telah diperingatkan jauh hari oleh BMKG.

Pemko Medan tak tanggap bencana. 

“Pemko Medan tidak siap menghadapi banjir Medan, warga kita memprihatinkan. Kebijakan darurat tidak langsung keluar, perangkatnya juga jadi lambat bergerak,” ujar Muslim,Selasa (2/12/2025).

Pengungsian Tanpa Dapur Umum

Keluhan terbesar warga datang dari lokasi yang padat pengungsi, terutama di Medan Marelan.

Banyak titik pengungsian yang berdiri seadanya,menggunakan aula, sekolah, atau rumah ibadah,namun tanpa dapur umum pemerintah. 

Akibatnya, warga hanya bisa menunggu bantuan nasi bungkus dari swadaya dan sisa-sisa stok selama dua hari.

Pemko terlambat antar pangan penting, dengan alasan jalurnya pun terhambat karena banjir memutuskan akses jalan.

“Kalau sejak awal camat, lurah, dan kepala lingkungan diperintahkan membuat dapur umum, warga tidak akan kelaparan. Tapi karena tidak ada instruksi, semuanya terlambat. Ada pengungsian yang baru dapat nasi bungkus tanggal 29. Dua hari setelah banjir,” kata Muslim.

Ia mengingatkan, situasi darurat seperti ini mestinya tak terbelenggu birokrasi.

Kota Medan memiliki anggaran BTT (Belanja Tidak Terduga) yang bisa digerakkan seketika.

Namun koordinasi dan eksekusi di lapangan dinilai tak secepat yang dibutuhkan warga.

Tiga Hari Tanpa Listrik dan Air Bersih

Di Medan Utara, kondisi pengungsi semakin berat, tiga hari tanpa listrik, tiga hari tanpa air bersih, dan akses telekomunikasi terputus.

Banyak warga yang menghabiskan malam gelap dalam tenda lembap, tanpa kepastian kapan bantuan berikutnya tiba.

“Bayangkan sengsaranya warga. Sudah rumah terendam, makanan telat, listrik padam, internet mati. Ini bukan kondisi ringan. Karena itu Pemko seharusnya lebih siap,” tegas Muslim.

Pelayanan Kesehatan Dinilai Lemah

Selain masalah logistik, Muslim menyoroti lemahnya kesiapan layanan kesehatan pasca-banjir.

Banyak anak-anak mengalami demam, batuk, dan diare setelah berhari-hari terjebak di pengungsian.

“Jangan berpikir setelah air surut lalu masalah selesai. Justru fase pasca banjir ini sangat krusial. Harus ada pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis untuk seluruh warga terdampak,” katanya.

Ia menilai posko kesehatan belum merata, dan pelayanan masih mengandalkan puskesmas-puskesmas terdekat, yang kapasitasnya terbatas.

“Pemko harus melibatkan banyak rumah sakit di Medan. Ini status Tanggap Darurat Bencana, bukan situasi biasa. Harus ada langkah ekstra,” ujar Muslim.

Warga Masih Menunggu Perbaikan Respons

Di lapangan, pengungsi masih bertahan dengan peralatan seadanya.

Beberapa kelompok masyarakat mulai memasak mandiri menggunakan tungku darurat. 

Relawan datang silih berganti membawa air mineral, obat-obatan, hingga tikar. Namun kebutuhan tetap jauh lebih besar dari suplai.

Muslim berharap kritik ini menjadi alarm keras bagi Pemko Medan agar memperbaiki sistem penanganan bencana ke depan, mulai dari koordinasi, distribusi logistik, hingga layanan kesehatan.

"Kita tak bisa terus-terusan gagap menghadapi banjir. Medan berada di jalur cuaca ekstrem, dan perubahan iklim membuat risiko makin tinggi. Pemerintah harus lebih tanggap sebelum warga kembali menjadi korban," pungkasnya.

Warga Terjun Marelan yang terdampak banjir parah, ketinggian air hingga seleher, hingga Selasa mengeluhkan masalah kebersihan dan tak ada bantuan petugas medis ke lapangan.

Rizky mengaku masih memulihkan rumah abang berlumpur dan perabotan yang telah menjadi sampah, namun tak ada bantuan petugas kebersihan.

"Sampai hari ini gak ada petugas kebersihan. Kompleks kami di Terjun penuh sampah, dan bau. Waega mulai sakit tak ada kehadiran pemerintah. Kami takut sampah bau sudah dua hari jadi sumber penyakit," katanya. 

(Dyk/Tribun-Medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved