Kunjungi Kantor Tribun Medan, Siswa SMA Plus Mentari Bangsa Aktif Bertanya

Luhetri berharap para siswa semakin meningkatkan minat menulis dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi lagi.

Kunjungi Kantor Tribun Medan, Siswa SMA Plus Mentari Bangsa Aktif Bertanya
TRIBUN MEDAN/NATALIN SINAGA
Foto bersama Siswa-siswi SMA Plus Mentari Bangsa didamping Wakil Kepala Sekolah, Luhetri Muhdalifa Manalu M. Hum, Guru Ekonomi, Simon Halason Tamba S.Pd dan Redaktur Tribun Medan, Etty Wahyuni di Kantor Tribun Medan, Rabu (5/12/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Medan/Natalin

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN -
Siswa-siswi SMA Plus Mentari Bangsa didamping Wakil Kepala Sekolah, Luhetri Muhdalifa Manalu M. Hum dan Guru Ekonomi, Simon Halason Tamba S.Pd berkunjung ke Kantor Tribun Medan, Jalan K.H. Wahid Hasyim No.37, Medan, (5/12/2018).

"Kita berkunjung ke Kantor Tribun Medan, agar anak-anak kita ini semakin mengerti tentang jurnalistik. Siswa-siswi yang hadir ke Kantor Tribun Medan ini perwakilan jurusan IPS dari kelas X, XI, dan X," ucap Luhetri.

Melalui kegiatan ini, Luhetri berharap para siswa semakin meningkatkan minat menulis dan rasa ingin tahu yang lebih tinggi lagi.

Kunjungan siswa-siswi SMA Plus Mentari Bangsa ini disambut baik
oleh Redaktur Tribun Medan, Etty Wahyuni. Selama kunjungan berlangsung, para siswa tampak aktif melontarkan pertanyaan mengenai jurnalistik.

"Kode etik sebuah peliputan deskripsi itu bisa dari berbagai sumber. Wartawan yang menulis berita lalu disampaikan kepada editor selanjutnya editor yang akan mengedit berita tersebut.
Nilai berita yang paling tinggi akurasinya, penting untuk banyak orang, kejadian terkini maka dapat dijadikan berita," ucap Etty

Etty mengatakan biasanya isi berita untuk media online jauh lebih sederhana dibandingkan untuk media cetak. Hal ini karena media online mencatat kecepatan berita jadi saat pencarian bisa lebih unggul dan dapat dikirim secara berkelanjutan.

"Berita media online itu lebih sederhana karena akan berkelanjutan, tapi berita di media cetak itu harus lengkap, karena berita di media cetak lebih terdokumentasi dan akurasi cetak juga lebih unggul," ungkapnya.

Ketika salah satu siswa bertanya tentang bagaimana mengenali berita hoax, Etty menjelaskan cari mengetahui kebenaran berita tersebut melalui sumber resmi yaitu berita mainstream.

"Melalui berita mainstream itu salah satu cara untuk mencari sumber resmi, sehingga bisa dikenali. Bila ada berita, lalu dicari di google dan teryata ada di media
mainstream, bisa jadi berita itu benar," kata Etty.

"Kita sebagai wartawan godaan di lapangan itu banyak. Meskipun begitu, kita sebagai wartawan selalu menjaga integritas, integritas itu sangat paling penting," tambahnya.

Ia mengatakan kode etik wartawan itu dibuat oleh negara, para jurnalis, dan juga secara internal.
"Kita di media, sumber informasi bisa dari mana saja. Dalam menulis berita, kita juga harus objektif dan tetap konfirmasi ke pihak yang berkompeten," ucap Etty.

Dalam kesempatan yang sama, siswa Kelas XI SMA Plus Mentari Bangsa, Etelin mengaku senang bisa berdiskusi mengenai jurnalistis. " Saya jadi lebih tahu tentang berita, cara membuat berita, wawasan saya jadi lebih luas, terima kasih Tribun Medan," kata Etelin.

(cr13/tribun-medan.com)

Penulis: Natalin Sinaga
Editor: Feriansyah Nasution
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved