Barcelona vs Real Madrid

Siapa Tertawa Paling Akhir

Ronaldo, menurut Ramos, adalah pemain yang selalu ingin menempatkan diri dalam situasi persaingan ketat. Dan sekarang, dia tertinggal dari Lionel.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
INTERNET

SATU ungkapan yang paling disenangi bangsa barat adalah who gets the last laught. Siapa yang tertawa paling akhir.
Hal terkaitpaut keoptimistisan yang kemudian direpresentasikan, nyaris secara telanjang, dalam berbagai film produksi mereka, terutama Hollywood. Bandit menang duluan, "anak muda" tertawa belakangan. Situasi paling njelimet sekalipun bisa disulap ke arah yang menyenangkan, happy ending.

Ungkapan ini pulalah yang dua hari terakhir berseliweran di media sosial. Dipicu oleh pernyataan tukang gedor Real Madrid di era 1980-1990 an, Hugo Sanchez. Menurutnya, meski sekarang kupak-kapik, El Clasico yang digelar di Camp Nou, Senin (23/3) dinihari WIB, akan dimenangkan oleh Madrid.

"It's a pivotal game. The clashes between Real Madrid and Barça are some of the most special matches in football. Clasico's are always a bit like flipping a coin, although it will definitely be an intense game," katanya pada Marca yang dikutip Tribalfootball.
"And Real will win 2-0 or 2-1," sebutnya.

Dengan melontarkan kalimat ini, Sanchez seolah-olah hendak menafikan berbagai persoalan yang sedang mendera Los Blancos. Padahal persoalan-persoalan ini pelik betul, di antaranya, perpecahan antara tiga pemain utama mereka di lini depan. Terutama antara Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale.

Sejak awal kedatangannya ke Santiago Bernabeau, sebenarnya sudah muncul semacam keragu- raguan bahwa Bale tidak akan "mengusik" hegemoni Ronaldo. Rekrutmen terbesar, gaji yang juga tinggi, plus kemampuan teknis serta fisik yang mumpuni. Bale (dianggap) setara Ronaldo, dan ini berbahaya, sebab dalam satu panggung tidak boleh ada dua bintang yang sama terang.
Hanya satu bintang. Sedangkan bintang-bintang lain, menerangi di sekelilingnya, hingga membuat bintang utama jadi semakin terang. Kecenderungan yang selalu terjadi di Camp Nou, semenjak Lionel Messi dilepas dari La Masia.

Bale berhasil menempatkan diri sebagai "penerang" bagi Ronaldo di musim pertamanya. Namun di musim keduanya, Bale, sedikit banyak barangkali agak "lepas kendali". Ia mulai menunjukkan gaya bermain yang pernah menjadikannya fenomenal di Tottenham Hotspur. Dibanding di musim pertamanya, menit Bale saat bermain bola jauh lebih lama. Persentase assist-nya menurun, dan ia lebih sering melepaskan tembakan ke gawang. Bahkan di saat Ronaldo mendapatkan ruang kosong dan telah berteriak-teriak meminta bola.

Memang, Ronaldo tidak pernah mengungkapkan secara eksplisit perihal ketidaksenangannya atas perubahan gaya bermain Bale.
Namun gestur tubuh tidak dapat dibohongi. Hubungan Ronaldo-Bale memburuk, berubah dingin, dan mencapai puncak pada laga kontra Levante.

Saat Bale mencetak gol pertama, Ronaldo tidak ikut merayakan. Ia malah memukulkan tangan ke udara, dan berteriak. Air mukanya menunjukkan kekesalan.

Kenapa? Sebelum gol itu terjadi, Ronaldo melakukan upaya keras. Ia menerobos pertahanan Levante, membuka ruang memecah rantai pertahanan lawan, lantas melakukan eksekusi dengan tendangan gunting yang cantik. Bola sudah jauh dari jangkauan kiper. Tapi bola batal masuk karena seorang bek Levante, yang berdiri tepat di garis gawang, masih bisa menghalau bola. Karim Benzema mengejar dan berduel memperebutkan bola, yang kemudian melesat ke kaki Bale yang langsung menghantamnya tanpa ampun.

Bola masuk dan Bale segera lari ke sudut lapangan. Pemain-pemain Madrid memburu Bale, ikut merayakan gol itu. Kecuali Ronaldo, yang dengan wajah datar berjalan ke tengah lapangan.

Gol kedua Bale memperuncing ketegangan. Bola yang dicocor Ronaldo masuk ke gawang. Ronaldo telah telanjur merayakannya. Namun tayangan ulang jelas menunjukkan bahwa bola yang meluncur deras setelah dihajar Ronaldo menyentuh kaki Bale dan berbelok. Sekiranya bola mulus tanpa ada bantuan dari kaki Bale, setidaknya jika mengacu pada arah bola, besar kemungkinan gol tidak tercipta. Secara teknis, gol ini memang milik Bale.

Usai laga, baik Ronaldo maupun Bale, bungkam. Keduanya tidak bicara pada media. Carlo Ancelotti juga mengelak untuk membicarakan hal itu. Sedikit informasi datang dari Sergio Ramos.

"He's used to scoring 60 goals a year and when he gets 40 he's not happy," kata Ramos dalam wawancara dengan BBC Sports.

Perpecahan? Tidak, imbuh Ramos cepat. Ronaldo, menurutnya, adalah pemain yang selalu ingin menempatkan diri dalam situasi persaingan serba ketat. Dan sekarang, dia tertinggal dari Lionel Messi.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved