Menderita Tulang Rapuh, 3 Gadis Disabilitas tak Menyerah, Justru jadi Selebritis Online

Mereka tidak dapat berjalan, juga tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Tapi bukan berarti itu membatasi mereka untuk berkarya.

South China Morning Post/Kuaishou.com/Handout
Kakak beradik penyandang disabilitas di China mendapatkan uang dari membuat siaran langsung online. 

TRIBUN-MEDAN.com - Keterbatasan fisik, jangan sampai membuat Anda kurang percaya diri. Karena siapa yang tahu, Anda bisa menciptakan karya dan menghibur orang banyak. Ketiga kakak beradik penyandang disabilitas ini bisa dijadikan contoh.

Mereka tidak dapat berjalan, juga tidak memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Tapi bukan berarti itu membatasi mereka untuk berkarya.

Tiga orang kakak beradik ini berasal dari sebuah daerah pedesaan di Cina barat daya.  Ketiganya mendadak menjadi selebritis online, setelah menunjukkan kehidupan mereka pada platform live-streaming populer.

Selama lima bulan terakhir, Peng Yan berusia 31 tahun, Peng Jiangqiu berusia 28 tahun, dan Peng Jiangdan berusia 25 tahun, menghabiskan hingga enam jam sehari pada platform Kuaishou.com.

Seperti yang dilaporkan Chongqing Evening News pada Sabtu (29/9/2018) lalu, melalui platform online itu, ketiga gadis yang memiliki kondisi tulang rapuh ini membagikan kisah hidup dan juga menyanyikan lagu untuk 260.000 pengikut mereka.

Sebelum kehadiran platform online itu, gadis-gasis asal Chongqing ini menghabiskan sebagian besar hari-hari mereka di tempat tidur atau menonton televisi.

Kondisi merekalah yang membuat semuanya menjadi sulit. Ketiganya mengalami penyakit yang sama dan saking parahnya mereka tidak pernah bisa pergi ke sekolah. Walaupun begitu, mereka tetap belajar membaca. Terlepas dari kesulitan mereka, dengan ceria mereka mengatakan bahwa jiwa mereka sangat sehat.

"Meskipun kami cacat dan tidak pergi ke sekolah, jiwa kami sehat," katanya.

“Kami suka bernyanyi dan melakukan hal-hal baik. Kami memiliki keluarga yang harmonis. Kami mencintai orang tua kami dan adik perempuan kami. Kami juga suka berteman. ”

Sehari-hari, ketiga wanita itu dirawat oleh ayah mereka yang berusia 57 tahun. Pria bernama Peng Boxiang itulah yang selalu membawa ketiga putrinya itu kemana-mana.

 
Ibu mereka yang berusia 54 tahun, bernama Jiang Tinglan, bekerja sebagai seorang pengasuh bayi di kota yang berjarak beberapa kilometer jauhnya dan hanya bisa pulang ke rumah sebulan sekali.

 

 
Menurut laporan, penyakit tulang rapuh mempengaruhi satu dari 15.000 orang di China. Berbeda dengan mereka, orang tua mereka serta adik perempuan paling kecil tidak memiliki penyakit.
 

 
 Sementara itu, tiga saudara perempuan menderita fraktur segar secara teratur. Sekitar dua kali sebulan, mereka akan merasakan kesakian.

 

 
Kini, video siaran langsung di saluran mereka telah banyak membantu kehidupan mereka. Kini mereka bisa memperoleh sekitar 100 yuan atau Rp 217 ribu per hari dengan menjual makanan ringan secara online. Mereka juga menerima donasi dan hadiah dari para penonton yang sangat antusias.

(cr12/tribun-medan.com)
 Artikel ini sudah terbit di South China Morning Post dengan judul ‘We can’t walk but we can sing’: how three Chinese sisters with brittle bone disease created a living for themselves

Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved