Tribun Ramadan

Ini Tanda-tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar yang Bisa Dirasakan Manusia

Ketua Forum Kiyai Muda Sumatera Utara Machfoedz Siddi Muslih memberikan pendapatnya terkait malam Lailatul Qadar.

Ini Tanda-tanda Datangnya Malam Lailatul Qadar yang Bisa Dirasakan Manusia
Tribunnews.com/Adi Suhendi
Malam di Arafah 

Laporan Wartawan Tribun-Medan, Fatah Baginda Gorby

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Ketua Forum Kiyai Muda Sumatera Utara Machfoedz Siddi Muslih memberikan pendapatnya terkait malam Lailatul Qadar.

Menurut Machfoedz, malam seribu bulan ini adalah malam yang ditunggu-tunggu para muslim di sepuluh malam terakhir Bulan Ramadan.

"Malam di mana Nabi Muhammad SAW beribadah lebih giat dibanding malam-malam sebelumnya," ujarnya kepada Tribun-medan.com Jumat (16/6/2017).

Alumni Pesantren Lirboyo Kediri ini menjelaskan di malam Lailatul Qadar udara tidak dingin dan tidak berawan. Cuaca di malam itu menurutnya, tenang dan tidak ada badai.

"Keesokan harinya matahari terbit seperti tanpa sinar. Setelah matahari naik, cahayanya lebih cerah tetapi tidak panas," jelasnya.

Baca: Hari Ini Malam ke-27 Ramadan, Akankah Lailatul Qadar Datang? Ini Amalan yang Sebaiknya Dilakukan

Baca: Malam Lailatul Qadar Memang Rahasia Allah, Tapi Tanda-tanda Kehadirannya Bisa Dirasakan Manusia

Baca: Ingin Mendapatkan Malam Lailatul Qadar? Ini Amalan yang Harus Dilakukan

Ia mengaku mendapat penjelasan tentang malam itu dari kitab-kitab yang dipelajarinya.

Lalu machfoedz menambahkan, di malam itu kaum muslim akan menemukan ketenangan dan nikmatnya beribadah. Menurutnya, malaikat dengan izin Allah telah menurunkan ketenangan di sepanjang malam tersebut.

Menurutnya ada perbedaan pendapat ulama mengenai jatuhnya Malam Lailatul Qadar. Ada sebagian ulama, yang menetapkan malam itu di malam ke 27 ramadan, dan ada sebagian lagi berpendapat di malam-malam ganjil akhir Ramadan.

"Penentuan malam itu termasuk rahasia Allah," ungkapnya.

Belum lagi menurut Machfoedz, sering terjadi perbedaan awal Ramadan di Indonesia. Namun baginya perbedaan itu tidak boleh menjadi penghalang untuk mendapatkan malam yang mulia itu.

"Kita bisa i'tikaf di masjid ataupun di rumah. Mengisi malam itu dengan tadarus Al Quran, berzikir, dan beristighfar," jelasnya.(*)

Penulis: Arifin Al Alamudi
Editor: Arifin Al Alamudi
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved