Cinta dan Benci Alvaro Morata Pada Laga Derbi Madrid
Pada debut Morata, pekan lalu, saat kalah dari Real Betis, 0-1, sejumlah fans menyambungkan kekalahan itu dengan kehadiran sang pemain.
TRIBUN-MEDAN.com-Pelik. Kata itulah yang bisa mewakili perasaan penyerang Spanyol, Alvaro Morata, dengan kota kelahirannya, Madrid. Morata sedang kalut dalam segitiga rasa cinta dan benci kepada dua klub terbesar di ibu kota Spanyol, Atletico Madrid dan Real Madrid, yang akan menjalani laga derbi, Sabtu malam.
Sejak kecil, Morata mengikuti jejak sang kakek sebagai pecinta garis keras Atletico. Dia sudah bermimpi menjadi pesepakbola profesional dengan seragam merah dan putih, tim berjuluk “Los Rojiblancos”.
Pada usia 11 tahun, dia berguru sepak bola di akademi Atletico. Penyerang kelahiran 23 Oktober 1992 itu mengejar impiannya bersama sahabat dekat, gelandang tengah, Jorge Resurreccion Merodio, yang kini dikenal sebagai Koke.
Namun, mimpi tak seiring dengan kenyataan. Nasib Morata dan Koke bak bumi dan langit. Koke moncer menuju tim remaja, sedangkan Morata frustasi karena kekurangan kesempatan bermain.
“Saya berhenti menikmatinya. Saya tidak bermain banyak. Juga tidak punya hubungan baik dengan anggota tim lain, kecuali Koke,” kata pemain yang telah tampil 27 kali di tim nasional Spanyol.
Pemain berusia 26 tahun itu mengubur mimpinya pada 2007. Dia menyeberang ke akademi Getafe. Kepindahan itu membuka jalannya menuju tim yang sangat dibencinya pada masa lalu, Real Madrid.
Bakatnya selama di Getafe terpantau El Real. Sang pemain setinggi 1,87 meter itu pun mengikuti jejak legenda Spanyol, Raul Gonzales, yang pindah dari tim masa kecil Atletico ke Real Madrid, pada 15 tahun sebelumnya.
Sejak saat itu, sisanya hanyalah sejarah. Morata menjalani debutnya di tim senior Madrid pada usia 18 tahun. Dia menjadi pemain muda paling menjanjikan di Los Blancos.
Pada April 2013, Morata membantu El Real menumbangkan Atletico, 2-1, di markas lawan, stadion impiannya saat kecil, Vicente Calderon. Total dia mencatatkan 31 gol dan 12 asis dalam 95 penampilan bersama Sergio Ramos dan rekan-rekan.
Cinta dan benci
Morata mengabdi lima tahun bersama Madrid (2010-2014 dan 2016-2017). Pada 2014-2016, sang penyerang flamboyan itu sempat pindah ke Juventus, sebelum kembali satu musim ke Stadion Santiago Bernabeu, markas El Real. Dan akhirnya, menyeberang ke klub Inggris, Chelsea, pada musim selanjutnya.
Kehilangan sentuhan terbaik di Chelsea, Morata dipinjamkan ke Atletico pada bursa Januari 2019. Dia akan menjadi pemain Atletico selama 18 bulan ke depan untuk mengembalikan performa dan impian masa kecilnya.
Momen emosional bagi Morata akan berlangsung pada Sabtu (9/2/2019) malam WIB, saat dirinya akan menjadi bagian dalam derbi Madrid. Untuk pertama kalinya, dia menjalani derbi melawan tim yang membesarkan namanya.
Kisah segitiga cinta dan benci dimulai. Tentunya, dia sangat cinta dan berhutang kepada Los Blancos yang membesarkan namanya. Namun, tidak bisa dipungkiri, meski mengubur masa kecilnya, Atletico adalah timnya saat ini. Harapan satu-satunya mengembalikan bakat besarnya.
Meski begitu, pilihan mencintai keduanya tidaklah bijak. Morata dituntut menjadi antagonis untuk salah satu pihak. Jika tidak total saat bertemu Madrid, penggemar Atletico pastinya akan marah besar. Sementara itu, seandainya merayakan selebrasi kemenangan, fans Madrid sudah menyiapkan label “judas” atau pengkhianat kepadanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/menjadi-penyerang.jpg)