Berapa Jumlah Rakaat Salat Tarawih 11 atau 23?

Ada yang mengerjakan salat tarawih sebanyak 11 rakaat sama witir dan 23 rakaat plus witir. Yang manakah yang benar sesuai dengan yang dikerjakan nabi

Tayang:
TRIBUN MEDAN / DEDY KURNIAWAN
Suasana Salat Tarawih di Mesjid Raya Al-Mashun Medan, Rabu (17/6/2015) 

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

TRIBUN-MEDAN.com - Salat Tarawih yang hanya dilakukan di Bulan Suci Ramadan ternyata mempunyai banyak persepsi perbedaan dalam pelaksanaannya. Namun, perbedaan itu tidak menjadi konflik yang harus dipertentangkan.

Salat yang yang biasa dilakukan 29 atau 30 hari dalam setahun ini banyak dikerjakan umat muslim selama bulan ramadan tiba. Namun, ada yang mengerjakan salat tarawih sebanyak 11 rakaat sama witir dan 23 rakaat plus witir. Yang manakah yang benar sesuai dengan yang dikerjakan nabi Muhammad SAW waktu itu?

Jumlah rakaat salat tarawih yang dianjurkan adalah 11 rakaat. Inilah yang dipilih Nabi Muhammad SAW yang juga terdapat di riwayat Ibnu Abbas. Beliau berkata "Salat nabi shallallahu 'alalihi wa sallam di malam hari adalah 13 rakaat" (HR. Bukhari No 1138 dan Muslim No 764).

Sebahagian ulama mengatakan bahwa salat malam yang dilakukan nabi adalah 11 rakaat. Adapun dua rakaat lainnya dikerjakan nabi sebagai pembuka pelaksanaan salat malam sebagaimana pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari. Di antara dalilnya adalah ‘Aisyah mengatakan,

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam jika hendak melaksanakan salat malam, beliau buka terlebih dahulu dengan melaksanakan salat dua rak’at yang ringan.”

Dari sini menunjukkan bahwa disunnahkan sebelum salat malam, dibuka dengan 2 raka’at ringan terlebih dahulu.

Bolehkah Menambah Raka’at Shalat Tarawih Lebih dari 11 Raka’at?

Mayoritas ulama terdahulu dan ulama belakangan, mengatakan bahwa boleh menambah raka’at dari yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ibnu ‘Abdil Barr mengatakan, sesungguhnya salat malam tidak memiliki batasan jumlah raka’at tertentu. Salat malam adalah salat nafilah (yang dianjurkan), termasuk amalan dan perbuatan baik. Siapa saja boleh mengerjakan sedikit raka’at. Siapa yang mau juga boleh mengerjakan banyak.”

Oleh karena itu, para ulama ada yang melakukan salat malam hanya dengan 11 raka’at namun dengan raka’at yang panjang. Ada pula yang melakukannya dengan 20 raka’at atau 36 raka’at. Ada pula yang kurang atau lebih dari itu. Mereka di sini bukan bermaksud menyelisihi ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun yang mereka inginkan adalah mengikuti maksud Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu dengan mengerjakan shalat malam dengan thulul qunut (berdiri yang lama).

Sampai-sampai sebagian ulama memiliki perkataan yang bagus, “Barangsiapa yang ingin memperlama berdiri dan membaca surat dalam salat malam, maka ia boleh mengerjakannya dengan raka’at yang sedikit. Namun jika ia ingin tidak terlalu berdiri dan membaca surat, hendaklah ia menambah raka’atnya.”

Mengapa ulama ini bisa mengatakan demikian? Karena yang jadi patokan adalah lama berdiri di hadapan Allah ketika salat malam.

(akb/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Tags
Ramadan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved