Orangtua Siswa Protes Ujian PSB di SMP Negeri 1 Siantar Tidak Jujur

Ratusan orangtua siswa yang anaknya tidak lulus dalam ujian Penerimaan



Laporan Wartawan Tribun / Akbar

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Ratusan orangtua siswa yang anaknya tidak lulus dalam ujian Penerimaan Siswa Baru (PSB) di SMP Negeri 1 Kota Siantar melakukan aksi protes di sekolah yang berada di Jalan Merdeka Kecamatan Siantar Barat. Aksi protes yang berubah menjadi kericuhan itu diakibatkan orangtua yang anaknya tidak lulus kurang mendapat respon dari pihak SMP Negeri 1 Siantar. Alhasil orangtua siswa semakin curiga dengan pelaksaan ujian tersebut. Kekesalan orangtua juga dilandaskan pihak sekolah tidak melayani orangtua siswa dalam pengambilan Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) anak mereka.

Pihak sekolah juga sempat mengumumkan SKHUN akan dibagikan kemarin (Rabu,red) sekitar pukul 14.00 WIB diubah dengan pengumuman berikutnya yang menyatakan bahwa SKHUN para siswa yang tidak lulus ujian PSB bisa ditarik kembali hari ini (Kamis,red).

Menyaksikan pengumuman tersebut, emosi orangtua siswa pun memuncak. Karena tidak ingin disibukkan datang kembali ke SMP Negeri 1 hari ini, mereka memaksa masuk, dengan cara hendak menjebol pintu gerbang sekolah yang terdapat dibagian dalam lingkungan sekolah. Aksi hendak menjebol pintu gerbang itu tidak berlangsung lama. Sebab sejumlah orangtua siswa yang lain mengingatkan kalau gedung SMP Negeri 1 tersebut merupakan aset pemerintah. Sehingga, jika itu dirusak, yang dirugikan juga masyarakat.

Jonner Damanik, salah satu orang tua siswa yang anaknya tidak lulus masuk SMP Negeri 1, Rabu (19/6) mengatakan, dirinya tidak percaya dengan hasil ujian PSB SMP Negeri 1, yang diumumkan Dinas Pendidikan (Disdik) Siantar. Menurutnya, terdapat sejumlah kejanggalan dalam pengumuman tersebut. Diantaranya, dari 2000-an peserta yang mengikuti ujian PSB, yang dinyatakan lulus berasal dari nomor peserta dibawah seribu.

“Itukan aneh. Jumlah peserta sekitar dua ribuan tapi yang lulus, kok bisa hanya yang nomor pesertanya dibawa seribu. Kalau memang yang nomor pesertanya diatas seribu tidak bisa menang, untuk apa diterima mendaftar,"kata Jonner Damanik.

Kejanggalan lainnya, sambung Damanik, diinformasikan sebelumnya, kalau pengumuman akan dilakukan kemarin (Rabu,red) sekitar pukul 15.00 WIB. Namun dipagi hari, pengumuman itu sudah tercantum di media cetak. Bahkan dari pengumuman di media cetak itu, tidak turut serta diumumkan hasil ujian PSB dan nilai UN yang menjadi panduan untuk diterima menjadi siswa SMP Negeri 1.

“Kalau mau fair, seharusnya diumumkan berapa nilai setiap siswa. Baik nilai dari hasil ujian maupun nilai UN-nya. Sehingga diketahui rangkingnya, setelah dikalkulasikan 60 persen dari nilai ujian PSB dan 40 persen dari nilai UN,”katanya.

Pantauan www.tribun-medan.com sekitar pukul 14.00 WIB para guru SMP Negeri 1 Siantar, sudah melayani permintaan orang tua siswa yang ingin menarik SKHUN anak mereka masing-masing. Hanya saja, kondisi sekolah tetap tidak bisa dimasuki. Karena setiap pintu masuk ke sekolah itu terkunci. Hal itulah yang membuat konfirmasi dengan Kepala SMP Negeri 1 Siantar, Manuntun Siahaan MM tidak dapat dilakukan. Salah seorang pegawai yang ada disana mengatakan, dirinya tidak mengetahui keberadaan Manuntun Siahaan. Karena dirinya hanya ditugaskan untuk membagi SKHUN para siswa yang tidak lulus masuk SMP Negeri 1.

(akb/tribun-medan.com)
 

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved