Baca Selengkapnya di Tribun Medan
Lonjakan Harga Cabai Sulit Diredam
"Harganya memang sudah mahal waktu ambil didistributor, bukan sengaja dijual mahal sama pedagang,"
- Pedagang Jual Rp 90 Ribu Per Kg
TRIBUN-MEDAN.com - Cabai merah masih menjadi penyebab utama tingginya inflasi Sumatera Utara (Sumut), terutama di Medan. Di bulan Oktober, cabai merah hampir menyentuh Rp 100 ribu per kilogram atau naik sekitar 37,38 persen.
Dari pantauan Tribun di sejumlah pedagang yang ada dibeberapa pasar tradisional di Medan, harga cabai merah terus melambung, rata-rata pedagang menjual sekitar Rp 85 ribu hingga Rp90 ribu per kilogram.
"Harganya memang sudah mahal waktu ambil didistributor, bukan sengaja dijual mahal sama pedagang," ujar Lamtiar Gultom, pedagang Pasar Sukaramai ketika ditemui Tribun, Rabu (2/11).
Hal senada juga dikatakan Ali Nurdin, pedagang sayuran di Pasar Pringgan Medan. Ia menuturkan, harga cabai merah memang masih naik dari beberapa bulan lalu.
Ketua Tim Pemantau Harga Pangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, lonjakan harga cabai merah yang telah terjadi sejak dua bulan lalu memang belum dapat diredam. Pasalnya, pasokan di pasar-pasar tradisional dan modern terus menipis.
Ia menerangkan, suplai cabai merah dari Karo terus menurun juga menjadi salah satu alasan kenaikan harga terjadi. Hal yang sama juga terjadi dengan pasokan dari Aceh, Pematang Siantar dan Batubara.
"Intensitas hujan yang tinggi menjadi penyebab utama terganggunya distribusi cabai merah," terangnya.
Ia menjelaskan, cabai menjadi barang langka yang harganya mahal saat ini atau bisa dibilang dalam kondisi darurat cabai.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Wien Kusdiatmono menuturkan, andil inflasi cabai merah menjadi yang terbesar di empat kota indeks harga konsumen (IHK).
"Di Sibolga, andil inflasi cabai merah mencapai 1,18 persen, Pematang Siantar 0,39 persen, Medan 1,08 persen, dan Padang Sidempuan 0,35 persen," ujarnya.
Ia menjelaskan, hal tersebut mengakibatkan inflasi Sumut pada bulan lalu berada jauh di atas rata-rata nasional 0,14 persen.
Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Keuangan Daerah Bank Indonesia Sumatera Utara, Budi Trisnanto, mengatakan angka inflasi pada Oktober jauh di luar perkiraan Bank Indonesia.
"Tingginya harga cabai merah kemungkinan akibat virus kuning dan dampak erupsi Sinabung," tuturnya.
Ia menerangkan, Bank Indonesia berkoordinasi dengan pemerintah dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sumut agar menambah luas lahan dan meningkatkan kerjasama dengan pemerintah daerah lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.(*) Baca Selengkapnya Di Harian Tribun Medan Edisi Kamis (3/11/2016)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/naomi-pedagang-cabai-hijau-tribun_20160331_150856.jpg)