RAMADAN 2026

Ramadan Tanpa Takjil Jalanan: Pengalaman Mahasiswi Indonesia di Manchester

Pipit merupakan mahasiswa magister di University of Manchester, Inggris, jurusan Bisnis Berkelanjutan.

Penulis: Rizky Aisyah | Editor: Ayu Prasandi
IST
Syahfitri Harahap, mahasiswa magister di University of Manchester, Inggris, jurusan Bisnis Berkelanjutan. Ramadan tahun ini jadi pengalaman pertamanya berpuasa jauh dari rumah. 

TRIBUN-MEDAN.com,MEDAN- Menjalani Ramadan di luar negeri tentu menghadirkan pengalaman yang berbeda, apalagi kalau berada di negara dengan populasi Muslim yang tidak sebesar di Indonesia.

Hal itu yang sekarang sedang dirasakan oleh Syahfitri Harahap, atau yang akrab dipanggil Pipit. 

Pipit merupakan mahasiswa magister di University of Manchester, Inggris, jurusan Bisnis Berkelanjutan.

Sejak tiba di Inggris pada September 2025, Ramadan tahun ini jadi pengalaman pertamanya berpuasa jauh dari rumah.

“Sekarang udah sekitar enam bulan aku tinggal di sini sejak datang ke Inggris bulan September 2025,” ujar Pipit.

Durasi puasa di Inggris ternyata berbeda dengan di Indonesia. Pada awal Ramadan, waktu puasa berlangsung sekitar 12 jam karena saat itu Inggris masih dalam masa peralihan dari musim dingin menuju musim semi. Tapi makin hari, waktunya juga makin panjang.

“Awal Ramadan kemarin puasanya sekitar 12 jam, dari jam 6 pagi sampai setengah 6 sore. Tapi makin ke sini karena sudah masuk spring, sekarang kurang lebih 13 jam dari jam 5 subuh sampai sekitar jam 6 sore,” jelasnya.

Walaupun durasi puasanya cukup lama, Pipit mengaku tidak terlalu kesulitan menyesuaikan diri dengan aktivitas kuliah. Jadwal kelasnya juga tidak terlalu padat karena hanya berlangsung tiga hari dalam seminggu.

“Kalau aku sendiri sih gak terlalu susah menyesuaikan sama kuliah, karena kelasku cuma tiga hari seminggu dan biasanya udah selesai jam satu siang, paling lama jam empat sore,” katanya.

Sebelum menjalani Ramadan di Inggris, Pipit sempat membayangkan suasananya akan terasa biasa saja. Ia bahkan tidak terlalu berekspektasi akan merasakan suasana Ramadan seperti di Indonesia.

“Awalnya aku kira Ramadan di sini bakal ya biasa aja, karena kita tetap kuliah dan aku juga gak expect bakal dengar azan, soalnya masjid di sini kan jauh-jauh, gak kayak di Indo yang beberapa meter udah ketemu masjid,” ungkapnya.

Namun setelah menjalaninya, pengalaman yang ia rasakan justru di luar dugaan. Meski tidak semeriah di Indonesia, suasana Ramadan tetap terasa, terutama ketika ia berbuka puasa di masjid.

“Jujur aku kaget sih, ternyata vibes Ramadan tetap kerasa banget walaupun gak se-festive di Indonesia,” katanya.

Sebagian besar waktu berbukanya bahkan dihabiskan di masjid atau musala kecil dekat kampus. Selain bisa langsung salat berjamaah, Pipit juga sering bertemu orang-orang baru dari berbagai negara.

“Sejauh ini aku hampir selalu buka puasa di mesjid, mungkin sekitar 70-80 persen selama Ramadan. Selain karena gak harus masak, aku juga bisa sekalian salat tarawih dan ketemu banyak teman baru dari berbagai belahan dunia,” ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved