Cerita Seleb

Alasan Kocak Sapardi Djoko Damono Pilih Jadi Penulis

Sastrawan Sapardi Djoko Damono sekaligus guru besar Ilmu Sastra sudah menekuni dunia kepenulisan, khususnya sastra, lebih khusus lagi puisi.

Antaranews.com
Penyair Sapardi Djoko Damono dengan buku terbarunya "Manuskrip Sajak" di Indonesia International Book Fair 2017, Kamis (7/9/2017). (ANTARA News/ Nanien Yuniar ) 

TRIBUN-MEDAN.com - Sastrawan Sapardi Djoko Damono sekaligus guru besar Ilmu Sastra sudah menekuni dunia kepenulisan, khususnya sastra, lebih khusus lagi puisi, selama lima dekade.

Selama itu pula Sapardi atau Pak Sapardi, demikian ia kerap disapa, telah melahirkan lebih dari 30 buku puisi dan prosa, baik novel maupun kumpulan cerpen; sembilan buku nonfiksi termasuk esai dan sejumlah buku terjemahan.

Sastrawan berusia 77 tahun yang karya-karyanya dikenal hingga kalangan yang bukan pecinta sastra seperti "Hujan Bulan Juni" dan "Aku Ingin" ini, setengah bergurau mengungkapkan alasannya memilih profesi sebagai penulis.

Baca: Akankah Setya Novanto Ditahan Usai Diperiksa Perdana Senin Lusa?

Baca: Tak Kunjung Haid setelah KB Suntik 3 Bulan, Perempuan Ini Syok saat Lihat Hasil USG

Baca: Rahma Azhari Bikin Jagat Maya Heboh usai Pamerkan Foto Tanpa Bra, Ini Fotonya

Baca: Terkait Tewasnya Bayi Debora, Begini Penjelasan RS Mitra Keluarga

"Saya tidak bisa jadi jenderal karena saya kurus. Saya tidak bisa macul (mencangkul--red) karena saya tidak kuat," kata Sapardi selepas acara peluncuran buku "Manuskrip Sajak" di Indonesia International Book Fair 2017, Kamis (7/9) lalu.

Namun setelah itu dia menyampaikan jawaban dengan serius. Alasan memilih jadi penulis, katanya, karna dirinya hobi membaca.

Sapardi berpendapat menulis menjadi terasa mudah jika seseorang terbiasa membaca.

"Orang yang tidak pernah baca puisi tidak akan pernah bisa menulis puisi," tuturnya.

"Karena saya membaca puisi sejak SMP, tidak tahu kenapa tiba-tiba bisa menulis," kata sastrawan yang juga pernah menjadi gitaris band Fakultas Sastra saat ia menjadi mahasiswa Sastra Inggris di Univesritas Gajahmada Yogyakarta.

Apa pun ia tuliskan, termasuk segala kegalauan masa muda yang masih tercetak jelas dalam kumpulan manuskrip dari era akhir 1950 ketika peraih Penghargaan untuk Pencapaian Seumur Hidup dalam Sastra dan Pemikiran Budaya dari Akademi Jakarta itu masih remaja.

Inspirasinya, menurutnya, datang dari mana-mana, termasuk dari kehidupan kampus yang diwarnai banyak perempuan. Jurusan Sastra Inggris UGM, kata Sapardi mayoritas mahasiswanya adalah [erempuan

"Laki-laki cuma empat atau lima, yang lain cewek-cewek cakep semua. Di situ (buku Manuskrip Sajak) nama-namanya ada semua... Tapi nama istri saya ndak ada," canda mantan Redaktur Majalah Kebudaayaan BASIS itu yang segera disambut tawa hadirin.

Sumber: Warta kota
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved