Real Madrid vs Atletico Madrid

Ketika Lawan Tak Ingin Menang

Don Carlo tak asing terhadap siasat Simeone. Kekalahan di putaran pertama Copa Del Rey, serta pada pekan pertama La Liga 2015, kiranya jadi pelajaran.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir

SEPAKBOLA hanya akan jadi menarik apabila dalam pertandingan, dua tim yang berhadapan sama-sama memiliki keinginan untuk menang. Bagaimana jika sebaliknya? Tentu saja konyol tak terperikan. Ini pernah (atau malah sering?) terjadi di Indonesia. Paling anyar melibatkan PSS Sleman dan PSIS Semarang. Ada lima gol tercipta melalui mekanisme "bunuh diri". Yang seperti ini disebut sepakbola gajah, sepakbola yang dilakoni berdasarkan skenario.

Bagaimana kalau hanya satu yang tak ingin menang? Laga bakal berjalan berat sebelah, tapi tak mengurangi level keseruannya. Sebab tak ingin menang juga membutuhkan kecakapan- kecakapan tertentu. Siasat yang jitu dan kesiapan fisik serta mental yang maksimal. Tidak jarang, di akhir laga, tim yang tidak ingin menang justru keluar sebagai pemenang.

"We have to play strongest side. we're going to try to turn the tie around and do everything we can to reach the quarter-finals," kata Carlo Ancelotti, pada majalah FourFourTwo, Rabu pagi, 14 Januari 2015. Dinihari nanti, Real Madrid yang ia besut akan menjamu Atletico Madrid di Santiago Bernabeau pada laga putaran kedua perdelapan final Copa Del Rey. Di putaran pertama, Los Blancos digilas 2-0.

Atletico di atas angin dan inilah yang menguatkan dugaan mereka datang dengan membawa misi "tidak ingin menang". Bahkan kalah dengan skor 0-1 saja mereka tetap bisa melenggang ke fase delapan besar.

Bukankah ini justru membahayakan? Tak ingin menang berarti bertahan, dan bertahan, dalam pengertian 'total', menghadapi klub seperti Real Madrid, sama saja dengan bunuh diri. Kesimpulan ini tidak keliru. Sepanjang pelakunya bukan Atletico Madrid. Klub ini justru semakin berbahaya ketika mereka berkonsentrasi menggalang pertahanan.

Tidak percaya? Layangkanlah ingatan ke musim lalu. Camp Nou, 17 Mei 2014. Atletico tidak memburu kemenangan. Cukup imbang untuk meraih gelar La Liga untuk kali ke 10. Dan mereka mendapatkan hasil itu. Dalam situasi 90 persen bertahan, membiarkan Barcelona menguasai bola nyaris 70 persen, Los Rojiblancos, melalui Diego Godin, membalas gol Alexis Sanchez.

Kurang tiga pekan sebelumnya, di Stamford Bridge, mereka melakukan hal serupa. Semifinal Champions League. Sejak awal laga, offensivitas diterapkan Chelsea. Tapi alih-alih hendak meringsek banyak gol, justru gawang mereka yang dibikin hubar-habir. Laga berkesudahan dengan skor 1-3 dan Atletico melangkah ke final untuk pertama kalinya sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di pentas Eropa.

Dinihari ini situasinya kurang lebih sama. Madrid butuh kemenangan untuk lolos. Atletico tidak. Madrid bakal melepaskan amunisi-amunusi dahsyat sejak pluit kickoff. Atletico akan menghempangnya dengan benteng dan tameng.

"Kami akan menurunkan skuat terbaik untuk melawan Atleti. Tapi itu saja tak cukup. Kami perlu menumpahkan seluruh kemampuan," sebut Ancelotti.

Don Carlo sudah hafal benar taktik Diego Simeone. Seperti Jose Mourinho, lelaki Argentina ini sangat pragmatis. Ia bisa menerapkan skema permainan terbuka, offensif, bahkan super offensif di satu laga, namun berbalik 180 derajat di pertandingan lain. Ia tidak pernah segan-segan  memarkir bus di depan gawang. Sebab tujuan puncak dari satu pertandingan, menurutnya, adalah kemenangan. Jika kemenangan tidak bisa diraih lewat permainan cantik, lakukanlah dengan cara sebaliknya. Sebab cantik atau buruk, sama-sama bernilai tiga.

Tapi sekali lagi, Don Carlo tak asing terhadap siasat-siasat El Cholo -julukan Simeone. Kekalahan di putaran pertama Copa Del Rey, serta pada pekan pertama La Liga 2015, kiranya bisa jadi pelajaran berharga. Bagaimana Real Madrid bisa merespon serangan balik Atletico. Juga bagaimana mereka mampu mengantisipasi kemelut yang tercipta dari eksekusi bola mati, plus tentu saja, bagaimana meredam emosi.

Simeone secara sempurna telah menurunkan ilmu yang membuatnya jadi salah satu pemain paling dibenci di Italia dan Inggris. Yakni kemampuan untuk meledakkan emosi lawan lantas berpura-pura menjadi korban.

Pesakitan paling anyar atas siasat ini adalah Sergio Ramos. Gangguan Raul Garcia membuatnya, entah sadar entah tidak, menarik kaus wakil kapten Atletico tersebut. Padahal bola tendangan pojok bahkan belum dilambungkan. Celaka bagi Ramos, juga bagi Madrid, saat kekonyolan terjadi, wasit berdiri tak jauh dan tak ayal langsung menunjuk titik putih.

Ramos protes, menganggap insiden antara dirinya dan Garcia adalah persinggungan yang sangat biasa dalam kemelut jelang eksekusi bola mati. Hemat Ramos, meskipun Garcia terkapar di tanah layaknya kena Ouchi Gari (teknik bantingan dalam Judo), itu bukan pelanggaran. Garcia cuma melebih-lebihkan jatuhnya. Tapi begitulah. Keputusan wasit, tentu saja, tidak dapat diganggu gugat.

Pertanyaan akhirnya adalah, dengan situasi ini, apakah Real Madrid berada dalam kesulitan besar? Cristiano Ronaldo, yang baru saja meraih gelar sebagai pemain terbaik dunia untuk kali ketiga, menyebut mereka terdesak, posisi yang tidak menguntungkan, namun bukan mustahil untuk membalikkan arah angin, dan menang. "Kami punya kesempatan itu. Kami akan bermain dengan kekuatan penuh, di Bernabeau," ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved