TRIBUN WIKI

Hari Lingkungan Hidup Sedunia 5 Juni 2026, Bersiap Hadapi Triple Planetary Crisis

Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2026 menjadi momentum untuk bersiap hadapi Triple Planetary Crisis.

Tayang:
Penulis: Array A Argus | Editor: Array A Argus
TRIBUN MEDAN/Dedy Kurniawan
Foto Kondisi gunungan sampah di TPA Terjun Marelan. Kondisi saat ini butuh perhatian serius karena potensi overload, Kamis (12/3/2026). 

TRIBUN-MEDAN.COM,- Tanggal 5 Juni 2026 jatuh pada hari Jumat.

Pada hari ini, akan diperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Republik Indonesia menyebutkan, bahwa peringatan tahun ini mengangkat tema #NowForClimate.

Secara global, tema "Climate Action" atau Aksi Iklim berfokus pada perubahan iklim dan sinyal mendesak yang dikirimkan Bumi, serta sinyal yang kita pilih untuk kirimkan sebagai respons.

Baca juga: Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Yayasan AHM Tanam Puluhan Ribu Mangrove

Kampanye global dari UNEP (United Nations Environment Programme) menyerukan kepada semua orang untuk turun tangan, melangkah lebih jauh, dan membantu mengarahkan dunia yang sudah bergerak menuju tindakan iklim yang lebih nyata.

Di sisi lain, KLH menyebut bahwa momentum ini jangan sampai dijadikan seremoni saja, tapi bagaimana kita semua bersiap menghadapi Triple Planetary Crisis.

Triple Planetary Crisis adalah istilah resmi dari UNEP atau Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menggambarkan tiga krisis besar yang mengancam stabilitas planet Bumi secara bersamaan dan saling memperkuat.

Baca juga: Sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environment Day

Istilah ini digunakan PBB untuk menegaskan bahwa Bumi sedang menghadapi ancaman serius pada sistem pendukung kehidupan planet, bukan sekadar masalah lingkungan lokal atau regional.

Istilah ini juga dikenal sebagai "krisis planet tiga kali lipat" dan merujuk pada tiga tantangan lingkungan global yang saling terkait dan berdampak besar pada keberlangsungan kehidupan di planet Bumi.

Ilustrasi sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia
Ilustrasi sejarah Hari Lingkungan Hidup Sedunia (aimsindia via Kompas TV)

Tiga Krisis Planet yang Mengancam Bumi

1. Perubahan Iklim (Climate Change)

Krisis pertama adalah perubahan iklim, yang ditandai dengan meningkatnya suhu rata-rata global dan terganggunya pola cuaca di Bumi.

Perubahan iklim sebagian besar disebabkan oleh peningkatan emisi gas rumah kaca akibat aktivitas manusia, seperti pembakaran bahan bakar fosil (batu bara, minyak, gas), deforestasi, dan praktik pertanian intensif.

Baca juga: Aksi Tanam Bibit Pohon di Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Medan Tuntungan

Dampak perubahan iklim yang semakin nyata:

  • Cuaca ekstrem seperti banjir, kekeringan, gelombang panas, dan tanah longsor

  • Peningkatan suhu global yang menyebabkan pencairan es di kutub dan kenaikan permukaan laut

  • Perubahan pola curah hujan yang menyebabkan kekeringan di beberapa daerah dan banjir di daerah lain

  • Sektor pangan, kesehatan, dan infrastruktur menjadi pihak yang paling terdampak

2. Pencemaran dan Limbah (Pollution and Waste)

Krisis kedua adalah pencemaran lingkungan, yang mencakup pencemaran udara, air, dan tanah dari limbah industri, plastik, dan bahan berbahaya lainnya. Pencemaran berdampak langsung pada kesehatan manusia sekaligus merusak ekosistem alam.

Bentuk pencemaran yang menjadi perhatian global:

  • Polusi udara dari transportasi, industri, dan pembakaran bahan bakar yang menyebabkan masalah kesehatan seperti asma dan penyakit paru-paru

  • Limbah cair dan bahan kimia yang mencemari sumber air, mengancam kehidupan akuatik dan kesehatan manusia

  • Sampah plastik yang terakumulasi di laut dan daratan

  • Polusi tanah dari penggunaan bahan kimia berbahaya dalam pertanian

Menurut WHO, polusi udara luar ruangan diperkirakan menyebabkan 4,2 juta kematian dini di seluruh dunia pada tahun 2019, dengan sekitar 89 persen terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

3. Kehilangan Keanekaragaman Hayati (Biodiversity Loss)

Krisis ketiga adalah hilangnya keanekaragaman hayati dan degradasi alam, yang ditandai dengan penurunan populasi spesies dan kerusakan habitat alami. Kehilangan keanekaragaman hayati mengacu pada terjadinya penurunan atau hilangnya keanekaragaman hayati, yang meliputi hewan, tumbuhan, dan ekosistemnya.

Penyebab utama hilangnya keanekaragaman hayati:

  • Deforestasi dan alih fungsi lahan

  • Eksploitasi berlebihan seperti perburuan liar dan penangkapan ikan yang tidak berkelanjutan

  • Pencemaran lingkungan yang merusak habitat

  • Perubahan iklim yang mempengaruhi habitat alami dan spesies yang bergantung padanya

Dampak hilangnya keanekaragaman hayati:

  • Terganggunya keseimbangan ekosistem

  • Menurunnya fungsi alam seperti penyediaan air bersih dan pengendalian hama

  • Berkurangnya kemampuan alam untuk menyerap emisi karbon dan meredam bencana

  • Mengurangi ketahanan planet terhadap perubahan iklim

Mengapa Ketiga Krisis Ini Saling Berkaitan?

Triple Planetary Crisis tidak dapat dipahami secara terpisah karena ketiganya saling memengaruhi dalam satu sistem planet dan bersifat saling memperkuat. Hubungan antar krisis planet dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Perubahan iklim mempercepat degradasi alam dan kerusakan ekosistem

  • Pencemaran memperburuk kualitas lingkungan dan kesehatan, serta memperparah tekanan terhadap keanekaragaman hayati

  • Hilangnya biodiversitas mengurangi ketahanan planet terhadap perubahan iklim

  • Ketiga krisis ini interconnect (saling terhubung) untuk meningkatkan risiko lingkungan dan menyebabkan kerugian ekonomi global

Mengapa Disebut "Krisis Planet"?

Ketiga crisis ini disebut sebagai krisis planet karena dampaknya langsung pada sistem Bumi seperti atmosfer, hidrosfer, dan biosfer, serta memengaruhi keberlangsungan hidup manusia dan semua makhluk hidup lainnya.

Ini bukan masalah lingkungan lokal atau regional, melainkan ancaman terhadap seluruh sistem pendukung kehidupan di planet Bumi.

Menurut Dewan PBB, Triple Planetary Crisis akan menentukan masa depan kehidupan yang baik dan sehat di Planet Bumi.

Dampak terhadap Manusia dan Ekonomi

Dampak Triple Planetary Crisis tidak hanya dirasakan oleh lingkungan tetapi juga oleh masyarakat global:

Kesehatan Manusia: Polusi udara dan air menyebabkan berbagai penyakit termasuk kanker dan gangguan pernapasan, serta meningkatkan angka kematian di seluruh dunia.

Ekonomi Global: Krisis lingkungan dapat menyebabkan kerugian ekonomi signifikan melalui biaya pemulihan bencana alam yang lebih tinggi dan hilangnya potensi ekonomi dari sektor-sektor yang bergantung pada keanekaragaman hayati.

Keadilan Sosial: Komunitas yang paling rentan (perempuan, anak-anak, masyarakat adat, penyandang difabilitas, dan kelompok miskin) sering kali menjadi yang paling terdampak oleh perubahan iklim dan pencemaran lingkungan, yang memperburuk ketidaksetaraan sosial dan ekonomi.

Solusi dan Langkah yang Dapat Diambil

Meskipun tantangan ini sangat besar, ada upaya-upaya yang dapat diambil untuk memitigasi dampak Triple Planetary Crisis:

  • Mendorong kebijakan dan investasi yang mendukung transportasi lebih bersih, rumah hemat energi, pembangkit listrik terbarukan, industri bersih, dan pengelolaan limbah kota yang lebih baik

  • Meningkatkan akses terhadap energi rumah tangga yang bersih untuk mengurangi polusi udara

  • Meningkatkan pengetahuan publik tentang isu-isu lingkungan dan memperkuat aksi kolektif di tingkat komunitas

  • Pendekatan berbasis sains dengan pemantauan lingkungan yang baik dan pengelolaan berbasis data

  • Penguatan gerakan climate litigation (litigasi iklim) untuk keadilan iklim

Sejarah Awal Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Asal-usul Hari Lingkungan Hidup Sedunia berawal dari Konferensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Lingkungan Hidup Manusia yang diselenggarakan di Stockholm, Swedia, pada 5-16 Juni 1972.

Dalam konferensi bersejarah ini, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 5 Juni sebagai hari peringatan lingkungan hidup tingkat dunia.

Konferensi Stockholm menjadi titik balik penting dalam sejarah lingkungan global karena pertama kalinya negara-negara di dunia berkumpul untuk membahas isu-isu lingkungan secara serius.

Konferensi ini menandai lahirnya kesadaran bahwa perlindungan lingkungan adalah tanggung jawab bersama seluruh umat manusia.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia pertama kali dirayakan secara resmi pada 5 Juni 1974, satu tahun setelah konferensi Stockholm.

Tema perdana yang diusung dalam perayaan pertama ini adalah "Only One Earth" (Hanya Satu Bumi), yang menekankan pentingnya melindungi planet tunggal yang menjadi rumah bagi seluruh kehidupan di alam semesta.

Meskipun beberapa sumber menyebutkan perayaan pertama terjadi pada 1973 di Swiss dengan tema yang sama, perayaan resmi pertama yang diakui secara internasional adalah pada tahun 1974.

Tujuan dan Signifikansi

Hari Lingkungan Hidup Sedunia diciptakan untuk berbagai tujuan penting:

Peringatan ini mendorong aksi nyata dari semua pihak untuk menjaga kelestarian alam.

Setiap tahun, tema yang berbeda diangkat untuk menyoroti isu lingkungan spesifik yang sedang menjadi prioritas global.

Hari Lingkungan Hidup Sedunia juga menjadi platform untuk meningkatkan kesadaran publik tentang tantangan lingkungan yang dihadapi bumi, mulai dari polusi, perubahan iklim, hingga hilangnya keanekaragaman hayati.

Peringatan ini mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat luas untuk memperkuat kolaborasi dalam memobilisasi aksi nyata demi menjaga kelestarian lingkungan.(ray/tribun-medan.com)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di FacebookInstagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved