Jalan Berliku Menuju Air Terjun Sampuren Putih

Terjunan airnya membentuk buih berwarna putih. Konon, itu alasan air terjun di Sibolangit ini disebut Sampuren Putih.

Tayang:
Tribun Medan/Silfa Humairah
Air Terjun Sampur Putih 

Laporan wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah

TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN-Bagi petualang, menikmati proses perjalanan adalah bagian dari berwisata. Hal itu pula yang menarik para traveler untuk menjambangi Air Terjun Sampuren Putih di Pelosok Desa Cinta Rakyat, Basukum, Kecamatan Sibolangit, Kabupaten Deli Serdang.

Sampuren Putih hanya memiliki ketinggian sekitar tiga meter, tapi bukan itu daya tariknya, melainkan keperawanan air terjun tersebut yang berada di tengah hutan dan jauh dari pemukiman.

Hutan tersebut berada di sebuah desa yang hanya memiliki tiga kepala keluarga. Untuk menuju ke sana, traveler harus melewati jalan batu balok, bebatuan, hingga tanah.

Sesampainya di desa, traveler bisa menitipkan sepeda motor di rumah warga, dan berjalan sekitar 300 m ke dalam hutan.

Di sana, wisatawan akan melewati pepohonan tinggi besar, semak-semak hingga sedikit tanjakan dengan jurang di bawahnya.

Tapi tenang, di sana banyak akar yang bisa menjadi pegangan, dan penunjuk menuju Sampuren Putih untuk memudahkan traveler sampai di sana.

Sesampainya di sana, traveler jangan melihat terlalu tinggi, atau membayangkan air terjun yang sangat tinggi seperti air terjun pada umumnya yang ada di Sumatera Utara.

Sampuran Putih hanya memiliki tinggi tiga meter, dan luas sungai yang kecil. Layaknya kolam, kisarannya hanya sekitar 15x15 meter.

Traveler akan melihat bentuk pusaran, yang mengalirkan air ke sungai yang tampak bewarna hijau.

Air terjun ini memiliki tujuh tingkatan dimana hanya satu tingkatan saja yang dapat terlihat. Sisanya tertutup oleh bebatuan.

Ahuk, traveler yang kerap membawa wisatawan ke kawasan tersebut, menuturkan tinggi air terjun ini secara keseluruhan mencapai 150 meter.

"Airnya melewati tebing yang curam dan berkelok membentuk aliran sungai yang banyak mengandung belerang. Pada tingkatan yang terakhir, sebelum jatuh ke tanah, air terjun ini seperti keluar dari mulut goa," katanya.

Menurutnya saat jatuh, terjunan airnya membentuk buih berwarna putih. Konon, itu alasan air terjun ini disebut Sampuran Putih.

Ia menambahkan, banyak wisatawan yang tantangan memilih lokasi ini karena lokasi dan jalur perjalanan ke air terjun ini masih sangat asri dan sejuk, serta hutannya yang masih terjaga dan tidak ada hewan liar.

"Airnya jernih dan bersih, namun tidak terlalu dingin karena sedikit bercampur dengan mata air panas di tingkatan atasnya," katanya.

Selain itu, Hendri, penduduk, menuturkan traveler tidak boleh anggap sepele Air Terjun Sampuran Putih dan lompat sesuka hati dari tebing atau dari mulut goa tempat air mengalir.

"Pasalnya belum ada yang bisa mengukur pasti dalamnya air di bawah air terjun tersebut. Ada yang bilang 12 meter dan ada yang mengira bahkan lebih. Tapi yang pasti sudah ada korban meninggal. Walaupun mahir berenang, ia tidak akan bisa menahan tarikan dari dalam air yang berbentuk lubang yang dalam," katanya.

Menurutnya, pasca kejadian tersebut warga membuat himbauan tulisan untuk tidak melompat dari tebing atau goa ke pusaran tempat air mengalir.

"Tapi kalau melompat ke arah aliran yang tenang tidak apa, bagi yang bisa berenang kedalaman air tenang atau air yang jauh dari aliran air tejun hanya sekitar lima meter," katanya. (sil/tribun-medan.com)

Sumber: Tribun Medan
Tags
traveler
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved