Nostalgia PRSU dan Potensinya
Honey Money Medan Fair
Kesan bahwa ajang ini tidak dirancang oleh tangan tangan kreatif dan profesional, memang terasa benar. Stan demi stan dibangun dengan selera masa lalu
Mereka memotret para seniman berbalas pantun dan melantunkan dendang melayu, juga tari tarian dari tanah Batak, Mandailing, Karo, dan lain sebagainya. Dan mereka jatuh kian jauh ke dalam pesona karena pada gelaran ini juga terdapat pertunjukan seni lintas budaya semacam Kuda Lumping, Ludruk, dan Ketoprak.
Turis-turis ini bercampurbaur dengan para pengunjung lokal. Mereka datang berbondong untuk menyaksikan hal hal yang menarik dan konkret, yang ditampilkan bukan sekadar sebagai hiburan tempelan.
Tahun ini, PRSU kembali digelar. Dan apa yang bisa dilihat di sana nyaris persis dengan yang diketengahkan pada tahun-tahun penyelenggaraan sebelumnya, yakni karnaval informasi serba terbatas dan data-data pencapaian keberhasilan pembangunan. Hal yang bagi sebagian besar rakyat Sumut barangkali terasa semu.
Bahkan jika ada yang teliti mengingat, beberapa stan juga menempati lokasi yang sama, dengan dekorasi dan isi yang hampir 100 persen serupa dan seragam. Di tiap stan, tiap paviliun, pasti ada brosur wisata daerah dan hasil kerajinan tangan, dalam bentuk tenun, tas, sepatu, atau keranjang. Tentu saja ada keripik dan dodol.

Ada sejumlah stan yang sebenarnya coba tampil beda. Misalnya dengan mengetengahkan pertunjukan-pertunjukan kesenian. Tari-tarian, drama, dan semacamnya. Mereka mencoba memberikan informasi lewat cara yang tidak formil.
Patut diapresiasi, akan tetapi secara umum, garapan pertunjukan ini masih jauh dari kata maksimal. Untuk tidak menyebutnya “terlalu biasa” bagi kelas pameran terbesar di tingkat regional. Sekadar tempelan, bukan andalan utama. Ditampilkan saat pembukaan, di hadapan bupati atau wali kota daerah terkait.
Kesan bahwa ajang ini tidak dirancang oleh tangan tangan kreatif dan profesional, memang terasa benar. Stan demi stan, paviliun demi paviliun, dibangun dan ditata dengan selera masa lalu. Dan berada di sana, membuat saya merasa seperti terjebak di pusaran mesin waktu dan kemudian terlempar ke tahun 1980an. Bedanya, sekarang tidak ada lagi potret bapak pembangunan dan ibu negara kita yang legendaris.

Apakah daerah ini kekurangan orang-orang kreatif? Saya kira tidak. Tengoklah, di luar acara pemerintah, begitu banyak acara menarik digelar. Tidak cuma di Medan. Di berbagai daerah, bahkan di kota-kota kecil, berbagai acara yang memiliki nafas modern dan mengikuti perkembangan zaman, namun tetap kental unsur edukatifnya, digelar dan mampu menarik banyak pengunjung.
Kenapa pemerintah daerah tidak sesekali mencoba menggandeng mereka? Saya percaya, di tangan orang-orang yang lebih kreatif, PRSU yang pada dasarnya sudah memiliki modal bagus ini, akan jadi semakin bagus. Tapi kenapa tetap bertahan dengan cara pandang dan pola pikir birokrasi yang serba kuno?
Begitulah, secara umum, ajang ini boleh dikata berjalan serba datar dan hambar, dan untuk itu semua, tiap-tiap pengunjung dibebankan retribusi. Karcis masuk sebesar Rp 20 ribu per kepala dan retribusi parkir yang besarannya seringkali tak terduga duga pula. Tergantung pada “cuaca” dan “suasana hati” pengutipnya. Alhasil, nyaris kerap terjadi pertengkaran, dan bahkan perkelahian. Sangat tak nyaman.
Apakah betul betul tak ada yang baru dan menarik dari PRSU 2015? Apakah tidak ada terobosan? Bagi saya, maaf, memang tidak ada. Entah bagi Anda. Seorang kawan saya bilang, ada stan yang memajang batu batu akik. Ada Kecubung, ada Biduri, ada Suliki, Sungai Dareh, ada Bacan juga. Seluruhnya bersertifikat.
“Bagus bagus. Tapi tinggi harganya. Hampir dua kali lipat dari pasaran. Mungkin karena kena pajak. Mending beli di luar,” katanya, lalu tertawa berderai.
Saya tanya padanya, apakah dia datang ke PRSU untuk melihat pameran batu akik. Dia menggeleng. Tidak sengaja lihat, katanya. Lalu?
“Aku mau nonton Lina Geboy,” ucapnya, lagi lagi diikuti tawa, sebelum kemudian melantunkan sepotong dangdut dari penyanyi pendatang baru itu.
Jarang pulang, abang jarang pulang...
Alahai!
@etiwahyuni
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/prsu-biasa-aja_20150415_203327.jpg)