Movie Review
Pahlawan Itu, di Antara Pahlawan Lain, Setengah Abad Lalu
Dalam Selma, Dr King lebih mengemuka sebagai lelaki "biasa". Pahlawan di antara pahlawan-pahlawan lainnya yang dari beberapa sisi lebih ditonjolkan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
"I believe that unarmed truth and unconditional love will have the final word in reality. That is why right, temporarily defeated, is stronger than evil triumphant."
KALIMAT yang telah menjadi legenda ini, salah satu kata mutiara abad 20, diucapkan Dr Martin Luther King Jr, pahlawan kemanusiaan, saat menerima Nobel Perdamaian di Oslo, Norwegia, pada 10 Desember 1964. Cinta bisa mengalahkan kekerasan.
Tapi dua bulan berselang, di Selma, satu kota kecil di Dallas, Negara Bagian Alabama, ia nyaris tergilas oleh filosofi ini. Kota yang tenang ini bergolak setelah warga kulit hitam berontak terhadap perlakuan-perlakuan rasis yang mereka terima. Dr King datang, berpidato, dan pidato ini makin melecutkan semangat warga untuk mengapungkan protes. Polisi dan tentara menyikapi dengan keras. Tiap unjukrasa berkesudahan dengan bentrok, dan puncaknya, 18 Februari 1965, pemuda 26 tahun bernama Jimmie Lee Jackson, salah seorang pemimpin unjukrasa, dipukuli sampai mati.
Dr King yang berbicara lantang, juga mengalami pemukulan dan pengeroyokan. Ia dijebloskan ke penjara. Dari sini, delapan hari kemudian, kekuatan rakyat bergerak. Ribuan orang (99 persen berkulit hitam) melakukan long march, berjalan kaki dari Selma ke Montgomery, sebagai bentuk protes dan desakan terhadap Presiden Amerika Serikat, Lyndon Baines Johnson, untuk menandatangani Voting Rights Act yang berisi kesetaraan hak-hak sipil.
Perjalanan sejauh 86 kilometer (ditempuh selama empat malam lima hari) inilah yang dipaparkan secara mendetail dalam Selma, film arahan Ava DuVernay. Drama-drama yang mengemuka. Kekerasan-kekerasan fisik. Intimidasi oleh intelejen Amerika Serikat (FBI dan CIA) yang "disponsori" pejabat dan pebisnis kulit putih, termasuk orang-orang di lingkaran dekat petinggi White House.
"There never was a moment in American history more honorable and more inspiring than the pilgrimage of clergymen and laymen of every race and faith pouring into Selma, to face danger at the side of its embattled Negroes," kata King dalam pidatonya di tengah massa, jelang tiba di Montgomery, di hadapan Presiden Johnson.
Pidato kemenangan? Dr. King menyebutnya sebagai "beginilah semestinya manusia hidup". Dunia diciptakan Tuhan untuk merayakan perbedaan. Tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah. Kekerasan yang dialami masyarakat kulit hitam di Selma, juga dalam perjalanan menuju Montgomery, bukan hanya membangkitkan kemarahan masyarakat kulit hitam di seluruh penjuru Amerika, tapi juga masyarakat kulit putih. Penganiayaan demi penganiayaan yang dilakukan oleh tentara dan polisi, yang ditayangkan di televisi, dikecam. Pemerintah Amerika juga mendapatkan tekanan dari negara-negara lain. Johnson menyerah. Ia datang ke Montgomery dan menandatangani Voting Rights Act. Warga kulit hitam di Alabama mendapatkan hak-haknya untuk memilih. Pertama kali sejak 103 tahun.

David Oyelowo memerankan Dr Martin Luther King, Jr

Dr Martin Luther King, Jr saat berpidato di Montgomery.
Selma merupakan film layar lebar (dan "komersil") pertama yang dibuat berdasarkan kisah hidup Dr Martin Luther King. Satu film lain, Boycott (2001), merupakan film televisi -referensi bagi beberapa bagian dari Selma. Sedangkan enam film lain adalah dokumenter.
Namun dibanding Boycott dan dokumenter-dokumenter di mana Dr King hadir sebagai pahlawan yang serba gagah, pusat pusaran dari perjuangan hak azasi manusia, dalam Selma ia lebih mengemuka sebagai lelaki "biasa". Pahlawan di antara pahlawan-pahlawan lainnya yang dari beberapa sisi lebih ditonjolkan -mereka yang bertarung dengan polisi dan tentara, terkapar, berdarah-darah, mati. Dr King adalah pahlawan dalam rupa yang manusiawi. Pahlawan yang takut dan bimbang setelah menggelontorkan pidato menggelegar. Dalam satu scene, Dr King digambarkan duduk sendirian di kamar hotel, menegak Scotts, dan matanya berkaca-kaca, teringat pada ancaman pembunuhan yang diterima istri dan anak-anaknya.
Dr Martin Luther King (1929-1968), dihidupkan kembali oleh David Oyelowo, aktor Inggris. begitu menjiwai peran ini, dan di beberapa bagian, pencapaiannya selevel dengan apa yang sudah dilakukan Daniel Day-Lewis dalam perannya sebagai Abraham Lincoln (Lincoln, 2012).
Selma memperoleh total empat nominasi penghargaan pada Golden Globe 2015, termasuk Best Motion Picture, Best Director untuk Ava DuVernay, dan Best Actors untuk Oyelowo. Ia diprediksi bersaing ketat dengan dua film cantik lain yang merupakan produksi-produksi terbaik sepanjang tahun 2014, Boyhood, satu drama psikologis tentang pergulatan batin seorang bocah 6 tahun (hingga berusia 18) yang tumbuh di tengah keluarga berantakan, serta The Theory of Everything, sisi lain, sisi cinta, dari seorang ilmuwan paling cemerlang yang dilahirkan setelah era Einstein, sang pencetus teori Mekanika Kuantum, Steven Hawking.@aguskhaidir