Banjir dan Longsor di Sumut

Roidah Situmeang Menangis Rumah yang Dibangun Bersusah Payah Roboh Akibat Longsor di Sibolga

Rumah yang dibangun bersusah payah roboh akibat longsor di Sibolga, Roidah Situmeang setiap hari saya pandangi.

Tayang:
Penulis: Fredy Santoso | Editor: Tria Rizki

Rumah yang Dibangun Bersusah Payah Roboh Akibat Longsor di Sibolga, Roidah Situmeang: Setiap Hari Saya Pandangi, Hancur Hati ini

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN - Roidah Situmeang, warga Jalan Perjuangan Kelurahan Aek Parombunan, Kecamatan Sibolga Selatan, Kota Sibolga tak kuasa menahan tangisnya.

Mengenakan hijab dan daster berwarna cokelat, ia berulang kali menyeka air matanya sambil terisak.

Matanya tak bisa berpaling dari rumahnya yang hancur akibat bencana longsor pada Selasa 25 November lalu.

Setiap hari, ia selalu duduk di kursi kayu, seberang jalan menghadap puing-puing bangunan rumahnya.

Setiap hari pula, air matanya menetes, saat mengingat rumah yang dibangun bersusah payah oleh suaminya hancur seketika.

Belum lagi, rumah yang berada di lereng bukit itu baru selesai direnovasi 2 bulan yang lalu.

"Setiap hari saya disini melihat rumah itu. Tidak bisa dibayangkan. Begitu susahnya kami membangun dan baru 2 bulan lalu rumah ini selesai dibangun lantai duanya,"kata Roidah Situmeang, Kamis (11/12/2025).

Kini Roidah cuma bisa pasrah dengan keadaan pascabencana yang meluluhlantakkan bangunan rumahnya.

Untuk sementara, ia menyewa rumah sederhana tanpa apapun untuk ditinggali bersama anak lelakinya.

Ia berharap ada bantuan pemerintah untuk membangun kembali istana tempatnya berlindung dari hujan, maupun panas.

Sebab, tak ada satupun barang dan sisa rumah yang bisa diambilnya.

Semuanya hancur begitu cepat, tanpa kompromi.

Belum lagi, rumah itu baru dibangun bagian lantai 2 menggunakan uang pinjaman sebesar Rp 50 juta, yang baru dicicil sebanyak 4 kali.

Ia sudah memberitahu suaminya, namun belum bisa pulang karena sedang melaut dan cuaca buruk.

"Saya berharap pemerintah bisa membantu, kalau bisa mengembalikan rumah saya seperti sedia kala. Sekarang saya menyewa rumah karena bapaknya sedang di laut,"harapnya.

Roidah mengatakan, bencana longsor yang menghantam rumahnya terjadi pada Selasa 25 November lalu, sekira pukul 14:00 WIB.

Sebelum kejadian, ia sudah merasakan sesuatu bakal terjadi.

Sebelum longsor, ia sudah mengumpulkan semua berkas-berkas penting untuk dimasukkan ke dalam tas, lalu dibawa keluar rumah menuruni anak tangga, menuju jalan raya.

Ternyata benar. Begitu ia sampai ke jalan beraspal dan berbalik ke belakang, rumahnya langsung roboh kena longsor dari bukit yang berada di belakangnya.

"Sebelum rumah longsor, perasaan saya kurang enak makannya saya keluar dari rumah dan turun. Begitu dibawah rumah hancur."


(Cr25/Tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved