Sumut Terkini

Berawal dari Limbah, Cocopeat dan Cocofiber Diekspor ke China

Dari Limbah Jadi Devisa, Cocopeat dan Cocofiber Asahan Tembus Pasar China.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Alif Al Qadri Harahap | Editor: Tria Rizki

Berawal dari Limbah, Cocopeat dan Cocofiber Diekspor ke China

TRIBUN-MEDAN.COM, KISARAN - Dari limbah kelapa, serabut kini memiliki nilai ekonomis yang menjadi minat di luar negeri. Cocopeat, dan Cocofiber produk olahan dari sabut kelapa itu hendak dikirim ke China.

Kelapa yang memiliki banyak manfaat ini diolah menjadi Cocopeat yang bermanfaat sebagai media tanam palawija, dan sayuran.

Sedangkan serabutnya, yang disebut Cocofiber, bermanfaat untuk pembuatan jok mobi, springbed, dan olahan kerajinan seperti sikat, dan sapu.

Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin Siregar mengaku ini merupakan terobosan baru dalam memproduksi serabut kelapa hingga menjadi cuan yang ekonomis.

"Jadi sabut kelapa ini diolah untuk dijadikan sebagai media taman. Kemudian, untuk Cocofiber itu dibuat sebagai jok mobil, tempat tidur, alas kaki dan sebagainya," ujar Bupati Asahan, Taufik Zainal Abidin Siregar, Kamis (12/2/2026).

Katanya, serabut kelapa ini seluruhnya berasal dari Kabupaten Asahan yang diambil dari masyarakat Air Joman, Sungai Kepayang, hingga Kecamatan Tanjungbalai.

"Ada 20 hektar lahan perkebunan kelapa di Kabupaten Asahan. Maka sumbernya ini semua dari kelapa dalam. Selain itu, kelapa di Kabupaten Asahan ini juga ada koprah," katanya.

Katanya, ini merupakan program dari pemerintah pusat dalam mengembangkan program pemberdayaan alam dan manusia.

"Maka dari itu, atas binaan Camat, Kapolsek, Danramil, maka adik-adik kita ini dapat berkreasi menciptakan dari sabut kelapa, menjadi produk seperti ini," katanya.

Ia mendukung penuh program pengolahan Cocopeat dan Cocofiber, sekaligus untuk meningkatkan kualitas perekonomian masyarakat.

"Kali ini akan di eksport ke Cina sebanyak 6 kontainer, tiga kontainer hari ini, dan tiga lagi besok. Diberangkatkan melalui Belawan menuju China," katanya.

Sementara direktur PT Hijau Surya, Budi Chandra mengaku ide ini bermula dari keresahan yang melihat sabut kelapa hanya menjadi limbah dari produksi kelapa.

"Memang kami sudah lama menggunakan Cocopeat sebagai media tanam. Kemudian kami produksi, kami gunakan dan sebagian kami jual keluar. Sehingga, kami coba membuat dan ternyata ada peminatnya," kata Budi Chandra.

Alhasil, sekitar 260 serapan tenaga kerja terbangun di PT Hijau Surya.

"Sekarang kami juga masih mengambil serabut kelapa dari masyarakat untuk diproses," katanya.

(cr2/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved