Longsor di Sibolangit
Cerita Dotra Selamat Dari Longsor Sembahe, Lompat dari Jendela Dapur Rumah
Ratusan bahkan seribuan kubik tanah dari tebing setinggi kurang lebih 100 meter itu, tiba-tiba runtuh menimpa sembilan unit rumah semi permanen.
Penulis: Muhammad Nasrul | Editor: Ayu Prasandi
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Selasa (7/4/2026) malam, menjadi malam yang tak biasanya bagi sebagian warga Dusun III, Desa Sembahe, Kecamatan Sibolangit, Deliserdang.
Suhu udara dingin malam hari yang biasa dilalui dengan senda gurau bersama keluarga dan kerabat, justru menjadi malam panjang bagi sembilan keluarga yang tinggal di sana.
Hujan deras disertai angin kencang yang melanda Sembahe, justru membawa bencana tanah longsor yang menimpa sembilan rumah. Bukit yang biasanya hijau menjadi tempat pemandangan khas dataran tinggi, malam tadi berubah menjadi duka bagi warga Sembahe.
Ratusan bahkan seribuan kubik tanah dari tebing setinggi kurang lebih 100 meter itu, tiba-tiba runtuh menimpa sembilan unit rumah semi permanen. Akibatnya, sembilan keluarga harus mengungsi karena kehilangan tempat tinggal usai rumahnya hanya menyisakan puing-puing.
Bahkan, bencana alam ini menyebabkan enam orang menjadi korban dimana lima di antaranya meninggal dunia, dan satu lainnya luka-luka. Dari seluruh korban, yakni Sehat Br Tarigan dinyatakan selamat, serta Gobal (39), Rizki Sembiring (14), Boy Simorangkir (48), Jamilah Ginting (49), Rosilawati Ginting (48), meninggal dunia.
Dampak bencana ini, masih menyisakan luka mendalam bagi seluruh warga Sembahe khusunya bagi korban terdampak. Selain itu, turut menyisakan kisah haru dan dramatis yang dialami oleh korban selamat dalam peristiwa mengerikan malam tadi.
Salah satu warga yang selamat dari bencana ini, ialah Dotra Purba. Pria berusia 50 tahun itu mengaku, sebelum terjadinya bencana tanah longsor malam tadi ia sempat berada di dalam rumah.
"Tadi malam lagi duduk nunggu hujan berhenti di rumah, karena deras kali hujannya," ujar Dotra, saat ditemui di lokasi kejadian, Rabu (8/4/2026).
Ia mengaku, sama sekali tak menyangka waktunya jam istirahat setelah lelah bekerja seharian malah menjadi malam yang panjang. Pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pertanian di sekitar Sembahe ini mengaku, saat sedang duduk di dalam rumah ia langsung dikagetkan dengan tumpukan tanah yang menghantam bagian samping rumah kontrakannya.
"Pas aku duduk-duduk, jatuh di sampingku di samping kamarku hancur, bruk gitu aja enggak ada suara aneh," ungkapnya.
Sambil sesekali menatap ke arah bekas longsoran, ia kembali mengisahkan ceritanya bisa lolos dari bencana ini. Katanya, saat itu ia awalnya mengira jika yang jatuh menimpa samping rumahnya adalah pohon tumbang.
Karena takut, ia mengatakan langsung melompat dari jendela bagian belakang rumahnya untuk menyelamatkan diri. Katanya, selain bagian samping material longsoran juga menimpa di bagian depan rumahnya.
"Karena aku sudah ketakutan keluar aku dari belakang dari jendela rumah, aku lagi di bagian belakang rumah di bagian dapur. Kalau di depan sudah kena," ungkapnya.
Usai berhasil menyelamatkan diri, Dotra mengaku ia langsung melaporkan kejadian ini ke warga yang berada di rumah makan yang berada tepat di pinggir jalan Medan-Berastagi. Saat itu, ia langsung berucap jika rumahnya telah tertimpa pohon dan tertimbun tanah.
"Jadi aku ke luar rumah terus ku beritakan sama semuanya, karena enggak ada yang tau kalau belum ku beritakan. Kafana hujan itu deras kali hujannya, ke rumah makan situ aku. Kubilang tengok lah sudah ditimpa pohon, ku bilang gitu," ucapnya.
Dalam kondisi hujan deras disertai angin kencang, warga yang mendapatkan laporan Dotra lantas terkejut. Di tengah gelapnya kondisi lokasi karena kondisi listrik padam, warga pun memberanikan diri melihat langsung kondisi rumah Dotra.
Saat ia dan warga lainnya mengecek ke rumahnya, warga melihat ternyata tanah tak hanya menumbun runah Dotra. Bahkan, delapan rumah lainnya yang masih cukup berdekatan sudah rata dengan tanah.
Ia mengaku, saat ini kondisi runahnya sudah hancur berantakan. Bukan lagi hanya kehilangan tempat tinggal dan harta benda, Dotra mengaku bahkan ia sudah tak lagi memiliki pakaian dan hanya punya yang saat ini dipakainya.
"Sudah enggak ada lagi yang bisa diselamatkan, pakaian pun cuma yang dipakai aja yang diselamatkan," ungkapnya.
Kini, ia mengaku untuk sekedar berlindung dari teriknya matahari dan dinginnya udara malam Sembahe, ia terpaksa mengungsi sementara di kediaman keluarganya di Desa Bikawan. (mns/tribun-medan.com)
| Tangis Pecah di Masjid Al-Qomar, 5 Korban Longsor Sembahe Disalatkan dan Dimakamkan Bersama |
|
|---|
| Duka Keluarga 5 Korban Tewas Longsor Sibolangit, Rumah Tertimbun dan Korban Langsung Dimakamkan |
|
|---|
| Kisah Dotra Purba Selamat dari Longsor Sembahe, Lompat dari Jendela Belakang Rumah |
|
|---|
| Pemkab Deli Serdang Tutup Sementara Lokasi Wisata Pemandian Alam Sembahe |
|
|---|
| Cerita Surya Ginting, Lolos dari Maut saat Keluarganya Tewas Tertimbun Longsor di Sembahe |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/LONGSOR-SEMBAHE-Dotra-Purba-pria.jpg)