Berita Nasional
Mengapa Harga Plastik Mahal? Inaplas Ungkap Penyebabnya
Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) mengungkapkan, kenaikan harga plastik ini tak lepas dari kondisi geopolitik Timteng.
Ringkasan Berita:
- Harga plastik naik drastis sejak awal Maret 2026 akibat kondisi geopolitik di Timur Tengah.
- Penutupan Selat Hormuz menghambat distribusi nafta, bahan baku plastik yang 70 persen berasal dari Middle East.
- Kilang minyak di kawasan Teluk terdampak konflik, membuat pasokan nafta semakin terbatas.
TRIBU-MEDAN.COM,- Memasuki minggu kedua awal Maret 2026, harga plastik di pasar Indonesia tercatat naik drastis dan membuat pelaku industri waspada.
Kenaikan ini terjadi dalam waktu relatif cepat dan dipengaruhi berbagai faktor global.
Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) menyebut kondisi geopolitik di Timur Tengah sebagai penyebab utama mengapa harga plastik mahal dan terus merangkak naik sejak awal bulan.
Baca juga: Cara Menghasilan Uang Lewat Video TikTok, tak Melulu Joget-joget
Sekretaris Jenderal Inaplas, Fajar Budiono, menjelaskan bahwa plastik diproduksi menggunakan nafta, yaitu turunan minyak bumi.
Pasokan nafta dunia selama ini banyak berasal dari Asia Barat. Namun, distribusinya terganggu akibat konflik yang terjadi antara Israel, Amerika Serikat (AS), dan Iran.
Penutupan jalur energi penting dunia membuat aliran bahan baku terhambat.
Baca juga: Tema Hari Kesehatan Dunia 7 April 2026 Beserta Sejarah Singkatnya
“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” ujar Fajar, Kamis (2/4/2026), dikutip dari Kompas.com.
Gangguan ini menjelaskan mengapa harga plastik naik begitu cepat di pasar global maupun domestik.
Selain distribusi yang tersendat, sejumlah kilang minyak di Arab Saudi dan negara Teluk juga terdampak konflik sehingga produksi menurun.
Baca juga: Tata Cara Pembayaran Biaya UTBK di Bank, Jadwal Pendaftaran, Pembayaran hingga 08 April 2026
Dampaknya terasa secara global, bukan hanya di Indonesia.
“Dan ini tidak hanya di Indonesia hampir seluruh dunia,” kata Fajar.
Kondisi tersebut menjadikan pasokan nafta semakin terbatas, sehingga industri petrokimia menghadapi ketidakpastian dalam menentukan harga dan kapasitas produksi.
Saat ini, industri plastik nasional berada dalam kondisi bertahan. Produsen menekan kapasitas produksi seminimal mungkin agar tetap ekonomis.
Baca juga: Poco X8 Pro Max Diklaim Cocok untuk pada Gamers, Benarkah Demikian?
Menurut Fajar, kondisi tersebut belum masuk tahap standby mode, tetapi masih dalam survival mode.
“Jangan sampai nanti ke standby mode. Kalau standby mode itu sudah kita harus mesin hidup, tapi tidak jalan. Nah, kita masih di survival mode sekarang,” ungkapnya.
Strategi ini diterapkan agar industri tetap berjalan di tengah naiknya biaya produksi akibat harga plastik yang mahal dan ketergantungan terhadap pasokan bahan baku dari Timur Tengah.
Baca juga: SBY Angkat Bicara Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon, Dukung Prabowo Desak Investigasi
Sumber Bahan Baku Plastik
Bahan baku plastik pada umumnya berasal dari bahan bakar fosil, terutama minyak bumi dan gas alam.
Kedua sumber ini mengandung senyawa hidrokarbon yang dapat diolah menjadi polimer sintetis, yaitu bahan dasar dari berbagai jenis plastik yang kita gunakan sehari-hari.
Tanpa melalui proses kimia yang panjang, bahan mentah tersebut tidak dapat langsung menjadi plastik, sehingga diperlukan tahap pengolahan bertahap untuk menghasilkan polimer yang siap dibentuk.
Baca juga: Inara Rusli Ganti Nama Jadi Inarasati di Tengah Jalani Kasus, Diketawai Mawa
Sumber utama bahan baku plastik adalah minyak bumi, yang menghasilkan senyawa seperti etilena dan propilena.
Kedua senyawa ini merupakan monomer penting untuk membuat jenis plastik populer seperti polietilena (PE) yang digunakan pada kantong belanja, serta polipropilena (PP) yang banyak dipakai untuk kemasan makanan dan peralatan rumah tangga.
Selain minyak bumi, gas alam juga menjadi sumber penting karena mengandung metana yang dapat dikonversi menjadi etilena dan propilena, sehingga dapat menghasilkan jenis plastik yang sama.
Selain bahan fosil, ada juga bahan alternatif seperti batubara dan selulosa.
Baca juga: Ammar Zoni Blak-blakan Alasan Pakai Narkoba, Eks Suami Irish Bella: Saya Sakit, Saya Korban
Batubara dapat diproses menjadi gas sintetis yang kemudian dijadikan monomer untuk plastik tertentu.
Sementara itu, selulosa yang berasal dari tumbuhan banyak dimanfaatkan untuk membuat bioplastik seperti PLA, yang lebih ramah lingkungan karena berasal dari sumber terbarukan dan lebih mudah terurai dibanding plastik berbasis minyak bumi.
Kehadiran bioplastik menjadi solusi untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.
Proses pembuatan plastik secara umum dimulai dari pengolahan minyak atau gas bumi untuk menghasilkan etana atau propana.
Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini 6 April 2026 Turun Rp 26.000 Per Gram, Ini Rinciannya
Senyawa ini kemudian diproses lebih lanjut menjadi etilena dan propilena, yang menjadi bahan dasar dalam proses polimerisasi.
Dalam proses tersebut, monomer-monomer kecil bergabung membentuk rantai panjang polimer seperti PE dan PP.
Setelah menjadi polimer, bahan ini selanjutnya dapat dilelehkan, dibentuk, atau dicetak menjadi berbagai produk plastik sesuai kebutuhan.
Baca juga: Alasan Aipda Vicky Mundur dari Polisi usai Tangani Korupsi, Kini Tertawa Sambil Jualan Kopi
Dengan memahami asal-usul dan proses pembuatannya, kita bisa melihat bahwa plastik bukan hanya sekadar produk akhir, tetapi merupakan hasil dari rangkaian panjang pengolahan bahan baku energi.
Informasi ini juga menegaskan pentingnya inovasi dalam penggunaan bahan terbarukan untuk mengurangi dampak lingkungan yang ditimbulkan plastik konvensional.
Upaya industri cari alternatif bahan baku
Untuk mengatasi krisis pasokan, pelaku industri mulai mencari sumber bahan baku alternatif dari luar kawasan Teluk, seperti Asia Tengah, Afrika, hingga Amerika.
Baca juga: Kabar Presiden AS Donald Trump Masuk RS, Klarifikasi Gedung Putih: Tidak Benar, Dia Bekerja Keras
Namun, opsi ini memiliki tantangan tersendiri. Selain harga yang lebih mahal, waktu pengiriman juga jauh lebih lama, bisa mencapai 50 hari.
“Harga itu sekarang sudah nomor kesekian, yang penting ada barang (bahan baku) dulu sekarang,” kata Fajar.
Selain nafta, industri juga mempertimbangkan penggunaan propana atau kondensat sebagai alternatif bahan baku. Meski demikian, masih ada kendala terkait bea masuk yang diharapkan bisa dikaji ulang oleh pemerintah.(tribun-medan.com)
Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News
Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel
Berita viral lainnya di Tribun Medan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/harga-plastik-dan-mengapa-harga-plastik-mahal.jpg)