Honorer Rusak Gedung DPRK

Akibatnya, kaca jendela dan meja pecah, sejumlah AC dan kursi anggota dewan rusak parah.

Tayang:

* Jendela Pecah, Kursi Berpatahan
* Polisi Lepas Tembakan
* Kantor BKD juga Didemo

TRIBUN-MEDAN.com, KUTACANE - Ratusan tenaga honorer di Kabupaten Aceh Tenggara (Agara) yang namanya tidak tercantum dalam database karena tidak lulus, Kamis (19/4) sekitar pukul 14.30 WIB mengobrak-abrik ruang sidang DPRK Agara di Kecamatan Babussalam. Kursi-kursi mereka patahkan dan hamburkan ke atas meja, bahkan ke luar gedung. Akibatnya, kaca jendela dan meja pecah, sejumlah AC dan kursi anggota dewan rusak parah.

Amatan Serambi, aksi massal ala honorer yang kecewa itu, awalnya berlangsung damai. Begitu memasuki dan menduduki ruang sidang dewan, mereka langsung menyampaikan aspirasinya dengan tertib.

Salah satu tuntutan mereka adalah agar seluruh anggota DPRK Agara yang jumlahnya 25 orang, hadir ke ruang sidang untuk mendengarkan aspirasi mereka terkait pangkalan data (database) honorer di daerah itu. Pengunjuk rasa juga menghendaki agar Bupati dan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Agara, segera hadir.

Permintaan tersebut mereka tujukan kepada anggota dewan yang saat itu menyambut berada di ruang sidang, yakni Bukhari (dari Hanura), Buhari Selian (PAN), M Yunir, Syamsiar, Budiamansyah, dan Tgk Appan Js.

Setelah ditunggu beberapa waktu, ternyata keenam legislator itu tak berhasil menghadirkan seluruh anggota DPRK, bupati, maupun ketua BKD setempat, Samanuddin. Karena tak ada jawaban yang jelas dari anggota dewan yang menyambut mereka, lalu massa yang menduduki kursi dewan bangun serempak.

Mereka langsung mengayun-ayunkan kursi dan membantingkannya ke dinding ruang sidang, sehingga jendela ruang sidang pecah. Akibatnya, hampir seluruh kursi di ruangan itu patah, meja rusak, dan fasilitas lainnya berupa AC serta pot bunga pecah berantakan.

Melepas tembakan
Aparat keamanan tidak tinggal diam melihat aksi yang mulai anarkis itu. Di saat demonstran mengobrak-abrik ruang sidang dewan, terdengar beberapa kali suara letusan senjata api milik aparat. Massa pun, termasuk keenam anggota dewan tadi, berhamburan ke luar ruang sidang mendengar tembakan peringatan itu.

Ke luar dari ruang sidang, bukan berarti aksi mereka terhenti. Di pekarangan Gedung DPRK Agara massa kembali mengonsolidasi diri justru pada saat mereka mulai kelaparan.

Dalam keadaan perut keroncongan, mereka bergerak naik sepeda motor menuju Kantor BKD Agara yang jaraknya sekitar lima kilometer dari gedung DPRK. Mereka berupaya mengobrak-abrik kantor BKD, namun aparat keamanan lebih sigap, sehingga kantor tersebut berhasil diamankan. Namun, kaca jendelanya ada yang pecah kena lemparan.

Arus transportasi pun sempat macet sekitar satu jam, karena massa memenuhi badan jalan Agara-Medan. Hal ini memaksa sejumlah polantas turun ke lokasi untuk mengatur arus lalu lintas.

Sebuah mobil pemadam kebakaran pun didatangkan ke lokasi sebagai langkah antisipasi, jika massa nekat membakar kantor BKD. Tapi massa yang sedang beringas malah mengejar mobil pemadam, sehingga sopirnya buru-buru berputar arah, menjauhkan mobil itu dari kerumunan massa.

Di Kantor BKD yang berlokasi di Desa Tanah Merah, Kecamatan Badar, demonstran menuntut agar database honorer versi BKD itu dibatalkan oleh Menteri Penertiban Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan & RB), Ir Azwar Abubakar MM. Pasalnya, banyak yang namanya tercantum dalam database itu justru honorer fiktif alias honorer superkilat.

Para demonstran yang dikawal aparat kepolisian sempat adu mulut dengan Kabid Pembinaan dan Pengembangan BKD Agara, Irfan Sebayang. Mereka menuding BKD Agara “main mata” dengan tenaga honorer fiktif yang kemudian lulus dan namanya masuk database. Demonstran meminta polisi mengusut tuntas kasus itu.

Kapolres Agara, AKBP Trisno Riyanto, Kasat Reskrim Iptu M Firdaus, Kapolsek Badar, Iptu Gokma Sitompul, dan para perwira lainnya langsung turun ke lokasi. Kapolres berdialog dengan demonstran. Ia minta demonstran tidak berbuat anarkis. “Jika ada hal-hal yang dicurigai atau ada temuan terkait database tersebut laporkan ke polisi,” kata Kapolres.

Mendengar penjelasan Kapolres itu, para demonstran spontan membubarkan diri. Sebagiannya ada yang kembali ke posko mereka di Desa Pulonas.

Pantauan Serambi di lapangan, aparat kepolisian hingga kemarin sore masih terlihat mengamankan Kantor BKD dan DPRK Agara, karena khawatir demo anarkis itu terulang. (as)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved