Kaki Togu Simorangkir Bengkak setelah Berjalan 102 Km, Janji Selesaikan Misi Keliling Danau Toba
Togu Simorangkir yang konsern bergerak di Bidang Pendidikan di Kawasan Danau Toba ini memiliki misi mulia untuk menggalang dana dan memelihara mimpi
Penulis: Arjuna Bakkara |
Laporan Wartawan Tribun Medan/ Arjuna Bakkara
TRIBUN-MEDAN.COM, DANAUTOBA –Hari ke-3 Togu Simorangkir Pendiri Yayasan Alusi Tao Toba telah menapakkan kaki di Kabupaten Dairi, dalam misinya mewujudkan mimpi anak-anak Kawasan Danau Toba, Rabu (21/11/2018).
Togu Simorangkir yang konsern bergerak di Bidang Pendidikan di Kawasan Danau Toba ini memiliki misi mulia untuk menggalang dana dan memelihara mimpi anak-anak di Sekitaran Danau Toba untuk mendapatkan pendidikan dan buku yang berkualitas.
Sebelumnya, Togu yang merupakan Cicit Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja XII ini bergerak dari titik awal di Parapat pada Senin 19 November 2018 Pukul 06.00 Pagi lalu. Dari Parapat, Togu bergerak mengitari Danau Toba menuju Dairi, Samosir, Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tobasa dan direncanakan kembali ke Parapat.
Togu berencana meyelesaikan misinya dengan target 305 Km dengan Rute yang dijalani yaitu Parapat, Sipolha, Tiga Ras, Simarjarunjung, Saribudolok, Merek, Sumbul, Tele, Dolok Sanggul, Bakkara, Balige. Namun, Togu tidak selalu mulus dalam perjalannya.
Pada langkah 102,2 Kilo Meter kaki kanan Togu bengkak setelah berjibaku menaklukkan beragam medannya jalan. Apalagi, sejak beranjak dari Parapat medan yang dilalui Togu banyak yang menanjak hingga akhirnya tim yang mendampinginya meminta untuk berhenti.
Togu Simorangkir Perlihatkan Kondisi Kakinya di Hari Ketiga Jalan Kaki Keliling Danau Toba
HARI KEDUA, Togu Simorangkir Mulai Rasakan Sakit di Kakinya saat Kelilingi Danau Toba
“Kemarin 24 kilo berjalan kai pakai sandal jepit, dan terpelekok juga jadi kaki kanan bengkak. Atas permintaan tim akhirnya saya harus istrirahat. Kami beranjak dari Sekolah Yapim setelah melaksanakan kegiatan pukul 08,00 WIB sampe sekitar jam 2 kami pun memilih untuk berhenti,” terangnya kepada Tribun melalui sambungan telepon.
Kata Togu, posisi terakhir Togu berhenti di Tanjung Beringin Sumbul karena kakinya mulai keram karena pada hari ke tiga banyak melewati tanjakan. Dia pun sempat berbaring merebahkan tubuh di aspal, hingga akhirya dipandu oleh tim untuk beristirahat sambil makan siang di Hutan lae Pondom Dairi.
Kapolda Sumut Angkat Bicara Soal Dugaan Suap yang Dilontarkan KPK Terkait Kasus Istri Bupati Remigo
Kisah Ngeri Mantan Debitur Pinjaman Online, Masih Mau Minjam Uang?
Viral, Godaan Maia Estianty pada Suami Irwan Mussry, Gombalan Istri Banjir Pujian di Medsos
Chandra Harmoko Diciduk Polisi saat Makan Malam, Diduga Hina Polisi di Media Sosial
Bos Preman Jakarta Hercules Pimpin Langsung Penyerangan Ruko Kalideres, Ciduk Tanpa Perlawanan
Kini posisi di Togu sudah berada Tanjung Beringin Sumbul. Mengatasi rasa keram pada kakinya, dia diolesi minuyak karo oleh rekannya Andar Situmorang, yang disediakan Eka Dalantaa. Disebutnya, dia sudah mandi dan segar serta mempersiapkan diri berdiskusi dengan para petani di tentang pertanian serta literasi ekonomi pada malam harinya.
“Lumayan segar dan 95 persen. Hari ini memang banyak tanjakan dan di situ kenaknya, malam ini sudah bisa diskusi” tambahnya.
Walau hujan mereka tetap jalan kaki dan tetap semangat. Karena dalam melakukan aksinya mereka mengaku merasa enjoy dan tidak paksaan.
Pada waktu tertentu, Togu dan Biston Manihuruk kehujanan. Meski kehujanan, mereka tetap melanjutkan perjalanan, mantel plastic seadanya mereka pakai untuk menangkis air hujan Pada hari pertama, Togu dan Biston menempuh 46,4 Km, lalu hari kedua 41 Km dan hari ke-tiga 14,4 km. Total yang dia jalani yakni 102,2 km
Pada Hari kedua, dalam menempuh 41 km Togu dijerang panasnya matahari. Sepanjang perjalanan, Togu menyempatkan diri menyinggahi beberapa sekolah, seperti pada hari ke tiga berkunjung ke sekolah Yapim di Seribu Dolok.
Semantara pada hari ke-4 akan berkunjung ke SMA I Sumbul dan SD di Tanjung Beringin mengkampanyekan literasi, lalu bergegas mengejar ketertinggalan.
Kendala selama perjalanannya di hari ke-tiga, dia mendapat pengalaman menyenangkan sekaligus tanggapan yang aneh di jalanan. Tanggapan dari masyarakat terhadap dirinya pun beragam. Pada satu ketika saat singgah di warung Togu dianggap aneh apalagi mengikatkan ulos di kepalanya.
