Tumino Hadi: Mereka Selalu Kunjungi Masjid Al Munawarah

Masjid Al Munawarah yang ada di lingkungan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dikabarkan merupakan tempat para teroris

Tumino Hadi: Mereka Selalu Kunjungi Masjid Al Munawarah
net
Mesjid Al Munawarah UISU 

Laporan Wartawan Tribun Medan / Abul Muamar

TRIBUN-MEDAN.com, SIANTAR - Masjid Al Munawarah yang ada di lingkungan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU) dikabarkan merupakan tempat para teroris untuk menggelar dakwah. (Baca: Civitas UISU Heran BIN Malah Bocorkan Data Intelejen Negara)

"Mereka selalu mengunjungi Masjid Al-Munawarah dan selalu menghubungi Toni Togar. Selalu mengadakan pengajian, dakwah, dan sebagainya," ujar Brigjen Tumino Hadi Kabinda (Kepala BIN Daerah) Sumatera Utara, saat memberikan materi dalam sosialisasi Inpres Nomor 1 tahun 2014 tentang penanganan gangguan keamanan dalam negeri di Hotel Sapadia Pematangsiantar, Kamis (2/10/2014).

Sementara itu, untuk radikalisme kiri yang berideologi komunisme (Marxisme atau Leninisme), kata Tumino, saat ini muncul Perkumpulan Korban Orde Baru.

"Tap 5 MPR waktu Gus Dur sempat akan dibekukan. Sekarang ada muncul lagi menamakan diri Perkumpulan Korban Orde Baru. Yang golongan C agar direkonsiliasi dan diberikan permintaan maaf. Ada dari mereka sudah duduk di lingkungan DPR RI. Setelah duduk mereka akan merekayasa ide-idenya. Bagaimana cara melawannya? Dengan UU," katanya.

Bagaimana Sumut ke depan?

"Paling banyak masalah tanah di Sumut ini. PTPN II, PTPN III, dan PTPN IV. Sekarang udah dibentuk Komite Relawan Agraria, yang salah satu anggotanya mantan anggota DPRD. Mereka mengklaim tanah ini milik mereka. Padahal ini kan punya Belanda. Kemarin di Bandarbetsy kita adakan teatrikal kebiadaban PKI waktu itu. Kenapa tentara masuk situ? Tentara kan mengamankan aset negara," katanya.

Tumino mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan gerakan kelompok kiri, hingga ke coretan-coretannya.

"Bukan hanya organisasinya yang kita pantau, termasuk coretan-coretan mereka. Kita temukan lambang palu arit di Medan, Tebingtinggi, Tanjungbalai. Benderanya merah. Siapa lagi kalau bukan mereka (komunis)? Beberapa tokohnya adalah  Ribka Tjiptaning, Budiman Sudjatmiko, Mbah Narto, Dr. Asvi Warma Adam dari LIPI," katanya.

"Mereka selalu gagal buat partai. 2009 buat lagi, Papernas (Partai Persatuan Nasional). Tapi gagal lagi. Mereka kemudian bergabung dengan partai lainnya. Yang setuju dengan Tap MPRS No. 25/1966. Tidak boleh dicabut! Kalau ada yang bilang itu rekayasa, jangan percaya. Itu sejarah," ujarnya.

(amr/tribun-medan.com)


Penulis:
Editor: Fahrizal Fahmi Daulay
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved