Menikmati Sate Matang Ditemani Lagu Jali-Jali
Menikmati Sate Matang khas Aceh sambil mendengarkan lagu Jali-Jali yang diaransemen ala keroncong membuat panas terik seolah tak terasa.
Laporan Wartawan Tribun Medan / Maulina Siregar
- Misi Mengenalkan Warisan Kuliner Nusantara ala Festival Jajanan Bango
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Menikmati Sate Matang khas Aceh sambil mendengarkan lagu Jali-Jali yang diaransemen ala keroncong membuat panas terik seolah tak terasa. Kelegitan potongan-potongan daging kambing yang dibalur dengan rempah-rempah dipadu dengan kuah kental yang kaya bumbu plus nasi putih hangat langsung mematahkan rasa lapar, Sabtu (7/6/2014) siang.
Untuk dessert, pilihan jatuh pada Es Pisang Ijo khas Makassar. Sensasi dingin, manis dan padat yang dimunculkan dari kolaborasi pisang, sirup dan bahan lainnya memberikan kesegaran tiada tara. Kali ini "soundtrack" yang mengiringi saat menikmati Es Pisang Ijo adalah Besamo Mucho versi keroncong.
Pengalaman menikmati kuliner warisan nusantara, Barat, Tengah hingga Timur, benar-benar diterjemahkan secara baik dalam Festival Jajanan Bango Eskpedisi Warisan Kuliner Nusantara, Sabtu (7/6) di Lapangan Benteng. Bukan sekadar sajian fisik saja yang mewakili Barat hingga Tiumur. Memastikan pengunjung "semakin meningkat nafsu makan"nya, ada lagu-lagu Barat hingga Timur juga yang menemani.
Begitu juga tampilan tenant-tenant kulinernya, seperti saung-saung khas Jawa memaksimalkan represntasi Warisan Nusantara. Tak perlu ragu dengan kebersihan, sebab pihak panitia juga menyediakan tempat kran cuci tangan hingga toilet.Tak heran, siang, sore, hingga menjelang malam, pengunjung semakin memadati lokasi Festival Jajanan Bango.
Ada sekitar 30 sajian kuliner yang dihadirkan dalam Festival Jajanan Bango kali ini. Ada sate, martabak, soto, coto, nasi briyani, roti jala, kari, es cendol,pisang ijo dan makanan lain siap untuk dicicipi.Orangtua, remaja, anak-anak tak mau ketinggalan kesempatan menjelajahi sajian kuliner mulai dari jajanan hingga makanan berat dihadirkan.
Mereka yang ingin menikmati weekend, atau mahasiswa yang pulang kuliah, maupun eksekutif muda yang menghabiskan waktu santainya memilih mendatangi Festival Jajanan Bango. Rasa penasaran, keinginan mengenal, mengeksplorasi atau bahkan sekadar selfie, mengabadikan momen telah mencicipi kuliner warisan nusantara, semuanya sah-sah saja di Festival Jajanan Bango.
Mengenalkan keberagaman kuliner, edukasi dan mengajak peran serta aktif masyarakat mendokumentasikan dan mengintegrasikan kuliner warisan nusantara yang menjadi misi Festival Jajanan Bango sepertinya terjawab. Ya, benar dari paduan dari layout tempat, jenis makanan, bahkan lagu-lagu yang dihadirkan membuat Festival Jajanan Bango menjadi ajang yang ditunggu-tunggu.
Benar pulalah pepatah yang menyebutkan "Tak Kenal Maka Tak Sayang". Bagaimana kita mau mengenal, menyayangi, dan mempertahankan kekayaan kuliner kita bila kita tak pernah mengenalnya. Bagaimana mau merawat warisan kuliner nusantara bila seluk beluknya saja tak tahu. Tak mudah memang mengedukasi dan mengajak masyarakat untuk merawat, mempertahankan bahkan mengembang kuliner nusantarta di tengah gempuran cita rasa luar. Indikatornya sederhana, di kota-kota besar kini ramai bermunculan produk-produk restoran ala Korea, Vietnam,hingga Jepang. Jadi, bagaimana nasib kuliner kita?
"Lewat festival jajanan Bango memang misi kita adalah mengenalkan, mengajak peran serta aktif masyarakat, termasuk mendokumentasikan kuliner nusantara. Selain itu, demi memaksimalkan itu semua. kita juga ada tim khusus Tim Ekspedisi Bango. Pecinta kuliner, yang terdiri dari blogger hingga pakar kuline nusantara sedang menjelajahi 105 kota di seluruh Indonesia untuk mengabadikan semua kuliner kita.
Mulai dari asal usul, bahan, hingga cara membuat kuliner khas daerah itu, semuanya akan diabadikan dalam buku, seperti ensiklopedia. termasuk juga dalam bentuk aplikasi mobile," kata Nuning Wahyuningsih, Senior Branch Manager Bango PT. Unilever Indonesia saat menjelaskan konsep dan komitmen Festival Jajanan Bango.
Ari Parikesit, Pakar Kuliner Nusantara yang juga hadir dalam Festival Jajanan Bango ini mengakui banyak kuliner nusantara yang belum tereksposes. Ia berharap adanya Festival Jajanan Bango bisa menjadi momen mengajak masyarakat melestarikan kekayaan kuliner Indonesia. Senada, Titi Kamal, sosok representasi generasi muda pada Festival Jajanan Bango 2014, mengatakan Indonesia menegaskan dirinnya ingin memberikan kontribusi bisa mempopulerkan masakan Indonesia. Termasuk lewat bisnis restoran dan katering yang dimilikinya.
"Saya memiliki kecintaan terhadap ragam kuliner Nusantara. Kelezatan yang sangat khas telah menjadi bagian dari keragaman identitas budaya bangsa kita. Saat memiliki kesempatan untuk berkontribusi lebih saya langsung menekuni. Saya percaya bahwa pelestarian warisan kuliner nusantara sudah seharusnya bagian dari tanggung jawab generasi muda saat ini," ujarnya.
Festival Jajanan Bango memberi kesempatan luas kepada masyarakat untuk memiliki akses mengeksplorasi keberagaman kuliner kita. Kuliner yang kelak, jika tak kita jaga, rawat dan kembangkan, mungkin hanya tinggal nama. Bahkan bisa jadi tak ada jejaknya lagi. Tanggungjawab kita untuk melestarikan warisan kuliner nusantara, agar dapat dirasakan dan dikembangkan oleh generasi kita berikutnya.