Harga Bahan Pokok Masih Tinggi, Pasca Banjir dan Longsor Ekonomi Warga Tapteng Lesu

Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan.

Tayang:
Penulis: Anisa Rahmadani | Editor: Eti Wahyuni
TRIBUN MEDAN/Anisa Rahmadani
Seorang pembeli sedang memilih cabai di Pasar Kalangan Pandan Jalan Lintas Padang Sidimpuan-Sibolga, Rabu (10/12/2025). Harga bahan makanan di Tapteng masih tinggi. 

TRIBUN-MEDAN.com, TAPTENG - Usai bencana banjir dan longsor di Kabupaten Tapanuli Tengah,  warga mulai menghadapi  berbagai kesulitan untuk keberlangsungan hidupnya.

Mulai dari permasalahan krisis air bersih, ekonomi, gas, dan listrik di sejumlah kecamatan yang masih mati, hingga harga bahan sembako dan pokok.

Pantauan Tribun Medan, di Kota Pandan dan Sibolga, pasar-pasar tradisional sudah mulai aktif berjualan.

Seperti di Pasar Kalangan Pandan yang terletak di Jalan Lintas Padangsidimpuan-Sibolga. Seluruh pemilik kios di pasar ini, sudah mulai menjajakan jualannya.  Hanya beberapa kios yang masih belum buka.

Namun, Pasar Kalangan ini cukup sepi pembeli.  Padahal, sebelum bencana, Pasar Kalangan ini selalu ramai diserbu khususnya warga Kecamatan Pandan, dan Tukka. Hal itu dikarenakan lokasi pasar ini dekat dengan dua kecamatan tersebut.

Selain itu, semua yang dijajakan oleh pedagang tidak seperti biasanya. Hari ini tidak ada yang menjual ikan laut atau ikan sungai, hanya menjual ikan teri dan ikan asin. Tidak ada yang jual daging sapi. Padahal, biasanya Pasar Kalangan ini bisa dikatakan pasar tradisional yang cukup lengkap.

Baca juga: Hari ke-13 Akses masih Terbatas, Warga Desa Suka Maju Langkat Butuh Obat-obatan dan Sembako

Sementara, seluruh pedagang bumbu giling diserbu warga. Mereka lebih memilih membeli bumbu giling dibanding cabai. Hal itu dikatakan seorang pedagang bumbu giling dan bahan makanan Idar (43) kepada Tribun Medan.

Menurut Idar, saat ini kondisi listrik di Tapteng pasca bencana belum 100 persen hidup secara merata. Masih banyak kecamatan yang listriknya belum hidup hingga saat ini.

Untuk itu, kata Idar, mereka memilih membeli cabai giling. Sebab, jika listrik mati, mereka tetap bisa masak sambal tanpa blender.

"Pasca banjir ini harga sembako memang masih naik. Tapi enggak drastis kayak hari pertama bencana terjadi. Dan, saat inj banyak warga yang membeli bumbu giling. Karena listrik masih mati hidup," katanya saat ditemui Tribun Medan di kios jualannya, Rabu (10/11).

Menurutnya, pembeli tetap ramai, tapi mereka membeli dalam jumlah yang lebih sedikit. Hal itu disebabkan, belum pulihnya ekonomi warga Tapteng pasca banjir bandang.

"Tetap ramai pembeli, ada  kemarin mereka beli banyak-banyak untuk stok tapi itu ketika masih bencana. Satu minggu bencana itu ramai sampai stok saya habis.Sekarang pembeli  tetap ada, tapi   mereka beli sedikit-sedikit. Enggak kayak biasanya," jelasnya.

Untuk saat ini yang masih mahal dan sulit didapatkan di Tapteng adalah bawang merah.

“Bawang merah ini Rp 60 ribu. Dari dulu harganya enggak jauh dari situ. Dan ini naik tapi nggak  drastis. Bawang merah ini sulit didapatkan. Barangnya suka kosong," katanya.

Dikatakannya, langka dan naiknya harga bawang merah disebabkan akses jalan Tarutung-Sibolga yang masih terputus serta karena faktor cuaca.

Sementara untuk harga cabai, saat ini masih tinggi. Tetapi tidak seperti beberapa waktu lalu, pasca bencana yang harganya sempat mencapai Rp 300 ribu per kg.

"Itu tiga hari pasca bencana harga cabai hampir Rp 300 ribu. Meningkat tiga kali lipat. Tapi hari ke empat pasca bencana  itu harganya turun drastis Rp 180 ribu. Kemudian  hari ke lima turun lagi Rp 100 ribu. Dan saat ini menjadi Rp 65 ribu. Ini masih tinggi tapi tidak naik drastis," ucapnya.

Diterangkannya juga, sementara untuk tomat harga tetap stabil. Tetapi untuk bawang putih itu naik Rp 10 ribu yang tadinya Rp 30 ribu jadi Rp 40 ribu.

"Namun yang paling langka saat ini adalah sayur. Biasanya kita ambil sayur dari Kecamatan Lopian dan Tukka. Tapi lihatlah hancur semua lahannya. Makanya kita sekarang ambil sayur di Sorkam, itu pun yang ada cuma sayur singkong dan sayur kangkung harganya Rp 5.000 satu ikat biasanya Rp 2.000 per ikat," jelasnya.

Hal senada disampaikan pedagang daging ayam. Menurutnya, tidak ada  kelangkaan daging ayam. Hanya saja memang harga lebih naik namun tidak signifikan.

"Harga ayam Rp 40 ribu. Naik. Biasanya Rp 30-35 Ribu. Pembeli ramai tapi mereka beli sedikit-sedikit enggak beli seperti biasanya," jelas penjual ayam.

Bupati Lakukan Sidak 

Rauda Hutagalung, warga Pandan mengatakan, tak bisa membeli dalam ukuran banyak, karena suaminya belum bisa bekerja seperti biasanya.

"Kami beli secukupnya saja. Karena harus pandai ngatur keuangan. Suami nelayan, lagi nggak ke laut. Karena ombak masih tinggi. Sementara saya nggak bisa jualan di kantin karena anak sekolah masih libur. Jadi yang penting sekarang, kami sehat  rumah sudah bisa ditempati. Tinggal memikirkan ekonomi lah ini," ucapnya singkat.

Sementara itu, Bupati Masinton mengatakan akan melakukan sidak ke sejumlah pasar pasca bencana banjir dan longsor.

Hal itu dilakukan agar harga bahan sembako, makanan yang dijual warga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan.

"Kami akan mulai tinjau pasar-pasar. agar harga bahan pokok dan makanan stabil. Kami juga mengusahakan percepatan perbaikan infrastruktur jalan agar bahan-bahan sembako bisa masuk dengan cepat ke Tapteng," ucapnya pada saat diwawancarai Tribun Medan di Gor Pandan beberapa waktu lalu.

 

 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved